Sindrom Stevens-Johnson (SJS) termasuk penyakit langka di Indonesia dan dapat berkembang menjadi kondisi serius. Sindrom ini bisa menyebabkan kulit gatal, melepuh, atau bahkan mengelupas akibat reaksi berlebihan terhadap obat atau infeksi tertentu.
Sindrom Stevens-Johnson (SJS) termasuk penyakit langka di Indonesia dan dapat berkembang menjadi kondisi serius. Sindrom ini bisa menyebabkan kulit gatal, melepuh, atau bahkan mengelupas akibat reaksi berlebihan terhadap obat atau infeksi tertentu.

Sindrom Stevens-Johnson adalah kumpulan gejala serius pada kulit dan selaput lendir akibat reaksi berlebihan terhadap obat atau infeksi.
Gejalanya menyerupai flu, disertai ruam merah atau keunguan yang menyebar ke seluruh tubuh. Ruam akibat SJS akan muncul pada kulit, lapisan mata, rongga mulut, dubur, serta alat kelamin.
Orang yang mengalami kondisi ini akan mengalami ruam yang terasa sakit dan melepuh. Lapisan atas kulit yang melepuh ini kemudian akan mati dan mengelupas.
Kondisi darurat medis yang memerlukan rawat inap ini telah terjadi di seluruh dunia dan dapat memengaruhi semua ras. Namun, SJS lebih umum terjadi pada orang berkulit putih.
Sindrom ini diawali dengan munculnya gejala menyerupai flu, seperti demam, batuk, mata terasa panas, dan radang tenggorokan.
Seiring dengan perkembangan penyakit, akan muncul tanda dan gejala lain yang meliputi:
Segera periksakan diri ke dokter saat Anda mengalami gejala yang dicurigai sebagai sindrom Stevens-Johnson, terlebih setelah Anda menggunakan obat-obatan tertentu.

Sindrom Stevens-Johnson adalah kondisi langka dan tidak terduga. Dokter mungkin tidak bisa mengidentifikasi penyebab pastinya, tetapi kondisi ini biasanya dipicu oleh obat atau infeksi.
Reaksi terhadap pengobatan dapat muncul sesaat setelah Anda mengonsumsi obat atau hingga dua minggu setelah berhenti menggunakan obat.
Terapi dan obat yang bisa menyebabkan Stevens-Johnson syndrome adalah sebagai berikut.
Sementara itu, beberapa infeksi yang dapat menyebabkan sindrom ini adalah herpes simplex, herpes zoster, pneumonia, HIV, dan hepatitis.
Pada kasus tertentu, Stevens-Johnson syndrome juga dapat dipicu oleh rangsangan fisik, seperti radioterapi dan sinar ultraviolet.
Namun, penyebab pastinya tidak selalu bisa dipastikan sehingga kondisi ini sulit untuk dicegah.
Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda untuk terkenda sindrom Stevens-Johnson adalah sebagai berikut.
Artikel terkait
Beberapa komplikasi yang bisa timbul akibat sindrom Stevens-Johnson adalah sebagai berikut.
Sepsis merupakan kondisi medis serius yang terjadi ketika respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi menjadi tidak terkendali.
Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan pada berbagai bagian tubuh, kerusakan organ, kegagalan fungsi organ, hingga kematian jika tidak ditangani.
Ruam yang disebabkan oleh Stevens-Johnson syndrome bisa menyebabkan peradangan pada mata. Pada kasus ringan, sindrom ini bisa menyebabkan iritasi dan mata kering.
Namun, pada kasus yang parah, SJS dapat menyebabkan kerusakan dan jaringan parut sehingga terjadilah gangguan penglihatan atau bahkan kebutaan.
Sindrom Stevens-Johnson dapat menyebabkan gagal napas akut, yaitu keadaan darurat medis yang terjadi saat paru-paru tidak mampu menyalurkan oksigen ke dalam aliran darah.
Ketika kulit tumbuh kembali, mungkin ada area kulit yang tidak bisa 100% pulih seperti semula. Bisa saja ada benjolan, kelainan warna, atau bekas luka yang kentara.
Selain gangguan pada kulit, kondisi ini dapat menyebabkan rambut rontok. Kuku jari tangan dan kaki mungkin juga tidak akan tumbuh dengan normal.
Dikutip dari situs Mayo Clinic, berikut ini adalah beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis Stevens-Johnson syndrome.

Dokter mungkin merekomendasikan beberapa pilihan pengobatan untuk sindrom Stevens-Johnson. Berikut di antaranya.
Langkah pertama untuk mengatasi sindrom Stevens-Johnson yakni menghentikan penggunaan obat-obatan yang kemungkinan menyebabkan kondisi ini.
Pengidap Stevens-Johnson syndrome harus ditangani secara intensif di rumah sakit. Beberapa perawatan pendukung yang mungkin diterima adalah sebagai berikut.
Obat-obatan yang umumnya digunakan sebagai bagian dari perawatan sindrom Stevens-Johnson adalah sebagai berikut.
Beberapa tips berikut ini yang bisa Anda lakukan untuk mencegah Stevens-Johnson syndrome.
Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang sindrom ini, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan informasi dan solusi terbaik.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Stevens-Johnson syndrome. (2023). Mayo Clinic. Retrieved March 14, 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stevens-johnson-syndrome/symptoms-causes/syc-20355936
Steven-Johnson syndrome (SJS): Causes, rash & treatments. (2020). Cleveland Clinic. Retrieved March 14, 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17656-stevens-johnson-syndrome
Stevens-Johnson syndrome/toxic epidermal necrolysis. (n.d.). MedlinePlus. Retrieved March 14, 2025, from https://medlineplus.gov/genetics/condition/stevens-johnson-syndrome-toxic-epidermal-necrolysis/
Stevens-Johnson syndrome. (n.d.). Genetic and Rare Diseases Information Center. Retrieved March 14, 2025, from https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/7700/stevens-johnson-syndrometoxic-epidermal-necrolysis
Lee, E. Y., Knox, C., & Phillips, E. J. (2023). Worldwide prevalence of antibiotic-associated Stevens-Johnson syndrome and toxic epidermal Necrolysis. JAMA Dermatology, 159(4), 384. https://doi.org/10.1001/jamadermatol.2022.6378
Hasegawa, A., & Abe, R. (2020). Recent advances in managing and understanding Stevens-Johnson syndrome and toxic epidermal necrolysis. F1000Research, 9, 612. https://doi.org/10.12688/f1000research.24748.1
Versi Terbaru
25/04/2025
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Edria
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro