Hidup dengan diabetes? Anda tidak sendiri. Ikut komunitas kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

6 Tips agar Gula Darah Tetap Terkendali Saat Puasa

6 Tips agar Gula Darah Tetap Terkendali Saat Puasa

Ada banyak perubahan tubuh yang terjadi saat puasa, salah satunya adalah penurunan kadar gula darah saat puasa.

Sebenarnya, semua orang mengalami penurunan kadar gula darah saat menjalani ibadah di bulan Ramadan ini. Namun, hal ini menjadi masalah besar apabila terjadi pada pasien diabetes (diabetesi).

Oleh karena itu, banyak hal yang harus diperhatikan jika diabetesi ingin berpuasa. Berikut adalah tips untuk mengendalikan kadar gula darah saat puasa pada pasien diabetes.

Tips mengendalikan gula darah saat puasa

porsi makan ideal

Jumlah gula darah yang tak terkendali saat puasa bisa menyebabkan komplikasi diabetes seperti hiperglikemia dan hipoglikemia.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan pasien diabetes jika ikut berpuasa di bulan Ramadan.

1. Atur porsi makan untuk menjaga kadar gula darah saat puasa

Sebenarnya, hal ini tergantung bagaimana perencanaan pola makan untuk diabetes saat berpuasa. Pengaturan makan ini tentunya sangat memengaruhi perubahan gula darah dalam tubuhnya.

International Diabetes Foundation menganjurkan untuk mengonsumsi zat gizi dengan jumlah sebagai berikut:

  • Karbohidrat, setidaknya konsumsi sebanyak 45–50% dari total kebutuhan kalori atau minimal 130 gram karbohidrat per hari.
  • Serat, dibutuhkan sekitar 20–35 gram per hari.
  • Protein, diperlukan sekitar 20–30% dari total kalori dalam satu hari.
  • Lemak, harus dikonsumsi kurang dari 35% dari total kalori per hari.

Pasien diabetes harus mengonsumsi kalori sesuai dengan kebutuhannya.

Jika Anda memiliki kebutuhan kalori sebesar 1.500–2.000 kalori per hari, Anda dapat memenuhi total kalori ini dengan makan saat sahur, berbuka puasa, dan konsumsi camilan di antara dua waktu tersebut.

Anda bisa mengatur porsi makan sahur dan buka puasa sehingga memenuhi 700-900 kalori untuk sekali makan. Lalu, penuhi kebutuhan 100-200 kalori lainnya melalui camilan.

2. Pilih zat gizi yang baik untuk kesehatan tubuh

Tak hanya porsi yang harus diperhatikan, pemilihan makanan juga memengaruhi kadar gula darah saat puasa. Berikut adalah panduannya menentukan sumber zat gizi yang tepat.

Karbohidrat

Hindari makanan yang mengandung karbohidrat sederhana, seperti gula dan madu yang tinggi. Sebaiknya, ganti semua makanan berbuka yang mengandung gula dengan buah-buahan.

Selain itu, konsumsilah karbohidrat yang mengandung serat, seperti nasi merah atau gandum.

Protein

Sumber protein yang direkomendasikan adalah ikan, susu rendah lemak, daging tanpa lemak. Hindari makan makanan yang digoreng serta makanan yang mengandung lemak jahat.

Lemak

Gunakan minyak yang mengandung lemak tak jenuh, seperti minyak palem, minyak zaitun, minyak kanola. Di samping itu, hindari penggunaan mentega yang mengandung minyak dengan lemak jenuh tinggi.

3. Penuhi kebutuhan air dalam sehari

Minum air yang cukup agar tubuh terhidrasi dengan baik, tapi ingat hindari minuman yang mengandung rasa manis.

Konsumsi minuman manis langsung saat berbuka hanya akan memicu lonjakan gula darah saat puasa secara drastis.

Perbanyak minum ketika di antara waktu berbuka puasa dan sahur. Jangan terlalu banyak minum di saat makan karena akan menyebabkan perut menjadi kembung.

Saat berbuka puasa, lebih baik dahulukan untuk minum air putih guna mengembalikan cairan di dalam tubuh. Selanjutnya, pasien diabetes boleh mengonsumsi buah-buahan.

4. Atur waktu makan dan cek gula darah

Anda sebaiknya memulai sahur ketika dekat-dekat dengan waktu imsak. Ini berguna untuk mencegah gula darah turun terlalu rendah akibat jarak makan antara sahur dan buka puasa terlalu jauh.

Selama berpuasa, uji kadar gula darah sebelum dan 2 jam setelah berbuka puasa, sebelum sahur, dan ketika mencapai tengah hari.

Bila kadar gula berada di bawah ambang gula darah normal, yakni kurang dari 70 mg/dL atau terlalu tinggi, yakni sebesar 300 mg/dL, sebaiknya batalkan puasa Anda. Segera berkonsultasi dengan dokter.

5. Lakukan olahraga setelah berbuka puasa

American Diabetes Association merekomendasikan olahraga saat puasa dengan jenis aerobik paling sedikit selama 10 menit per hari dan bisa ditambah hingga 30 menit per hari.

Selain itu, diabetesi bisa melakukan latihan kekuatan otot selama 2–3 sesi per hari. Ini berguna untuk meningkatkan sensitivitas insulin di dalam tubuh.

Namun, pastikan Anda tidak melakukannya sebelum buka karena puasa dan olahraga bisa memicu penurunan gula darah secara drastis.

6. Konsultasikan dengan dokter sebelum berpuasa

Bila Anda mengonsumsi obat atau harus selalu mendapat suntik insulin, sebaiknya diskusikan dengan dokter terkait perubahan jadwal pemberian obat diabetes selama untuk berpuasa.

Gula darah saat puasa umumnya menurun. Hal ini bisa memicu kondisi hipoglikemia yang membahayakan pasien diabetes.

Untuk itu, pastikan Anda mengonsumsi makanan dengan zat gizi yang seimbang. Konsultasikan kepada dokter untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan sebelum memulai puasa.

Anda atau keluarga hidup dengan diabetes?

Anda tidak sendiri. Ayo gabung bersama komunitas pasien diabetes dan temukan berbagai cerita bermanfaat dari pasien lainnya. Daftar sekarang!


health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Colberg, S., Sigal, R., Yardley, J., Riddell, M., Dunstan, D., & Dempsey, P. et al. (2016). Physical Activity/Exercise and Diabetes: A Position Statement of the American Diabetes Association. Diabetes Care, 39(11), 2065-2079. doi: 10.2337/dc16-1728

World Diabetes Foundation. (2021). Retrieved 20 December 2021, from https://www.worlddiabetesfoundation.org/sites/default/files/IDF%20%26%20DAR%20Guidelines%20April-16-low_0.pdf

Al-Arouj, M., Assaad-Khalil, S., Buse, J., Fahdil, I., Fahmy, M., & Hafez, S. et al. (2010). Recommendations for Management of Diabetes During Ramadan: Update 2010. Diabetes Care, 33(8), 1895-1902. doi: 10.2337/dc10-0896

Ahmad, J., Jaleel, M., Raza, S., Ishtiaq, O., Pathan, M., & Fathima, F. et al. (2012). Diabetic emergencies including hypoglycemia during Ramadan. Indian Journal Of Endocrinology And Metabolism, 16(4), 512. doi: 10.4103/2230-8210.97996

Jaleel, M., Fathima, F., Raza, S., & Jaleel, B. (2011). Ramadan and diabetes: As-Saum (The fasting). Indian Journal Of Endocrinology And Metabolism, 15(4), 268. doi: 10.4103/2230-8210.85578

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Jimmy Tandradynata, Sp.PD