Coronavirus Penyebab COVID-19 Bermutasi Menjadi Tipe Virus Baru

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Seperti virus-virus pada umumnya, coronavirus penyebab wabah COVID-19 juga bisa bermutasi dan mengalami perubahan tertentu. Laporan terbaru bahkan menyebutkan bahwa virus yang dinamai SARS-CoV-2 ini bermutasi menjadi dua strain virus baru. Salah satu strain disebut-sebut lebih agresif dibandingkan coronavirus asalnya.

Mutasi menyebabkan perubahan pada susunan genetik virus. Ini merupakan salah satu hambatan yang dihadapi para ilmuwan dalam mempelajari virus dan vaksinnya, tidak terkecuali pada kasus COVID-19. Walau demikian, tidak bisa dipungkiri, coronavirus yang bermutasi juga dapat memberikan petunjuk dalam mengatasi wabah ini.

Temuan para ilmuwan tentang coronavirus yang bermutasi

Akhir Februari lalu, sekelompok ilmuwan dari Tiongkok mengambil sampel coronavirus dari 103 pasien COVID-19 yang berada di kota Wuhan. Mereka mempelajari susunan genetik virus tersebut, lalu menemukan beberapa perbedaan di dalamnya.

Perbedaan susunan genetik SARS-CoV-2 membuat virus tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis strain, yakni tipe L dan tipe S. Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal National Science Review, coronavirus yang bermutasi menjadi tipe L disinyalir lebih agresif dibandingkan coronavirus tipe S.

Sebanyak 70 persen dari total sampel virus merupakan coronavirus tipe L. Akan tetapi, kasus COVID-19 akibat coronavirus tipe L ternyata mengalami penurunan sejak awal Januari. Strain coronavirus yang saat ini lebih umum ditemukan adalah tipe S.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

25,216

Terkonfirmasi

6,492

Sembuh

1,520

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Coronavirus tipe S mempunyai karakteristik yang lebih lemah dibandingkan tipe L. Para ilmuwan menduga hal ini terjadi karena campur tangan manusia. Karantina dan upaya pencegahan mungkin telah menghambat penularan coronavirus tipe L sehingga virus ini kalah jumlah dibandingkan coronavirus tipe S.

Temuan ini memberikan sudut pandang baru bagi dunia dalam memahami karakteristik SARS-CoV-2 dan pola penyebarannya pada manusia. Meski demikian, para ilmuwan masih perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh.

Pendapat ilmuwan lain tentang coronavirus yang bermutasi

laboratorium coronavirus

Nathan Grubaugh, ahli epidemiologi dari Yale School of Public Health, AS, menyatakan dirinya ragu terhadap temuan para ilmuwan asal Tiongkok tersebut. Menurutnya, mutasi pada sampel coronavirus pada penelitian ini terlalu kecil dan tidak berdampak apa pun.

Coronavirus adalah virus berukuran besar dengan rantai kode genetik yang amat panjang. Susunan genetik satu virus saja sudah mengandung sekitar 30.000 molekul genetik. Perbedaan kecil pada salah satu kode tersebut tidak bisa disebut signifikan.

Grubaugh juga mengatakan bahwa untuk mengenali mutasi suatu virus yang menyebar ke seluruh dunia, diperlukan usaha yang besar dan waktu yang lama. Bahkan, satu tim ilmuwan mungkin harus melakukan penelitian selama bertahun-tahun guna memastikan satu strain coronavirus betul-betul bermutasi.

Saat ini, terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa SARS-CoV-2 bermutasi menjadi virus yang berbahaya. Coronavirus tipe L mungkin terkesan agresif karena peneliti saat itu mengambil sampel virus dari pasien di Wuhan yang belum lama terjangkit COVID-19.

Jika pengambilan sampel dilakukan ketika wabah baru muncul, sampel virus kemungkinan besar tidak akan acak. Ini sebabnya coronavirus tipe L seakan jauh lebih banyak dibandingkan tipe S. Akhirnya, hasil penelitian menunjukkan seolah coronavirus bermutasi menjadi virus yang agresif.

Padahal, para pasien saat itu tertular kedua strain virus yang belum terseleksi campur tangan manusia. Karantina dan upaya pencegahan belum dilakukan secara maksimal sehingga dampak infeksi virus seakan sangat berbahaya dan mematikan.

tips donor darah aman

Apakah mutasi membuat coronavirus menjadi berbahaya?

coronavirus dan paramyxovirus

Istilah ‘mutasi’ sering kali dikaitkan dengan virus berbahaya dan penyakit mematikan. Padahal, mutasi adalah fenomena yang wajar dalam siklus hidup virus. Mutasi virus bahkan hampir tidak menimbulkan dampak yang besar terhadap suatu wabah.

Berdasarkan susunan genetiknya, virus terbagi menjadi virus DNA dan virus RNA. Kedua jenis virus bisa mengalami mutasi, tapi virus RNA seperti SARS-CoV-2 biasanya lebih sering mengalami mutasi dan tidak memiliki mekanisme untuk mencegahnya.

Mutasi pada dasarnya merupakan fenomena yang alamiah. Tidak hanya coronavirus, sel tubuh manusia pun juga bisa bermutasi. Mutasi terkadang menguntungkan bagi sel dan virus, tapi ada pula jenis mutasi yang merugikan.

Berbeda dengan anggapan kebanyakan, mutasi justru membantu para ilmuwan dalam melacak asal SARS-CoV-2. Sebagai contoh, sekelompok ilmuwan di Brasil mempelajari sampel SARS-CoV-2 dari beberapa kasus dan menemukan perbedaan yang unik.

COVID-19 Adalah Self-Limiting Disease, Apa Maksudnya?

Virus yang mereka ambil dari satu pasien di Brasil memiliki susunan genetik yang mirip dengan virus dari pasien di Jerman. Sementara itu, virus dari pasien kedua mirip dengan virus yang diambil di Inggris. Namun, virus pada pasien Jerman dan Inggris ternyata tidak berkaitan satu sama lain.

Alih-alih membahayakan, coronavirus yang bermutasi bisa jadi merupakan jawaban dari akhir wabah COVID-19. Bahkan, penelitian yang mumpuni mungkin saja akan membantu para ilmuwan dalam mencari vaksin maupun obat bagi COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020