Alergi Paracetamol

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu alergi paracetamol?

Paracetamol (acetaminophen) adalah obat pereda nyeri dari golongan analgesik untuk mengobati rasa sakit ringan hingga sedang. Keluhan yang diatasinya antara lain sakit kepala, nyeri haid, sakit gigi, nyeri sendi, serta demam.

Reaksi alergi paracetamol merupakan reaksi sistem imun terhadap zat-zat yang terkandung dalam obat paracetamol. Pada penderita alergi, konsumsi obat ini dapat menimbulkan reaksi berupa gatal-gatal, ruam, sakit kepala, hingga sesak napas.

Pemeriksaan riwayat kesehatan lengkap dan tes alergi diperlukan untuk mendiagnosis alergi paracetamol. Guna mengurangi tingkat keparahan gejalanya, Anda dapat mengonsumsi obat alergi umum atau melakukan terapi alergi.

Gejala

Apa saja gejala alergi paracetamol?

Gejala alergi paracetamol dapat muncul dalam bentuk ringan hingga reaksi parah yang yang mengancam jiwa. Gejala yang paling umum antara lain:

  • bentol-bentol gatal (biduran),
  • ruam kemerahan pada kulit,
  • mata gatal dan berair, serta
  • pembengkakan pada mata, bibir, dan tenggorokan.

Kapan Anda perlu ke dokter?

Pada beberapa kasus, reaksi alergi obat dapat begitu parah hingga menimbulkan syok anafilaksis. Tanda-tandanya antara lain sesak napas, penurunan tekanan darah, dan jantung berdebar. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin.

Selain itu, Anda juga harus menghubungi dokter bila mengalami gejala berikut ini.

  • Demam.
  • Sesak napas.
  • Gatal kemerahan di kulit yang terasa nyeri.
  • Bagian luar kulit mengelupas tanpa adanya luka lepuh.
  • Ruam atau luka lepuh menyebar ke mata, mulut, dan kelamin
  • Kulit tampak melepuh.
  • Pusing, pingsan, atau bahkan hilang kesadaran.

Kemungkinan ada gejala ringan hingga berat lainnya yang belum disebutkan di atas. Oleh sebab itu, Anda harus menghubungi dokter kali mengalami gejala yang tak biasa setelah mengonsumsi obat paracetamol.

Penyebab

Apa penyebab alergi paracetamol?

Alergi paracetamol adalah salah satu bentuk alergi obat. Kondisi ini disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem imun terhadap zat kimia di dalam obat. Padahal, obat-obatan seperti paracetamol sejatinya membantu memulihkan kesehatan atau menyembuhkan penyakit.

Sistem imun semestinya bereaksi terhadap bibit penyakit seperti virus atau zat-zat yang membahayakan tubuh. Pada orang yang tidak memiliki alergi, sistem kekebalan tubuhnya tidak bereaksi pada obat paracetamol.

Sementara pada penderita alergi, sistem imun mereka justru menganggap obat-obatan sebagai zat yang berbahaya. Sistem imun lalu mengirimkan perlawanan berbentuk antibodi, histamin, dan zat kimia lain yang pada akhirnya menimbulkan reaksi alergi.

Para ahli belum sepenuhnya memahami penyebab alergi yang satu ini. Namun, alergi biasanya tidak muncul saat Anda pertama kali meminum paracetamol. Reaksi alergi kemungkinan terjadi setelah tubuh berulang kali terpapar obat pereda nyeri ini.

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis alergi paracetamol?

Alergi paracetamol didiagnosis dengan mengamati riwayat medis Anda sebelumnya. Dokter pertama-tama akan bertanya seputar gejala serta daftar obat-obatan apa saja yang Anda gunakan.

Jika dokter menduga adanya alergi paracetamol, pemeriksaan dilanjutkan dengan tes alergi sebagai berikut.

1. Tes tusuk kulit (skin prick test)

Tes tusuk kulit dilakukan dengan menuangkan ekstrak alergen ke lapisan teratas kulit lengan Anda. Setelah itu, dokter akan menusuk kulit yang sudah ditetesi obat dengan jarum khusus berukuran kecil.

Dokter kemudian mengawasi kondisi Anda selama 15 menit untuk melihat apakah ada reaksi alergi. Seluruh prosedur tes dilakukan oleh dokter spesialis alergi dan tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.

2. Tes tempel (skin patch)

Pada tes ini, dokter menempelkan sejumlah plester berisikan obat pada kulit Anda selama minimum 48 jam. Plester tidak boleh sampai basah atau terbuka. Setelah 2 hingga 4 hari, dokter akan memeriksa reaksinya dan menentukan diagnosis.

3. Tes darah

Tes darah dilakukan bila Anda tidak bisa mengikuti tes kulit akibat kondisi tertentu. Dokter akan mengambil sampel darah Anda. Sampel tersebut lalu diuji di laboratorium oleh dokter untuk melihat adanya antibodi yang muncul saat diberi paracetamol.

Cara membaca hasil diagnosis dari dokter

Setelah mempelajari gejala, riwayat kesehatan, dan hasil tes alergi yang Anda jalani, dokter akan memberikan salah satu dari kesimpulan berikut.

  • Anda positif memiliki alergi paracetamol.
  • Anda tidak memiliki alergi obat.
  • Anda mungkin memiliki alergi paracetamol, tapi tingkat kepastiannya tidak jelas.

Kesimpulan ini dapat membantu dokter dalam membuat keputusan perawatan dan pengobatan di masa depan.

Obat dan pengobatan

Apa pilihan pengobatan yang tersedia?

Alergi paracetamol tidak bisa disembuhkan. Meski begitu, tersedia pengobatan untuk meredakan gejala ringan seperti ruam, gatal-gatal, dan bengkak. Berikut beragam pengobatan yang umumnya dianjurkan dokter.

1. Berhenti mengonsumsi obat paracetamol

Apabila Anda mengalami reaksi setelah minum obat dan penyebabnya terbukti karena alergi, segera hentikan penggunaan obat. Terus mengonsumsi paracetamol justru bisa menyebabkan gejala semakin parah.

2. Antihistamin

Guna meredakan gejala alergi yang kambuh, Anda bisa meminum antihistamin yang dijual bebas seperti diphenhydramine. Obat ini bekerja dengan menghambat histamin dan bahan kimia lain yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh selama alergi.

3. Kortikosteroid

Obat kortikosteroid bisa diandalkan untuk mengatasi reaksi peradangan akibat alergi. Kendati ampuh, obat yang tersedia dalam bentuk oral dan suntik ini harus digunakan sesuai resep serta anjuran dokter untuk mengurangi risiko efek samping.

4. Suntik epinefrin

Epinefrin adalah pertolongan pertama untuk reaksi alergi yang parah atau anafilaksis. Suntikan ini dapat menstabilkan tekanan darah dan menjaga agar pernapasan Anda tetap berfungsi dengan baik selama dan sesudah mengalami alergi.

5. Desensitisasi

Desensitisasi adalah terapi yang dilakukan agar sistem imun tidak lagi terlalu sensitif terhadap paracetamol. Desensitisasi bisa dianjurkan bagi penderita alergi paracetamol yang masih harus mengonsumsi obat ini.

Selama berlangsungnya desensitisasi, dokter akan menyuntikkan sejumlah kecil obat paracetamol ke tubuh Anda secara berkala. Pengobatan dimulai dari dosis rendah dan terus ditingkatkan sampai sistem imun Anda ‘belajar’ menoleransi obat tersebut.

Paracetamol merupakan salah satu obat pereda nyeri lini pertama yang paling umum digunakan. Alergi terhadap obat ini tentu merugikan bagi orang-orang yang perlu rutin mengonsumsinya.

Walaupun tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, Anda dapat meredakan gejala alergi dengan pengobatan atau terapi berupa desensitisasi. Diskusikan dengan dokter Anda untuk menentukan jenis pengobatan yang sesuai dengan Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa Anda sadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mulut dan gigi. Begini cara mengakalinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Pilihan Obat Sakit Gigi Antibiotik dan Apotek yang Ampuh untuk Anda

Obat apa yang Anda andalkan ketika sakit gigi menyerang? Berikut adalah obat sakit gigi paling ampuh yang bisa dijadikan pilihan!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Suka gatal dan bersin saat di dekat hewan berbulu? Bisa jadi itu pertanda Anda alergi binatang seperti kucing atau anjing. Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya makanan asin

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
vaksin MMR

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit