home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengulik Seputar Alergi Gigitan Serangga yang Harus Anda Waspadai

Definisi|Gejala|Penyebab|Faktor-faktor risiko|Diagnosis|Obat dan pengobatan|Pencegahan
Mengulik Seputar Alergi Gigitan Serangga yang Harus Anda Waspadai

Definisi

Apa itu alergi gigitan serangga?

Gigitan serangga dapat menimbulkan reaksi yang beragam, mulai dari gejala ringan hingga reaksi alergi yang serius. Alergi gigitan serangga merupakan respons sistem imun terhadap racun yang dikeluarkan atau bagian tubuh serangga saat menggigit atau menempel ke tubuh kita.

Reaksi gigitan biasa umumnya segera hilang dalam hitungan jam atau hari. Namun, lain halnya jika Anda memiliki alergi terhadap gigitan serangga. Efek yang ditimbulkan pada tubuh Anda akan lebih serius dibandingkan orang yang tidak alergi.

Gejala awalnya mirip dengan gigitan serangga biasa, yakni munculnya benjolan merah yang terasa gatal. Setelah beberapa saat, gejala ini dapat berkembang menjadi ruam, bengkak, hingga sesak napas pada orang-orang yang sangat sensitif.

Pada beberapa kasus, gigitan serangga bahkan bisa menimbulkan reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis. Kondisi ini dapat mengancam nyawa sehingga harus segera ditangani secara medis.

Sayangnya, gejala alergi kerap salah diartikan sebagai reaksi gigitan serangga biasa. Ini sebabnya Anda disarankan untuk berkonsultasi ke dokter bila mengalami gejala tertentu setelah digigit serangga, apalagi jika gejala tersebut muncul berulang kali.

Ada sejumlah metode pengobatan untuk meringankan gejala alergi dan mencegahnya kambuh kembali. Diagnosis yang akurat tentunya akan membuat pengobatan menjadi lebih optimal.

Gejala

Apa saja gejala alergi gigitan serangga?

Reaksi yang timbul akibat alergi gigitan serangga umumnya lebih parah dibandingkan bekas gigitan serangga biasa. Gejala yang paling umum meliputi:

  • rasa gatal di area bekas gigitan serangga,
  • area gatal yang lebih besar daripada biasanya,
  • nyeri atau bengkak (pada area gigitan atau menyebar),
  • memar di area gigitan,
  • gatal-gatal dan ruam (biduran), serta
  • limfangitis atau peradangan pada sistem limfa.

Tingkat keparahan gejala bervariasi pada tiap orang. Reaksi berupa nyeri, bengkak, dan kemerahan biasanya hanya muncul pada area gigitan. Anda bisa mengatasinya dengan membersihkan area kulit yang digigit atau mengompresnya dengan es.

Ada pula reaksi gigitan serangga yang menyebar, tapi bukan disebabkan oleh alergi. Reaksi ini mungkin tampak serius, tapi bisa diatasi dengan cara yang sama seperti gigitan serangga biasa asalkan tidak ada gejala lain yang muncul.

Sementara itu, reaksi alergi muncul dalam bentuk yang lebih parah. Gejala yang Anda alami mungkin meluas, tak tertahankan, atau disertai keluhan pada bagian tubuh yang lain. Reaksi seperti ini kemungkinan perlu diatasi dengan obat alergi.

Kapan Anda perlu ke dokter?

Reaksi alergi terhadap gigitan serangga pada dasarnya bersifat serius sehingga perlu ditangani secara medis. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami gejala alergi setelah digigit serangga.

Anda juga harus segera mendapatkan bantuan medis apabila mengalami reaksi alergi parah yang ditandai dengan gejala berikut.

  • Ruam, gatal, dan pembengkakan selain di area gigitan.
  • Kram perut, mual, muntah, atau diare.
  • Dada terasa sesak dan sulit bernapas.
  • Suara serak, sulit menelan, atau napas terdengar nyaring (mengi).
  • Pembengkakan pada lidah atau tenggorokan.
  • Penurunan tekanan darah secara tiba-tiba.
  • Gangguan sistem saraf, seperti kelemahan otot pada salah satu bagian tubuh.
  • Pingsan, koma, atau terkena serangan jantung.

Melansir American College of Allergy, Asthma & Immunology, orang yang mengalami reaksi alergi setelah digigit serangga berpeluang 60% mengalami reaksi serupa atau lebih parah bila digigit kembali.

Serangga seperti semut api dan tawon juga sering menyengat lebih dari sekali. Hal ini bisa berbahaya karena semakin sering Anda digigit, semakin parah gejala alergi yang muncul. Pemeriksaan dengan dokter akan berguna untuk mencegahnya.

Penyebab

Apa penyebab alergi gigitan serangga?

Penyebab reaksi alergi adalah respons berlebihan sistem imun terhadap zat asing pemicu alergi. Zat apa pun yang bisa memicu alergi disebut alergen. Dalam kasus ini, alergen berasal dari racun, air liur, atau enzim tertentu yang dihasilkan serangga.

Respons sistem imun seharusnya ditujukan untuk melawan kuman atau zat-zat yang dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh. Akan tetapi, sistem imun penderita alergi justru menyerang alergen yang sebenarnya tidak berbahaya.

Alergen dari serangga pada dasarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Tubuh Anda mampu menetralisasi dan mengeluarkan zat asing tersebut tanpa menimbulkan dampak apa pun. Bahaya justru muncul bila Anda memiliki alergi terhadap gigitan serangga.

Sistem imun Anda menganggap racun, air liur, dan enzim serangga sebagai ancaman. Sel-sel di dalamnya pun mengirimkan antibodi dan zat-zat kimia guna melawannya. Respons inilah yang menyebabkan gejala seperti gatal, ruam, dan kemerahan.

Pada kasus reaksi alergi parah, sistem imun merespons secara besar-besaran hingga menyebabkan pembengkakan saluran napas dan berbagai gejala lainnya. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan terus bertambah parah dan membahayakan nyawa.

Apa saja serangga yang bisa memicu reaksi alergi?

Ada banyak sekali jenis serangga yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Beberapa di antaranya bahkan sering ditemukan di lingkungan rumah, yakni:

1. Serangga penyengat

Serangga penyengat yang paling sering memicu reaksi alergi antara lain lebah, tawon, dan semut api. Ketika menyengat, serangga-serangga ini mengeluarkan sejenis racun yang dianggap berbahaya oleh sistem imun.

2. Serangga penggigit

Nyamuk, kutu busuk, kutu, dan beberapa jenis lalat dapat menyebabkan reaksi alergi terhadap gigitan serangga. Ada pula sejenis kutu bernama Amblyomma americanum yang dapat membuat seseorang menjadi alergi daging.

3. Hama rumah

Hama rumahan seperti tungau dan kecoak tidak menggigit maupun menyengat. Meski begitu, kotoran dan tubuh mereka bisa memasuki saluran pernapasan Anda sehingga memicu reaksi alergi.

Faktor-faktor risiko

Siapa yang lebih rentan memiliki alergi gigitan serangga?

Berikut sederet faktor yang membuat seseorang lebih rentan memiliki alergi gigitan serangga, terutama nyamuk.

  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Memiliki kadar asam urat, asam laktat, dan amonia pada tubuh dalam jumlah yang lebih tinggi daripada kadar normal.
  • Sering berkegiatan di luar ruangan.
  • Memiliki kekebalan alami yang rendah terhadap serangga, misalnya anak kecil atau orang yang mendiami suatu wilayah baru.
  • Memiliki masalah dengan sistem imun, misalnya akibat AIDS atau leukemia.
  • Alergi terhadap kandungan dalam air liur nyamuk, seperti kandungan protein dan zat antimikroba.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis alergi gigitan serangga?

Cara terbaik untuk mendiagnosis alergi gigitan serangga adalah dengan pemeriksaan medis. Dokter pertama-tama akan menanyakan riwayat medis Anda, termasuk kapan Anda digigit serangga, gejala apa saja yang muncul, dan sebagainya.

Dokter lalu melanjutkan pemeriksaan dengan tes alergi. Ada tiga macam tes alergi yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Tes tusuk kulit. Kulit Anda ditetesi sedikit alergen, lalu ditusuk dengan jarum kecil. Dokter akan mengamati gejala yang muncul selama 15-20 menit.
  • Tes intradermal. Alergen dalam dosis kecil disuntikkan ke kulit Anda. Dokter kemudian mengamati gejala yang muncul selama 15 menit.
  • Tes darah. Tes ini dipilih bila hasil dua tes sebelumnya negatif. Sampel darah Anda akan diambil untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Obat dan pengobatan

Bagaimana cara mengobati alergi gigitan serangga?

Pengobatan untuk alergi gigitan serangga terdiri atas dua langkah. Langkah pertama adalah untuk menangani gejala, termasuk reaksi parah seperti anafilaksis. Langkah kedua adalah untuk mencegah kekambuhan melalui imunoterapi.

Berikut rinciannya.

1. Suntikan epinefrin

Suntikan epinefrin adalah pertolongan pertama untuk reaksi alergi yang parah. Obat ini bekerja dengan membalikkan gejala yang terjadi selama anafilaksis. Dengan begitu, tubuh pasien bisa kembali stabil sebelum mendapatkan bantuan medis.

2. Mengobati luka sengat

Bila sengat serangga tertinggal di kulit Anda, segera lepaskan dengan kuku. Jangan memencet bagian kulit yang tersengat karena ini akan membuat racun masuk lebih dalam. Tetap tenang dan lakukan langkah-langkah berikut.

  1. Angkat bagian tubuh yang tersengat, lalu tempelkan kompres dingin bila ada.
  2. Bersihkan area kulit yang tersengat dengan air dan sabun untuk mencegah infeksi.
  3. Oleskan salep atau minumlah antihistamin untuk mengurangi gatal.
  4. Amati gejala yang muncul. Segera kunjungi dokter bila bengkak bertambah parah atau muncul tanda-tanda infeksi.

3. Menggunakan obat alergi

Obat alergi membantu meredakan gatal, nyeri, dan bengkak pada kulit yang terkena gigitan serangga. Obat yang umum digunakan adalah tablet antihistamin dan salep kortikosteroid. Pastikan Anda sudah berdiskusi dengan dokter sebelum menggunakan obat dalam bentuk apa pun.

4. Imunoterapi dengan racun serangga

Imunoterapi adalah pengobatan yang bertujuan untuk melatih sistem imun agar tidak terlalu sensitif terhadap alergen. Cara ini berguna untuk mengurangi risiko kambuhnya alergi di kemudian hari dan mencegah reaksi alergi parah.

Dokter akan menyuntikkan alergen dalam jumlah kecil, lalu meningkatkan dosisnya selama beberapa minggu hingga bulan. Setelah pengobatan, sistem imun diharapkan tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap alergen tersebut.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah alergi gigitan serangga?

Tidak ada cara khusus untuk mencegah gigitan serangga ataupun reaksi alergi yang timbul karenanya. Meski demikian, cara berikut bisa membantu Anda.

  • Kenali bentuk sarang serangga yang memicu reaksi alergi pada tubuh Anda. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi Anda untuk menghindarinya.
  • Kenakan kaus kaki dan sepatu saat bepergian.
  • Kenakan pakaian lengan panjang, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu saat berkegiatan di wilayah dengan banyak tumbuhan.
  • Gunakan tirai pada pintu dan jendela rumah.
  • Gunakan losion antiserangga saat berkegiatan di luar rumah.
  • Pastikan tidak ada tanaman, semak, atau rerumputan yang memikat serangga di sekitar rumah.
  • Semprotkan pembasmi serangga ke tong sampah secara rutin.

Berbeda dengan gigitan serangga biasa, alergi gigitan serangga terjadi akibat respons sistem imun terhadap racun dan air liur yang dikeluarkan serangga ketika menggigit. Pada beberapa orang, reaksi ini dapat menimbulkan gejala yang parah.

Segera kunjungi dokter bila Anda mengalami gejala tertentu setelah digigit atau disengat serangga. Pemeriksaan lebih lanjut akan membantu menentukan diagnosis serta pengobatan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Stinging Insect Allergy. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/stinging-insect-allergy

Insect Sting Allergy. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://acaai.org/allergies/types/insect-sting-allergy

Insect Allergies. (2015). Retrieved 15 September 2020, from https://www.aafa.org/insect-allergy/

Insect bites and stings – Symptoms. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/insect-bites-and-stings/symptoms/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 07/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x