backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Mengenal Informed Consent, Hak Pasien yang Harus Diketahui

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu

Mengenal Informed Consent, Hak Pasien yang Harus Diketahui

Sebelum melakukan berbagai tindakan, biasanya dokter atau tenaga medis akan memberitahu Anda tentang perawatan yang akan dilakukan. Hal ini disebut dengan informed consent atau persetujuan tindakan medis. Cari tahu lebih lengkap mengenai tujuan dan persyaratannya.

Informed consent adalah informasi yang diberikan kepada pasien dari tenaga medis tentang prosedur, tes, risiko, dan manfaat berbagai tindakan, obat-obatan, atau perlakuan apa pun terhadap tubuh pasien. 

Saat menyampaikan informed consent, artinya dokter memastikan pasien mengetahui dan memberikan izin tentang prosedur yang akan dilakukan.

Di beberapa negara, persetujuan tindakan medis juga disampaikan saat euthanasia, yaitu prosedur suntik mati. Namun, di Indonesia, tindakan ini dinilai kontroversial dan menentang etika medis.

Persetujuan yang diinformasikan tenaga medis kepada pasien biasanya berupa hal-hal berikut ini.

  • Informasi tentang diagnosis.
  • Nama penyakit atau informasi kondisi medis pasien.
  • Jenis tes atau pengobatan yang direkomendasikan atau akan dilakukan oleh tenaga medis.
  • Manfaat dan risiko pengobatan (atau tanpa pengobatan).
  • Bagaimana dan oleh siapa prosedur akan dilaksanakan.
  • Ada tidaknya pengobatan alternatif, atau tindakan, termasuk jika memilih prosedur tersebut.
  • Perkiraan biaya tindakan dan pengobatan.

Dengan menandatangani dokumen informed consent, berarti pasien menyetujui beberapa hal berikut ini.

  • Menerima semua informasi tentang pilihan pengobatan dari penyedia layanan kesehatan.
  • Memahami informasinya setelah pasien konsultasi medis.
  • Menggunakan informasi ini untuk memutuskan untuk menerima pilihan pengobatan yang direkomendasikan.

Formuli informed consent adalah dokumen yang memiliki legalitas hukum yang memungkinkan dokter melanjutkan rencana perawatannya.

Mengapa informed consent itu penting?

Informed consent penting dalam praktik medis karena memberi pasien otonomi dan hak untuk memilih atau menolak perawatan berdasarkan informasi yang cukup. Persetujuan tindakan medis yang diinformasikan juga menghindari kesalahpahaman dan konflik antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Dokter dan pasien konsultasi informed consent

Informed consent berlaku kapan pun pasien menerima pemeriksaan atau prosedur medis lainnya, baik dengan risiko komplikasi rendah, sedang, maupun tinggi.

Berikut ini beberapa prosedur yang memerlukan informed consent.

  • Pengobatan, baik yang risiko rendah hingga tinggi.
  • Tes dan intervensi medis yang masuk ke dalam tubuh, seperti endoskopi.
  • Operasi.
  • Pemberian obat bius.
  • Implan medis.
  • Penggunaan radiasi.
  • Biopsi.
  • Tranasfusi darah.
  • Pengujian genetik.
  • Kemoterapi.
  • Uji klinis yang melibatkan subjek penelitian manusia (termasuk penelitian psikologi).
  • Prosedur yang melibatkan mahasiswa kedokteran.
  • Vaksin tertentu.

Sebelum Anda menyetujui  informed consent, pastikan untuk memahami hal-hal berikut ini.

  • Apakah ada hal lain yang bisa dilakukan?
  • Apa yang mungkin terjadi selama proses tersebut?
  • Apa yang mungkin terjadi akibat pengobatan tersebut?
  • Apa yang bisa terjadi tanpa pengobatan?

Tidak ada aturan yang mengatakan Anda harus segera membuat keputusan dan menandatangani formulir segera setelah diserahkan kepada Anda.

Anda juga bisa meminta waktu untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam proses perawatan Anda. 

Syarat dan pengecualian

Pemberian informed consent harus kepada pasien 18 tahun ke atas, pernah menikah, sadar secara penuh, sehat secara mental, dan bisa memahami penjelasan dokter dengan baik.

Jika tidak dalam kondisi tersebut, pasien dapat diwakili oleh keluarga atau wali lainnya. Dikutip dari Cleveland Clinic, berikut ini beberapa pengecualian yang diakui terhadap aturan tersebut.

1. Ketika pasien tidak berdaya

Ketika pasien tidak dapat memahami informasi medis karena kondisi tertentu, seperti kehilangan kesadaran, informed consent dapat diwakilkan.

Biasanya, anggota keluarga terdekat seperti pasangan, orangtua, atau anak dewasa dianggap sebagai perwakilan yang sah.

Wali perlu memahami situasi medis pasien, menerima informasi medis yang disampaikan, dan mengambil keputusan yang terbaik untuk pasien.

2. Saat keadaan darurat

Persetujuan darurat dapat ditetapkan dalam situasi darurat, seperti kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, dan pendarahan hebat, yang membutuhkan perawatan medis mendesak. 

Dalam situasi ini, tenaga medis berwenang mengambil tindakan medis yang diperlukan tanpa informed consent, dengan tujuan menyelamatkan nyawa atau mencegah komplikasi serius.

3. Pasien berada di bawah umur

adenoidektomi

Ketika pasien masih di bawah umur (di bawah usia 18 tahun), orangtua atau wali sah bertanggung jawab untuk memberikan informed consent atas nama anak tersebut.

Anak-anak dianggap belum memiliki kapasitas hukum untuk membuat keputusan medis yang kompleks. Oleh karena itu, orang tua atau wali harus mengambil keputusan mengenai perawatan yang sedang dijalani anak.

Persetujuan informed consent yang Anda berikan bisa berbentuk lisan atau tertulis. Dalam kebanyakan kasus, Anda masih dapat berubah pikiran meski telah memberikan persetujuan pada prosedur atau operasi tertentu.

Pastikan Anda memberi tahu dokter atau ahli kesehatan dengan jelas jika berubah pikiran.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan