home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbagai Penyebab Sifilis yang Patut Anda Waspadai

Berbagai Penyebab Sifilis yang Patut Anda Waspadai

Penyebab sifilis atau sipilis (raja singa) perlu Anda ketahui agar dapat melakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Pasalnya, infeksi menular seksual ini dapat menyebabkan berbagai penyakit yang membahayakan nyawa Anda. Nah, berikut berbagai hal yang dapat menjadi penyebab dan meningkatkan risiko Anda terkena sifilis.

Apa penyebab penyakit sifilis (raja singa)?

sipilis sifilis raja singa

Sipilis atau raja singa adalah salah satu penyakit menular seksual yang menjadi momok menakutkan bagi banyak orang, baik pria maupun wanita.

Sifilis (sipilis) adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.

Bakteri ini dapat menginfeksi kulit, mulut, alat kelamin, serta sistem saraf pada tubuh manusia. Penyebab seseorang tertular sifilis biasanya melalui aktivitas seksual.

Ada beberapa tahapan penyebaran dengan gejala sifilis yang berbeda-beda, yakni tahap primer, sekunder, laten, dan akhir.

Penularan sifilis dari satu orang ke orang lainnya biasanya terjadi pada tahap primer dan sekunder.

Akan tetapi, bakteri penyebab sifilis juga bisa menyebar pada tahap laten. Sipilis sifatnya sangat mudah menular.

Adanya kontak dengan lesi terbuka di permukaan kulit atau mukosa pada penderita bisa dengan mudah menularkan bakteri penyebab sifilis.

Sayangnya, lesi terbuka sering kali tidak terlihat dan sulit dirasakan.

Ini karena lesi tersebut tidak menimbulkan rasa sakit dan bisa segera menghilang dengan sendirinya dalam waktu cepat.

Meskipun begitu, penyakit sifilis tidak dapat menular melalui:

  • Toilet yang telah digunakan oleh orang terinfeksi.
  • Bathtub yang telah digunakan oleh orang terinfeksi.
  • Pakaian atau peralatan makan.
  • Gagang pintu.
  • Kolam renang atau bak air panas.

Selain itu, gejala sifilis awal bisa berupa gejala lain yang sering tersamarkan seperti gejala flu biasa.

Itu sebabnya, Anda mungkin tidak selalu menyadari ketika sudah terinfeksi sifilis.

Aktivitas seksual yang dapat menjadi penyebab tertular sipilis

cara oral seks yang salah untuk pria penyebab sifilis

Berikut ini adalah aktivitas seksual yang dapat menjadi penyebab Anda tertular sifilis dari orang lain:

1. Penetrasi vagina

Seks penetrasi penis dan vagina merupakan salah satu penyebab umum tertularnya sifilis.

Saat melakukan hubungan seksual, bakteri pallidum yang terdapat di alat kelamin (bisa di penis ataupun vagina) akan menyebar langsung.

Apalagi, jika cairan orgasme salah satu penderita terkena kelenjar getah bening sehingga akhirnya menyebar ke seluruh tubuh.

2. Seks oral

Oral seks adalah aktivitas seksual dengan memberikan rangsangan pada penis laki-laki, alat kelamin wanita (termasuk klitoris, vulva, dan vagina), atau anus.

Rangsangan tersebut dapat diberikan dengan menggunakan bibir, mulut, dan lidah.

Saat ini, semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari dan mempraktikkan cara bercinta yang satu ini.

Banyak orang menyangka bahwa seks oral aman dari penyakit menular seksual, terutama sifilis.

Padahal, seks oral merupakan salah satu kegiatan seks yang paling berisiko menjadi penyebab seseorang tertular sifilis (sipilis).

3. Seks anal

Selain seks vaginal dan oral, seks anal juga bisa menjadi aktivitas seksual penyebab sifilis lainnya.

Ini karena penetrasi penis ke dalam anus dapat menyebarkan bakteri dan virus penyakit seksual lainnya dengan cepat.

Terlebih lagi bagian anus bukanlah area yang bersih. Jadi, tidak heran jika virus dan bakteri mudah masuk ke dalam tubuh saat melakukan seks anal.

Apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko sifilis?

penyakit kelamin dari seks oral

Anda lebih mudah tertular bakteri penyebab sifilis jika memiliki faktor risiko sebagai berikut:

1. Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman

Penggunaan kondom saat berhubungan seksual dapat menurunkan risiko Anda tertular sifilis, terutama jika pengaman tersebut menutupi seluruh permukaan luka di area genital.

Oleh karena itu, melakukan hubungan seksual tanpa pengaman membuat Anda lebih rentan tertular sifilis bila pasangan seks Anda memilikinya.

2. Melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan

Setia terhadap satu pasangan seksual merupakan cara paling efektif untuk mencegah berbagai penyakit menular seksual, termasuk sifilis.

Pasalnya, penyakit raja singa sangat mudah menyebar melalui interaksi seksual.

Melakukan hubungan seksual dengan satu pasangan saja sudah meningkatkan risiko Anda tertular penyakit ini, apalagi jika dilakukan dengan berbeda-beda orang.

Itulah mengapa penting untuk melakukan diskusi terbuka dengan pasangan Anda tentang perilaku seksual masing-masing.

pasangan selingkuh

3. Melakukan hubungan seksual sesama jenis

Melakukan hubungan seksual sesama pria atau sesama wanita juga dapat menjadi penyebab Anda tertular sifilis.

Menurut Sexually Transmitted Infections, seks oral tanpa kondom dan penggunaan mainan seks ternyata merupakan berapa risiko penularan sifilis.

4. Terinfeksi HIV

HIV atau human immunodeficiency virus membuat daya tahan tubuh Anda lemah hingga lebih rentan terkena berbagai penyakit, termasuk infeksi menular seksual ini.

Ini berlaku sebaliknya, yaitu penderita sifilis juga lebih berisiko terkena HIV.

Penelitian yang dipublikasikan di BMC Infectious Diseases menyebutkan bahwa penderita HIV umumnya juga didiagnosis mengalami sifilis.

Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat yakni CDC pun menyebutkan bahwa sifilis dan HIV adalah dua kondisi berbahaya yang menyerang para pria homoseksual dan biseksual.

Mengetahui berbagai penyebab sifilis penting supaya Anda dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Setelah mengetahui informasi di atas, jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan reproduksi Anda secara rutin ke dokter bila berisiko mengalami penyakit ini.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Syphilis and HIV: A Dangerous Duo Affecting Gay and Bisexual Men. (2012). Retrieved 15 January 2021, from https://www.hiv.gov/blog/syphilis-and-hiv-a-dangerous-duo-affecting-gay-and-bisexual-men

Condom Fact Sheet In Brief | CDC. (2021). Retrieved 15 January 2021, from https://www.cdc.gov/condomeffectiveness/brief.html

Syphilis – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 15 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/syphilis/symptoms-causes/syc-20351756#

Arando, M., Fernandez-Naval, C., Mota-Foix, M., Martinez, D., Armengol, P., & Barberá, M. et al. (2019). Early syphilis: risk factors and clinical manifestations focusing on HIV-positive patients. BMC Infectious Diseases, 19(1). doi: 10.1186/s12879-019-4269-8

Wang, Y., Wu, M., Gong, X., Zhao, L., Zhao, J., Zhu, C., & Gong, C. (2019). Risk Factors for Congenital Syphilis Transmitted from Mother to Infant — Suzhou, China, 2011–2014. MMWR. Morbidity And Mortality Weekly Report, 68(10), 247-250. doi: 10.15585/mmwr.mm6810a4

Champenois, K., Cousien, A., Ndiaye, B., Soukouna, Y., Baclet, V., & Alcaraz, I. et al. (2012). Risk factors for syphilis infection in men who have sex with men: results of a case–control study in Lille, France. Sexually Transmitted Infections, 89(2), 128-132. doi: 10.1136/sextrans-2012-050523

Syphilis | Womenshealth.gov. (2016). Retrieved 15 January 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/syphilis

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui 05/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x