Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

10 Penyebab Alis Kedutan, dari Sepele sampai Serius

10 Penyebab Alis Kedutan, dari Sepele sampai Serius

Mitosnya, alis kedutan pertanda akan ada rezeki yang datang. Padahal, faktanya bukan seperti itu. Alis yang berkedut sebenarnya berhubungan dengan kebiasaan sehari-hari yang Anda lakukan. Bahkan, alis kedutan bisa menjadi tanda masalah kesehatan, berikut penjelasannya.

Alis kedutan normal atau tidak?

Mengutip dari NHS, mata berkedut adalah kondisi umum dan sangat sering terjadi sehingga bukan menjadi masalah serius.

Umumnya, seseorang mengalami mata kedutan karena beberapa hal, yaitu:

  • stres dan merasa cemas,
  • kelelahan,
  • terlalu banyak minum kafein atau alkohol, dan
  • penggunaan obat-obatan tertentu.

Kedutan bisa terjadi pada semua bagian tubuh, mulai dari mata, tangan, sampai kaki. Anda mungkin merasa kaku atau kram di area yang sama.

Apa penyebab alis kedutan?

Kedutan menandakan otot sekitar jaringan menegang sehingga terjadi gerakan yang tidak Anda inginkan.

Kondisi ini bisa terjadi pada seluruh bagian tubuh, termasuk kelopak mata.

Otot kelopak mata yang menegang bisa menggerakan kulit di sekitar alis. Inilah yang jadi penyebab kedutan di alis.

Pada kebanyakan kasus, alis kedutan terjadi dalam beberapa detik, menit, atau jam dan akan hilang dengan sendirinya.

Meski tidak menimbulkan rasa nyeri, alis yang terus berkedut pasti menimbulkan rasa tidak nyaman.

Supaya dapat mengatasinya, Anda perlu tahu apa penyebab alis berkedut yang sering terkesan sepele, tetapi bisa menjadi tanda penyakit serius.

Berikut penyebab alis kedutan mulai dari kondisi ringan sampai tanda masalah kesehatan serius.

trakoma

1. Terlalu banyak kafein

Mengonsumsi terlalu banyak kafein bisa memicu jaringan otot menegang sehingga alis berkedut. Kafein memicu reaksi adrenalin karena sistem saraf menganggapnya sebagai adenosin.

Adenosin adalah senyawa kimia yang berfungsi sebagai penghambat sinyal otak dan berhubungan dengan penerimaan pada otak.

Saat kafein memanfaat seluruh reseptor adenosin di otak, sel tubuh akan lebih aktif karena tidak ada adenosin yang membuat tubuh lebih rileks.

Kondisi ini yang membuat otak merasa situasi tersebut sebagai pertanda bahaya dan bereaksi pada adrenalin.

Kafein tidak hanya kopi, tetapi juga ada di dalam teh, cokelat, minuman berenergi dan bersoda. Batas konsumsi kafein per hari adalah 400 miligram.

Jadi, perhatikan kembali asupan kopi dan minuman berkafein lainnya yang Anda minum setiap hari agar tidak berlebihan.

2. Minum alkohol dan merokok

Sama seperti efek kafein, minuman beralkohol dan rokok juga merangsang otot tubuh jadi tegang dan berkedut.

Jika kebiasaan ini terus Anda lakukan, alis kedutan bisa sering terjadi.

Konsumsi minuman beralkohol dan menghirup asap rokok dalam jangka panjang berdampak buruk pada kesehatan tubuh Anda.

Untuk itu, mengurangi asupan alkohol dan berhenti merokok bukan hanya mencegah alis kedutan, tetapi menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

3. Pakai obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat-obatan bisa memicu mata berkedut, seperti antipsikotik dan obat antiepileptik.

Efek samping dari penggunaan obat tersebut sering menyebabkan otot menegang dan tremor (tubuh gemetaran).

Penggunaan obat diuretik juga bisa menyebabkan tubuh kekurangan magnesium sehingga otot akan rentan mengejang.

Jika Anda mencurigai obat-obatan tersebut yang menjadi penyebab kedutan di alis, jangan hentikan pengobatan tanpa izin dokter.

Selalu dahulukan konsultasi dokter sebelum mengurangi dosis dan mungkin akan meresepkan obat jenis lain atau menurunkan dosisnya.

4. Mata lelah

Menghabiskan banyak waktu menatap layar ponsel atau komputer pasti membuat Anda lelah. Pada saat itu, mata harus bekerja sangat keras sehingga akan menegang dan berkedut.

Supaya mata tidak lelah, pastikan mata beristirahat di sela-sela kerja dan pastikan jarak mata ketika melihat benda juga sesuai.

Selain itu, kelelahan mata bisa terjadi karena masalah refraksi seperti, rabun dekat, rabun jauh, atau silinder saat Anda berusaha melihat tanpa bantuan kacamata.

5. Stres dan kurang tidur

Stres sering kali membuat jam tidur Anda berantakan, tidur larut, bangun siang, dan mata terasa lelah.

Mata yang lelah ini jika Anda paksakan untuk bekerja dan beraktivitas seharian, bisa menegang.

Pada akhirnya, akan menyebabkan alis kedutan yang membuat Anda tidak nyaman. Anda bisa coba perbaiki lagi waktu tidur dan kurangi stres.

6. Tubuh kekurangan magnesium

Magnesium sangat berperan penting dalam fungsi saraf karena menyeimbangkan sel saraf dan otot.

Jika kadar magnesium terlalu rendah, pengiriman sinyal ke saraf juga akan rendah sehingga menyebabkan kedutan tidak terkendali pada alis dan kelopak mata.

Mengingat kulit sekitar mata sangat tipis, Anda akan bisa merasakan kedutan atau getaran pada alis dan kelopak mata lebih cepat dari otot lainnya.

Anda bisa mengonsumsi makanan tinggi magnesium seperti, pisang, alpukat, dark chocolate, dan kacang-kacangan untuk mengurangi kedutan area mata.

akibat memakai kacamata minus yang tidak sesuai

7.Kejang hemifasial

Pada kondisi tertentu, alis dan area mata yang berkedut bisa terjadi karena penyakit kejang hemifasial.

Kejang hemifasial terjadi ketika saraf wajah teriritasi dan kondisi ini bisa terjadi seumur hidup. Biasanya menyerang sisi kiri wajah, tetapi sering juga pada area mata.

Penelitian terbitan Deutsches Ärzteblatt International menunjukkan bahwa kejang hemifasial adalah kondisi jarang dengan perbandingan 11:100.000 orang.

8. Bell’s palsy

Kondisi ini menyebabkan kelumpuhan sementara pada wajah karena kerusakan pada saraf area tersebut.

Secara fisik, bell’s palsy membuat bentuk wajah berubah sebelah, terkadang terlihat seperti menurun atau ‘melorot’.

Penyebab kondisi ini masih belum pasti, tetapi berhubungan dengan penyakit diabetes, hipertensi, dan infeksi telinga.

Kedutan pada alis dan otot wajah bisa menjadi gejala komplikasi dari penyakit bell’s palsy yang terjadi selama atau setelah pemulihan.

9. Dystonia

Kondisi ini mengacu pada kejang otot tidak terkendali menyebabkan otot bergerak lambat. Dystonia bisa memengaruhi bagian tubuh termasuk mata dan alis.

Biasanya kondisi ini terjadi pada orang yang memiliki penyakit Parkinson, radang otak, aneurisma otak, ensefalopati, dan stroke.

10. Multiple sclerosis

Penyakit ini memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf pusat dan alis berkedut.

Gejala lain dari multiple sclerosis yaitu:

  • kelelahan luar biasa,
  • sulit berjalan,
  • gangguan bicara,
  • tubuh gemetar (tremor),
  • sulit berkonsentrasi,
  • kesulitan mengingat.

Multiple sclerosis tidak ada obatnya, tetapi bisa melakukan terapi untuk mengurangi rasa sakit dan rasa tidak nyaman.

Alis kedutan biasanya bukan kondisi serius, tetapi bila terjadi terus menerus sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika kondisi ini terus terjadi dan terasa tidak normal lagi, sebaiknya segera periksakan kondisi Anda ke dokter.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Why Does My Eye Twitch?. (2022). Retrieved 17 January 2022, from https://www.allaboutvision.com/conditions/eye-twitching.htm

Eye twitching. (2022). Retrieved 17 January 2022, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/eye-twitching/basics/definition/sym-20050838

Bell’s Palsy Fact Sheet | National Institute of Neurological Disorders and Stroke. (2022). Retrieved 17 January 2022, from https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Bells-Palsy-Fact-Sheet

Twitching eyes and muscles . (2018). Retrieved 17 January 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/twitching-eyes-and-muscles/

Rosenstengel, C., Matthes, M., Baldauf, J., Fleck, S., & Schroeder, H. (2012). Hemifacial Spasm. Deutsches Ärzteblatt International. doi: 10.3238/arztebl.2012.0667

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Jan 21
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita