home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Penyandang Diabetes Boleh Puasa Ramadhan?

Apakah Penyandang Diabetes Boleh Puasa Ramadhan?

Penyandang diabetes melitus (DM) atau diabetes harus berhati-hati dalam mengatur pola makan sehari-hari dan gaya hidup sehat untuk menjaga kestabilan penyakitnya. Jika penyandang diabetes hendak puasa di bulan Ramadhan, ia harus mempertimbangkan kondisi kesehatan, pengaturan pola makan, dan perubahan jadwal minum obat.

Berikut kriteria penyandang diabetes yang boleh berpuasa beserta beberapa tipsnya.

3 kriteria risiko berpuasa bagi penyandang diabetes

Tidak semua penyandang diabetes diperbolehkan untuk melakukan puasa Ramadhan. Untuk menentukan boleh tidaknya berpuasa, kita harus terlebih dahulu melakukan penilaian tingkat risiko pada pasien tersebut.

Assessment risiko pada penyandang diabetes dibagi menjadi tiga, yakni pasien yang berisiko tinggi untuk berpuasa, pasien yang berisiko sedang untuk berpuasa, dan pasien yang berisiko ringan untuk berpuasa.

1. Pasien risiko tinggi untuk berpuasa

Penyandang diabetes yang masuk ke dalam kriteria risiko tinggi untuk berpuasa adalah penyandang diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2 yang menggunakan regimen insulin yang kompleks. Biasanya pasien ini memiliki kadar gula darah tidak terkontrol atau lebih dari 300 mg/dl.

Pasien diabetes juga masuk ke dalam kriteria risiko tinggi jika dalam beberapa waktu terakhir sebelum berpuasa pasien sering mengalami hipoglikemia (kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl) atau hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi sampai mengalami episode ketoasidosis diabetik (KAD).

Selain itu, pasien diabetes yang memiliki penyakit akut misalnya penyakit paru, penyakit saluran kemih. Termasuk juga pasien diabetes dengan penyakit penyerta (komorbiditas) yang banyak, misalnya pasien penyakit ginjal dan pasien cuci darah.

Penyandang diabetes yang masuk ke dalam kriteria berisiko tinggi untuk berpuasa ini tidak diperbolehkan untuk melakukan puasa Ramadan.

2. Pasien dengan risiko sedang untuk berpuasa

Penyandang diabetes yang masuk dalam kriteria risiko sedang untuk berpuasa yakni pasien dengan diabetes melitus tipe 2 yang memakai obat oral lebih dari 2 obat atau pengguna insulin dengan regimen yang kompleks.

Pasien juga memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol antara 150 sampai 300 mg/dl dan sering mengalami hipoglikemia atau bahkan mengalami ketoasidosis diabetes.

Mereka yang masuk dalam kriteria ini tidak dianjurkan untuk melakukan puasa Ramadan.

3. Pasien dengan risiko ringan untuk berpuasa

Penyandang diabetes yang masuk ke dalam kriteria risiko ringan untuk berpuasa yakni pasien diabetes melitus tipe 2 dengan kadar gula darah yang terkontrol. Biasanya mereka hanya menggunakan obat-obatan oral (tablet) saja.

Pasien diabetes yang masuk dalam kriteria ini diperbolehkan untuk puasa Ramadan.

Pasien diabetes harus konsultasi sebelum berpuasa

diabetes puasa ramadhanIbadah puasa ini merupakan urusan masing-masing individu. Pada dasarnya seorang dokter seperti saya hanya bisa memberikan saran, tapi keputusan berpuasa atau tidak itu tetap keputusan pasien sendiri.

Stratifikasi risiko hanya sebagai masukan dan informasi risiko bahwa pasien diabetes dengan kriteria tertentu memiliki kemungkinan komplikasi saat melakukan puasa.

Dalam sebuah penelitian epidemiologi yang dilakukan pada pasien diabetes melitus tipe 1 menunjukkan hampir 80% persen pasien ingin sekali berpuasa, di mana 60% mengatakan akan tetap berpuasa. Tapi pada akhirnya lebih kurang 40% yang mampu berpuasa selama 30 hari, beberapa di antaranya hanya mampu menyelesaikan puasa selama 15 hari.

Jika pasien diabetes tetap ingin berpuasa, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis penyakit dalam (Endokrin-Metabolik-Diabetes). Dokter akan memberikan edukasi bagaimana pengaturan makan, obat-obatan, dan merawat aktivitas fisik, serta tanda-tanda puasa harus dibatalkan.

Biasanya dokter juga akan sebaik mungkin membantu mempersiapkan kondisi penyandang diabetes yang ingin berpuasa. Kami menyarankan bagi penyandang diabetes untuk bersiap-siap minimal 2 bulan sebelum bulan Ramadhan.

Selama waktu 2 bulan tersebut pasien akan melakukan semacam simulasi berpuasa, bagaimana mengatur pola makan dan konsumsi obat selama bulan Ramadhan. Dalam penggunaan obat-obatan insulin pasien diabetes tipe 1, maka dosis insulin setelah makan pada saat sahur akan diturunkan. Dosis insulin akan diberikan secara penuh saat berbuka.

Simulasi ini berlangsung selama beberapa waktu sampai menjelang puasa. Jika selama proses persiapan ia tidak mengalami komplikasi, dehidrasi, KAD, atau hipoglikemia, maka penyandang diabetes ini diperbolehkan untuk puasa. Tapi jika terjadi komplikasi, maka tidak dianjurkan atau tidak diperbolehkan untuk berpuasa.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr.Andra Aswar Sp.PD, KEMD
Ditulis oleh dr.Andra Aswar Sp.PD, KEMD
Tanggal diperbarui 4 minggu lalu
x