backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Dokter Alergi Imunologi, Menangani Penyakit Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini · Tanggal diperbarui 30/11/2023

Dokter Alergi Imunologi, Menangani Penyakit Apa Saja?

Dokter spesialis alergi imunologi merupakan dokter yang fokus mengobati penyakit alergi, asma, atau gangguan pada imunitas tubuh. Cari tahu lebih lanjut seputar peran dokter alergi imunologi selengkapnya. 

Apa itu dokter spesialis alergi dan imunologi?

Dokter spesialis alergi imunologi merupakan dokter yang memiliki keahlian untuk melakukan diagnosis dan pengobatan alergi, asma, atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan imunitas tubuh. 

Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem kekebalan tubuh. Pada dasarnya, sistem kekebalan tubuh berperan dalam melindungi tubuh dari infeksi. 

Jika terdapat gangguan pada sistem imun tubuh, tubuh akan rentan terkena berbagai penyakit seperti asma, eksim, autoimun, kanker, dan alergi.

Alergi terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi terhadap zat tertentu yang seharusnya tidak berbahaya. Zat pemicu alergi juga umumnya bermacam-macam, misalnya dari makanan, debu, udara dingin, atau serbuk sari. 

Kapan harus pergi ke dokter alergi dan imunologi?

  • Mengalami gejala alergi berupa gatal, hidung tersumbat, bersin, ruma pada kulit, sesak napas, muntah, diare, ruam pada kulit setelah berkontak langsung dengan zat pemicu alergi (alergen). 
  • Obat-obatan, seperti antihistamin tidak dapat mengurangi gejala alergi atau menimbulkan efek samping
  • Gejala alergi berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Penyakit yang dapat ditangani oleh dokter alergi imunologi

dokter umum denpasar

Dokter alergi  imunologi biasanya menangani jenis penyakit yang berhubungan dengan imunologi atau sistem imun tubuh serta alergi. Berikut ini daftarnya. 

1. Alergi debu

Alergi debu merupakan jenis alergi yang ditandai dengan reaksi berupa bersin, hidung berair, atau ruam setelah terpapar oleh debu, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur.

Penyakit ini dapat dialami oleh seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, memiliki asma atau jenis alergi lainnya, serta memiliki riwayat keluarga dengan alergi.

2. Alergi makanan

Alergi makanan merupakan penyakit yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh menganggap zat tertentu di dalam makanan merupakan zat berbahaya. 

Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami gejala berupa gatal, ruam kemerahan di kulit, sakit perut, mual, muntah, diare hingga sesak napas. Makanan yang memicu alergi juga bermacam-macam, misalnya susu, kedelai, kerang, udang, dan kacang.

3. Alergi obat

Pada beberapa orang, sistem kekebalan tubuh juga dapat bereaksi dengan obat-obatan, seperti obat antibiotik serta paracetamol atau pereda nyeri. 

Tanda yang dialami oleh orang dengan alergi obat umumnya bervariasi tergantung dengan tingkat keparahan dan jumlah obat yang dikonsumsi. Namun, umumnya dapat berupa demam, ruam kulit, dan gatal.

4. Penyakit autoimun

Penyakit autoimun terjadi akibat sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat di dalam organ dan jaringan tubuh Anda sendiri.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Akan tetapi, penyakit ini biasanya dipicu oleh faktor genetik. 

Penyakit autoimun, seperti psoriasis, multiple sclerosis, diabetes tipe 1, lupus, hepatitis autoimun, skleroderma dan penyakit Crohn merupakan jenis penyakit yang juga dapat ditangani oleh dokter alergi imunologi. 

5. Gangguan imunodefisiensi

Gangguan imunodefisiensi adalah kondisi ketika sistem imun tubuh terganggu dan tidak dapat melawan virus, bakteri, atau parasit seperti yang seharusnya.

Kondisi ini dapat terjadi karena faktor genetik, infeksi, konsumsi obat-obatan, atau kondisi medis tertentu. 

6. Sinusitis

Sinusitis adalah peradangan atau oembangkan yang terjadi pada jaringan sinus, yaitu rongga berisi udara yang terletak di area dahi, pipi, dan hidung. 

Mengutip situs Centers for Disease Control and Prevention, gejala penyakit ini dapat berupa hidung berair dan tersumbat, nyeri pada wajah, sakit kepala, sakit tenggorokan dan batuk.

7. Eksim

Eksim atau dikenal juga dengan istilah dermatitis atopik adalah kondisi berupa munculnya bercak di kulit yang menebal, memerah, dan gatal. 

Kondisi ini dapat terjadi karena reaksi alergi terhadap faktor lingkungan, seperti bahan kimia, jamur, debu, bulu hewan, atau makanan tertentu. 

Pemeriksaan alergi dan imunologi

tes alergi

Pada saat pemeriksaan, dokter spesialis alergi imunologi akan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai gejala alergi yang dialami.

Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan atau melakukan beberapa jenis tes alergi untuk memastikan diagnosis. 

Berikut ini beberapa bentuk tes alergi yang mungkin dilakukan oleh dokter spesialis alergi dan imunologi. 

  • Tes kulit: dokter akan melakukan pemeriksaan dengan meneteskan zat alergen pada kulit untuk melihat reaksinya. Umumnya reaksinya dapat berupa gatal atau bengkak pada kulit. 
  • Tes uji darah: dokter akan menusukkan jarum ke kulit untuk mengambil sampel darah Anda. Kemudian, sampel darah tersebut akan diperiksa di laboratorium untuk melihat ada tidaknya antibodi imunoglobulin E dalam tubuh. 
  • Eliminasi makanan: dokter meminta Anda tidak mengonsumsi makanan tertentu selama beberapa minggu untuk melihat reaksi alergi yang mungkin dapat muncul dari makanan yang Anda konsumsi. 

Mengutip The American College of Allergy, Asthma and Immunology, hasil tes darah dan tes kulit saja tidak dapat mendiagnosis jenis alergi. Diagnosis juga memerlukan evaluasi dari riwayat medis pasien. 

Oleh karena itu, pastikan untuk memberi tahu dokter tentang pengalaman Anda secara menyeluruh agar dokter dapat memberikan diagnosis yang tepat. 

Pengobatan alergi dan imunologi

Pengobatan yang dilakukan oleh dokter alergi imunologi umumnya bervariasi tergantung dengan penyakit yang dialami pasien. 

Pemberian obat-obatan

Jika pasien memiliki alergi terhadap makanan atau zat lingkungan tertentu, dokter mungkin akan menyarankan untuk menghindari paparan atau kontak langsung dengan zat pemicu alergi. 

Selain itu, dokter akan memberikan beberapa obat-obatan dalam bentuk pil atau cairan, semprotan hidung atau tetes mata untuk mengurangi reaksi sistem imun tubuh dan meringankan gejala yang muncul. 

Imunoterapi

Untuk kasus alergi yang parah dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan, dokter mungkin akan merekomendasikan imunoterapi alergen, yakni perawatan yang melibatkan serangkaian suntikan ekstrak alergen yang telah dimurnikan. 

Bentuk lain dari imunoterapi adalah tablet yang diletakkan di bawah lidah (sublingual) hingga larut yang biasanya digunakan untuk mengobati alergi serbuk sari. 

Itulah penjelasan mengenai peran dokter alergi dan imunologi beserta dengan bentuk pemeriksaan yang dilakukan. 

Jika mengalami gejala alergi, segera konsultasikan dengan dokter umum. Setelah itu, Anda mungkin akan dirujuk ke dokter alergi imunologi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini · Tanggal diperbarui 30/11/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan