9 Penyebab Bintik Merah Setelah Demam yang Perlu Diperhatikan

    9 Penyebab Bintik Merah Setelah Demam yang Perlu Diperhatikan

    Beberapa penyakit yang menyerang anak-anak dan orang dewasa dapat menimbulkan gejala berupa bintik merah yang muncul setelah demam.

    Apa saja penyebab dari kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

    Penyebab bintik merah setelah demam

    dbd penanganan obat demam berdarah dbd

    Pada dasarnya, demam merupakan respons normal tubuh untuk meningkatkan suhu ketika melawan infeksi. Seseorang bisa dikatakan demam bila suhu tubuhnya lebih tinggi dari 38°C.

    Selain suhu yang naik, demam yang disebabkan oleh infeksi juga dapat disertai gejala lain, seperti munculnya bintik merah pada sebagian atau bahkan seluruh tubuh.

    Berikut ini merupakan beberapa jenis penyakit yang bisa menjadi penyebab keluarnya bintik merah setelah demam, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

    1. Demam berdarah

    Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular akibat virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini bisa dialami anak-anak maupun orang dewasa.

    Gejala demam berdarah biasanya dimulai dengan demam tinggi hingga 40°C yang akan muncul 4–7 hari setelah infeksi. Lalu, bintik merah datar akan mulai muncul setelah demam.

    Pasien demam berdarah membutuhkan penanganan yang baik. Jika tidak, DBD dapat memicu sindrom syok dengue dengan risiko perdarahan serius.

    2. Campak

    Bintik merah setelah demam juga bisa disebabkan oleh campak. Penyakit ini disebabkan infeksi virus paramyxovirus yang ditularkan lewat kontak langsung atau melalui udara.

    Gejala penyakit campak sering muncul satu hingga dua minggu setelah terinfeksi virus. Ini bisa berupa demam hingga 40°C, batuk, pilek, dan mata merah berair.

    Ruam muncul 3–5 hari setelah gejala dimulai. Umumnya, ruam diawali dengan bintik merah datar pada garis rambut, lalu menyebar ke wajah, leher, badan, dada, perut, lengan, dan kaki.

    Campak berbahaya bagi bayi dan anak-anak. Namun, penyakit ini bisa Anda cegah lewat imunisasi pada bayi dan anak untuk membangun kekebalan terhadap penyakit tertentu.

    3. Rubela

    Meski memiliki gejala yang mirip dengan campak, rubela atau campak jerman disebabkan virus yang berbeda, yakni virus rubella dari genus Rubivirus.

    Infeksi rubela bisa dimulai dengan demam ringan selama 1–2 hari dan pembengkakan kelenjar getah bening, terutama pada bagian belakang leher atau telinga.

    Setelahnya, bintik merah akan muncul, mulai pada wajah kemudian menyebar ke tubuh bagian bawah. Ruam ini bisa terasa gatal dan berlangsung selama tiga hari.

    Pemberian vaksin MMR bisa mencegah campak jerman (rubella) pada anak-anak. Vaksin ini juga membantu mencegah campak (measles) dan gondongan (mumps).

    4. Cacar air

    cara menghilangkan gatal cacar air

    Bintik merah gatal yang keluar setelah demam bisa menjadi tanda cacar air pada orang dewasa. Ini bisa dialami orang yang belum pernah terkena cacar air atau memperoleh vaksin sebelumnya.

    Gejala umum dari cacar air yakni ruam gatal yang berubah menjadi lepuh berisi cairan. Seiring waktu, lepuh ini akan pecah dan pada akhirnya meninggalkan keropeng pada kulit.

    Ruam pertama kali muncul pada bagian dada, punggung, atau wajah. Kemudian, ruam menyebar ke seluruh tubuh, termasuk di dalam mulut, kelopak mata, hingga area genital.

    5. Roseola

    Roseola merupakan penyakit infeksi virus yang mudah menular pada bayi berusia enam bulan hingga anak-anak berusia dua tahun. Penyakit ini disebabkan infeksi herpesvirus tipe 6 dan tipe 7.

    Pada bayi dan anak-anak, roseola dapat menyebabkan gejala berupa bintik atau ruam merah yang terjadi setelah demam tinggi selama beberapa hari.

    Mulanya, ruam muncul pada bagian batang tubuh, seperti dada, perut, dan punggung. Lalu, bercak merah ini akan menyebar hingga ke leher, wajah, lengan, dan kaki.

    Roseola yang terjadi pada bayi dan anak-anak tidak berbahaya. Penyakit ini biasanya mereda dalam seminggu setelah kemunculan gejala.

    6. Penyakit kelima (fifth disease)

    Selain roseola, penyakit kelima atau fifth disease juga menjadi infeksi virus ringan yang sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus parvovirus B19.

    Gejala penyakit ini sering kali ringan dan jarang disadari. Tanda-tandanya dapat berupa demam ringan, sakit kepala, dan pilek, lalu disertai ruam kemerahan pada pipi dalam beberapa hari.

    Ruam dapat menyebar ke bokong, lengan, dan kaki dalam 2–4 hari. Gejala penyakit kelima umumnya akan mereda dan sembuh dalam 7–10 hari setelahnya.

    7. Flu singapura

    Kemunculan bintik merah setelah demam pada telapak tangan dan kaki dapat disebabkan oleh penyakit flu singapura atau hand, foot, and mouth disease (HFMD).

    Selain itu, gejala juga bisa disertai dengan rasa tidak enak badan, sakit tenggorokan, dan munculnya lesi merah yang menyakitkan pada lidah, gusi, maupun bagian dalam pipi.

    HFMD paling sering menyerang anak-anak berusia di bawah 10 tahun. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai jenis virus, dengan yang paling umum ialah coxsackievirus A16.

    Pada umumnya, penyakit ini tidak berbahaya dan tidak memerlukan perawatan khusus. Gejala flu singapura biasanya akan hilang dalam dua minggu.

    8. Demam scarlet

    flu singapura atau hand foot mouth disease

    Selain virus, gejala ruam dan bintik merah setelah demam juga menandakan demam scarlet, yakni suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Streptococcus grup A.

    Pada awalnya, penyakit ini ditandai dengan gejala menyerupai flu, seperti demam tinggi, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

    Ruam kemerahan akan muncul 12–48 jam kemudian. Bagian kulit yang terdampak akan menjadi kasar dan mengelupas. Ini biasanya mulai terlihat pada bagian dada dan perut, lalu ke seluruh tubuh.

    Demam scarlet dapat berlangsung selama satu minggu. Penyakit ini mungkin menimbulkan komplikasi serius, terutama bila penanganannya tidak tepat.

    9. COVID-19

    Beberapa pasien COVID-19 dilaporkan memiliki bintik dan ruam pada kulitnya. Bintik merah ini bisa keluar setelah demam dan terasa gatal pada orang dewasa maupun anak-anak.

    Pada kasus tertentu, masalah kulit ini mungkin muncul bersama gejala awal infeksi COVID-19 lainnya, seperti tidak enak badan, sakit tenggorokan, batuk, dan sakit kepala.

    Secara umum, bintik dan ruam merah akibat penyakit ini bertahan selama 2–12 hari. Namun, kebanyakan pasien merasakannya selama delapan hari.

    Masalah kulit ini juga bisa menyerang jari kaki dan berlangsung lebih lama, sekitar 10–14 hari.

    Cara mengatasi bintik merah setelah demam

    Segera hubungi dokter bila Anda mengalami demam hingga 40°C yang disertai gejala lain, seperti sakit kepala, mual, muntah, kesulitan bernapas, sakit perut, hingga kejang.

    Pengobatan bintik merah setelah demam disesuaikan dengan penyebabnya. Umumnya, ruam pada kulit ini akan hilang dengan sendirinya setelah penyakit tersebut teratasi.

    Pada kasus demam scarlet yang disebabkan bakteri, dokter dapat meresepkan antibiotik untuk menyembuhkan infeksi dan mencegah penyakit ini menular ke orang lain.

    Sementara itu, kasus infeksi virus biasanya sembuh sendiri dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Dokter mungkin meresepkan obat antivirus bila diperlukan.

    Dokter juga bisa meresepkan obat lain untuk mengatasi gejala yang menyertainya, misalnya obat pereda nyeri dan salep antigatal.

    Untuk mengatasi demam dan bintik merah yang muncul setelahnya, Anda juga bisa mencoba melakukan perawatan di rumah seperti berikut.

    • Minum lebih banyak air putih dan mengonsumsi makanan sehat.
    • Mendinginkan tubuh, seperti mengenakan pakaian tipis dan menjaga suhu ruangan.
    • Kompres dengan air hangat.
    • Istirahat yang cukup.

    Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai kondisi ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Fever. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 23 September 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fever/symptoms-causes/syc-20352759

    Fever. MedlinePlus. (2020). Retrieved 23 September 2022, from https://medlineplus.gov/ency/article/003090.htm

    Dengue fever. MedlinePlus. (2021). Retrieved 23 September 2022, from https://medlineplus.gov/ency/article/001374.htm

    Hand-foot-mouth disease. MedlinePlus. (2021). Retrieved 23 September 2022, from https://medlineplus.gov/ency/article/000965.htm

    Chickenpox (Varicella) Signs and Symptoms. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Retrieved 23 September 2022, from https://www.cdc.gov/chickenpox/about/symptoms.html

    Measles (Rubeola) Signs and Symptoms. Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Retrieved 23 September 2022, from https://www.cdc.gov/measles/symptoms/signs-symptoms.html

    Rubella (German Measles) (for Parents). Nemours KidsHealth. (2021). Retrieved 23 September 2022, from https://kidshealth.org/en/parents/german-measles.html

    Roseola (for Parents). Nemours KidsHealth. (2019). Retrieved 23 September 2022, from https://kidshealth.org/en/parents/roseola.html

    Fifth disease (Slapped cheek disease). Healthdirect Australia. (2022). Retrieved 23 September 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/fifth-disease

    Scarlet fever. NHS UK. (2021). Retrieved 23 September 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/scarlet-fever/

    Covid Toes, Rashes: How The Coronavirus Can Affect Your Skin. American Academy of Dermatology. (2020). Retrieved 23 September 2022, from https://www.aad.org/public/diseases/coronavirus/covid-toes

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Oct 04
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa