Mewaspadai 7 Jenis Glaukoma yang Mungkin Terjadi

    Mewaspadai 7 Jenis Glaukoma yang Mungkin Terjadi

    Glaukoma adalah penyakit yang dapat merusak saraf-saraf pada mata. Penyakit ini biasanya terjadi karena adanya penumpukan cairan pada mata, sehingga menyebabkan tekanan mata meningkat dan berdampak pada kerusakan saraf mata. Penyebab meningkatkan tekanan pada mata ini pun beragam, sehingga glaukoma dapat dibagi menjadi berbagai jenis. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi penyakit glaukoma, simak terus ulasannya di bawah ini.

    Apa saja klasifikasi dan jenis penyakit glaukoma?

    Apabila ditelusuri dari penyebab glaukoma itu sendiri, penyakit ini dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu glaukoma primer dan sekunder. Glaukoma primer adalah jenis penyakit yang tidak diketahui apa penyebab pastinya, sedangkan tipe sekunder biasanya dipicu oleh penyakit atau kondisi kesehatan lain.

    Dari klasifikasi tersebut, glaukoma masih bisa digolongkan lagi menjadi berbagai klasifikasi dan jenis. Masing-masing memiliki gejala dan penyebab yang bervariasi. Untuk tahu apa saja jenis glaukoma yang ada, berikut penjelasannya:

    1. Glaukoma sudut terbuka

    Glaukoma sudut terbuka, atau glaukoma sudut terbuka primer, adalah jenis yang paling umum ditemukan. Menurut sebuah artikel dari British Journal of Ophthalmology tahun 2010, diperkirakan terdapat 44,7 juta orang di dunia yang mengidap glaukoma sudut terbuka, dan 4,5 juta di antaranya mengalami kebutaan.

    Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui apa penyebab meningkatnya tekanan di mata pada kasus glaukoma sudut terbuka. Maka itu, glaukoma jenis sudut terbuka tergolong dalam klasifikasi primer.

    Pada glaukoma sudut terbuka, sudut pada mata di mana iris (bagian lingkaran mata yang berwarna) bertemu dengan kornea terbuka dengan lebar seperti kondisi normal. Akan tetapi, saluran pembuangan cairan mata tersumbat seiring berjalannya waktu. Akibatnya, cairan jadi menumpuk di bagian dalam mata dan menyebabkan tekanan bola mata tinggi.

    Kebanyakan pengidap glaukoma sudut terbuka tidak merasakan tanda-tanda dan gejala yang berarti, sehingga terkadang mereka tidak sadar bahwa mereka kena glaukoma. Itu sebabnya, sangat penting untuk memeriksakan kesehatan mata secara rutin guna mencegah kerusakan mata yang lebih parah akibat penyakit ini.

    2. Glaukoma sudut tertutup

    Glaukoma sudut tertutup adalah salah satu jenis glaukoma di mana iris mata menonjol keluar, sehingga menyebabkan penyumbatan pada sudut antara iris dan kornea. Akibatnya, cairan mata tidak dapat terbuang ke drainase (tempat pembuangan cairan pada mata) dengan baik dan meningkatkan tekanan pada mata.

    Glaukoma sudut tertutup dapat terjadi secara mendadak dan sesaat (akut), atau berlangsung dalam jangka panjang (kronis). Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala-gejala sakit mata parah, mual, mata merah, dan penglihatan buram.

    Perbedaan dari glaukoma sudut terbuka dan tertutup adalah kondisi sudut pertemuan iris dan kornea pada mata. Namun, baik glaukoma sudut terbuka maupun tertutup sama-sama memiliki risiko kebutaan jika tidak ditangani dengan baik.

    3. Glaukoma kongenital

    Beberapa orang hidup dengan glaukoma sejak lahir. Bayi yang telah mengalami glaukoma sejak lahir dapat disebut mengidap glaukoma kongenital. Diperkirakan sebanyak 1 dari 10.000 bayi yang baru lahir memiliki kecacatan pada matanya, sehingga cairan mata tidak dapat terbuang dengan baik dan tekanan pada mata bertambah.

    Pada kasus glaukoma kongenital, Anda biasanya dapat segera mengetahui tanda-tanda dan gejalanya, terutama jika terjadi pada anak-anak. Beberapa gejala katarak kongenital pada anak, antara lain:

    • Terdapat bercak noda keruh di mata
    • Mata lebih sensitif terhadap cahaya
    • Mata lebih mudah berair
    • Mata terlihat lebih besar dari ukuran normal

    Selain glaukoma kongenital, terdapat klasifikasi glaukoma lainnya yang bisa diidap oleh bayi dan anak-anak. Jenis glaukoma apa pun yang ditemukan pada bayi dan anak-anak disebut dengan glaukoma pediatrik.

    4. Glaukoma tekanan normal

    Sampai di sini, Anda mungkin mengira bahwa glaukoma hanya dapat terjadi jika tekanan di bola mata meningkat. Ternyata, mata dengan tekanan yang normal pun dapat mengalami masalah ini. Kondisi ini disebut dengan glaukoma tekanan normal.

    Glaukoma tekanan normal (normal tension glaucoma) terjadi ketika saraf optik rusak meskipun tekanan pada mata masih dalam kisaran normal.

    Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab jenis glaukoma tekanan normal. Bisa jadi karena saraf optik pada mata terlalu sensitif atau rapuh, sehingga bahkan tekanan normal saja bisa merusak. Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh kurangnya pasokan darah ke saraf optik.

    Pada tahap awal, Anda mungkin tidak akan merasakan gangguan apa-apa. Namun, lambat laun Anda mungkin akan mengalami gejala kehilangan penglihatan sebagian, yang berpotensi mengarah ke kebutaan total jika tidak segera ditangani oleh dokter dan tim medis.

    5. Glaukoma neovaskular

    Klasifikasi glaukoma selanjutnya disebut dengan jenis neovaskular. Glaukoma neovaskular terjadi ketika mata memiliki pembuluh darah berlebih. Pembuluh darah tersebut bisa menutupi bagian mata yang seharusnya mengalirkan cairan mata ke drainase. Akibatnya, tekanan pada mata pun meningkat.

    Gejala yang ditimbulkan serupa dengan glaukoma jenis lainnya, seperti sakit mata, penglihatan kabur, dan mata merah. Glaukoma neovaskular biasanya disebabkan oleh penyakit lain yang sudah ada sebelumnya, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) atau diabetes.

    6. Glaukoma pigmentasi

    Glaukoma jenis ini terjadi ketika pigmen atau warna pada iris mata Anda pecah dan lepas dari iris. Pigmen yang terlepas dari iris bisa menutupi saluran cairan mata, sehingga tekanan pada mata pun menjadi tinggi.

    Orang-orang yang memiliki mata rabun jauh lebih berisiko mengalami glaukoma pigmentasi. Gejala yang dapat timbul berupa penglihatan buram, atau melihat cincin berwarna menyerupai pelangi, terutama ketika Anda melihat cahaya secara langsung.

    7. Glaukoma uveitis

    Seperti namanya, glaukoma uveitis biasanya terjadi pada orang yang mengidap uveitis, salah satu jenis peradangan yang terjadi di mata. Sekitar 2 dari 10 orang dengan uveitis dapat mengalami glaukoma jenis ini.

    Para ahli belum tahu secara pasti bagaimana uveitis bisa menyebabkan glaukoma. Namun, diduga glaukoma timbul akibat peradangan jaringan di bagian tengah mata. Akibatnya, bagian mata yang seharusnya menjadi tempat cairan terbuang mengalami penyumbatan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat diperburuk akibat konsumsi obat kortikosteroid.

    Pengobatan glaukoma akan bergantung pada keparahan penyakit yang diidap pasien. Sebagian besar kasus glaukoma, apa pun klasifikasi penyakitnya, biasanya dapat ditangani dengan obat-obatan, laser, dan prosedur operasi seperti trabekulektomi.

    Untuk menjaga kesehatan mata dalam jangka panjang sebagai bentuk pencegahan glaukoma, pastikan Anda rutin menjalani pemeriksaan mata. Dengan demikian, peluang Anda untuk mengalami masalah pada mata dapat diminimalisir.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Types of Glaucoma – National Eye Institute. (2019). Retrieved August 27, 2020, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/glaucoma/types-glaucoma

    Boyd, K. (2019). What Is Glaucoma? – American Academy of Ophthalmology. Retrieved August 27, 2020, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-glaucoma

    Symptoms of Open-Angle Glaucoma – Glaucoma Research Foundation. (2019). Retrieved August 27, 2020, from https://www.glaucoma.org/glaucoma/symptoms-of-primary-open-angle-glaucoma.php#:~:text=Optic%20Nerve%20Damage,damage%20to%20the%20optic%20nerve.

    Glaucoma – Mayo Clinic. (2018). Retrieved August 27, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glaucoma/symptoms-causes/syc-20372839#:~:text=Angle%2Dclosure%20glaucoma%2C%20also%20called,the%20eye%20and%20pressure%20increases.

    Quigley, H. (2006). The number of people with glaucoma worldwide in 2010 and 2020. British Journal Of Ophthalmology, 90(3), 262-267. http://dx.doi.org/10.1136/bjo.2005.081224

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi Diperbarui Dec 03, 2020
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.