Banyak alasan yang diungkapkan oleh para orang tua agar perempuan tidak boleh menikah di usia yang terlalu matang. Salah satunya karena masalah kesuburan, kualitas sel telur jika semakin tua semakin menurun. Lantas, bagaimana dengan kaum pria? Apakah usia pria akan mempengaruhi kualitas sperma?

Pentingnya para pria untuk memperhatikan masa subur

Bukan hanya perempuan yang patut memerhatikan masa subur mereka, pria juga wajib mengetahuinya. Di kalangan awam, kebanyakan orang hanya menganggap masalah kesuburan adalah urusan perempuan, padahal pria juga memiliki masa-masa subur yang akan menentukan sukses atau tidak suksesnya proses kehamilan.

Ada sejumlah hal yang bisa memengaruhi kualitas sperma dalam tubuh seseorang, misalnya faktor usia dan gaya hidup. Itu sebabnya, kualitas sperma dalam tubuh seorang pria tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Tapi secara garis besar, kualitas sperma terbaik bisa didapatkan pada rentang usia subur, yaitu antara 25-40 tahun.

Kualitas ini bisa diukur dengan menggunakan tes spermiogram (tes analisis sperma). Menurut standar dari badan kesehatan dunia WHO, ada tiga parameter yang bisa digunakan untuk mengukur kualitas sperma, yaitu, jumlah (konsentrasi), kecepatan (motilitas), dan bentuk (morfologi).

Selama orang tersebut memiliki kondisi kesehatan tubuh dan kesehatan seksual yang prima, maka gambaran spermiogram tidak menunjukkan perbedaan pada kualitas sperma pria berusia 20, 30, dan 40 tahun.

Kualitas sperma ternyata menurun pasca usia subur

Setelah melampaui rentang usia subur, barulah terjadi sejumlah perubahan pada kualitas sperma. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Otago, Selandia Baru, pada tahun 2014, kualitas sperma akan menurun seiring pertambahan usia. Selain volume sperma berkurang, kecepatan sperma juga mengalami penurunan. Akibatnya, sperma lebih sulit mencapai sel telur untuk melangsungkan proses pembuahan.

Penelitian juga menunjukkan adanya penurunan kualitas dari segi bentuk (morfologi) sperma. Perubahan dari segi bentuk ini penting diperhatikan karena mengindikasikan konten genetik yang terkandung di dalam sperma. Adanya penyimpangan bentuk sperma yang signifikan bisa menyulitkan terjadinya pembuahan ataupun menimbulkan masalah kelainan kromosom yang salah satunya mampu meningkatkan risiko Down syndrome pada janin hasil pembuahan.

Kebiasaan buruk bisa turunkan kualitas sperma Anda

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, faktor usia bukanlah satu-satunya hal yang mampu memengaruhi kualitas sperma. Pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan justru punya andil lebih besar dalam menentukan kualitas.

Pola makan tidak sehat misalnya, terlalu banyak asupan lemak dan gula, bisa meningkatkan risiko seseorang menyandang obesitas dan diabetes. Kedua jenis gangguan kesehatan ini mampu mengakibatkan penurunan kualitas.

Bukan hanya itu, jenis penyakit berat seperti, TBC, tipes, dan hepatitis, juga kebiasaan buruk seperti merokok, penyalahgunaan obat-obatan, serta kecanduan alkohol, juga bisa mengakibatkan penurunan kualitas sperma. Rokok terutama amat perlu dihindari karena racun yang terkandung dalam nikotin dapat merusak kepala sperma. Akibatnya, sperma akan mengalami kesulitan untuk dapat menembus dinding sel telur.

Tingkatkan kualitas sperma dengan gaya hidup sehat

Kabar baiknya, kualitas sperma yang mulai menurun bisa diperbaiki dengan mulai menerapkan gaya hidup sehat serta melakukan sejumlah kebiasaan baik. Jika mampu melakukannya, bukan tidak mungkin kualitas sperma pria yang berada di ambang akhir batas usia subur malah lebih unggul dibandingkan mereka yang masih berada di pertengahan rentang usia subur.

Apa saja kebiasaan-kebiasaan baik yang perlu diadopsi untuk memperbaiki kualitas? Tidak lain dengan mengonsumsi jenis-jenis makanan yang mengandung nutrisi seimbang, memperbanyak konsumsi makanan yang kaya kandungan antioksidan (asam folat, vitamin C, zinc, vitamin E, dan lain-lain), serta melakukan olahraga secara teratur untuk memelihara berat badan ideal.

Kebiasaan berendam di dalam air panas ataupun mengenakan celana yang ketat juga perlu dikurangi untuk menghindari terjadinya peningkatan suhu pada testis. Pasalnya, peningkatan suhu pada testis bisa berisiko menurunkan jumlah sperma.

Bukan hanya itu, kondisi kesehatan seksual juga perlu dipelihara. Artinya, jangan sembarang berganti-ganti pasangan dan lakukanlah hubungan intim secara rutin agar siklus produksi sperma terpelihara dengan baik. Jadi, ajak pasangannya untuk tetap mempertahankan gaya hidup sehat agar kualitas sperma tetap terjaga.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca