home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Koma: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Perawatan, dll

Koma: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Perawatan, dll
Definisi koma|Tanda-tanda & gejala koma|Penyebab koma|Faktor-faktor risiko koma|Diagnosis untuk pasien koma|Pengobatan untuk pasien koma|Perawatan untuk pasien koma|Komplikasi dari koma

Definisi koma

Koma adalah istilah yang menggambarkan kondisi tidak sadarkan diri dari seorang pasien hingga tidak bisa memberikan reaksi apa pun terhadap lingkungan sekitarnya.

Selain tidak sadarkan diri, orang yang sedang dalam kondisi koma hampir tidak mengalami aktivitas apa pun pada otaknya. Artinya, pasien yang sedang koma juga tidak bisa memberikan respons terhadap suara, sentuhan, hingga rasa sakit.

Pasien koma akan kembali sadar seiring berjalannya waktu. Meski begitu, masing-masing pasien membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk akhirnya memiliki kesadaran diri.

Ada yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, tapi ada juga yang harus berada pada kondisi ini selama bertahun-tahun. Cepat atau tidaknya pasien kembali sadarkan diri tergantung pada area otak yang mengalami kerusakan dan seberapa luas area otak yang masih bisa berfungsi.

Koma bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang, masalah metabolisme, gangguan pada sistem saraf pusat, stroke, hernia, hipoksia, hipotermia, atau cedera yang menyebabkan trauma.

Tentu saja, koma termasuk kondisi darurat, sehingga kondisi ini harus segera diatasi untuk menyelamatkan nyawa pasien serta fungsi dari otaknya.

Namun, koma juga bisa terjadi secara disengaja dengan menggunakan obat-obatan kimia untuk tujuan medis. Contohnya, untuk menyelamatkan pasien agar tidak merasakan sakit saat proses pemulihan suatu kondisi tertentu.

Seberapa umum kondisi ini?

Siapa saja bisa mengalami kondisi ini, mulai dari balita hingga lansia. Oleh sebab itu, cobalah untuk peka terhadap berbagai hal yang terjadi pada tubuh Anda untuk menghindari kondisi yang satu ini.

Jika Anda merasakan ada suatu hal yang janggal dari tubuh, jangan ragu untuk memeriksakan kondisinya ke dokter.

Tanda-tanda & gejala koma

Untuk memastikan apakah orang terdekat mengalami koma, cobalah perhatikan apakah ada gejala atau tanda dari koma yang muncul, seperti:

  • Mata yang tertutup.
  • Pupil mata tidak bisa merespon cahaya.
  • Tidak ada pergerakan pada kaki.
  • Tidak ada respons terhadap rasa sakit.
  • Napas yang tidak beraturan.

Tidak semua gejala koma mungkin disebutkan di atas. Jika Anda mengetahui orang terdekat memiliki salah satu dari gejala tersebut, lebih baik segera periksakan kondisinya ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan segera.

Penyebab koma

Koma bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya:

1. Cedera otak

Cedera pada otak dapat mengganggu fungsi normalnya. Kondisi ini bisa terjadi akibat kecelakaan kendaraan atau tindakan kekerasan yang diarahkan pada kepala. Bahkan, otak Anda bisa saja mengalami cedera jika tertimpa atau terantuk benda yang cukup keras.

Ada beberapa ciri dari cedera otak, salah satunya adalah kehilangan kesadaran diri, amnesia, atau gangguan saraf seperti lemah otot dan gangguan penglihatan.

Gejala dari kondisi ini bervariasi, ada yang ringan, sedang, hingga berat. Biasanya, hal ini tergantung pada kerusakan yang dialami oleh otak. Pada tingkatan yang sudah parah, cedera otak dapat menyebabkan pasien mengalami koma hingga meninggal.

2. Stroke

Stroke terbagi atas dua jenis, yaitu stroke sumbatan dan stroke perdarahan. Stroke sumbatan atau dikenal sebagai stroke iskemik merupakan jenis stroke yang terjadi akibat adanya penyumbatan pada pembuluh darah di otak.

Sementara itu, stroke perdarahan atau stroke hemoragik adalah stroke akibat adanya perdarahan di otak. Keduanya sama-sama dapat menjadi penyebab terhambatnya atau berkurangnya aliran darah menuju ke otak.

Pada tingkatan yang parah, kedua jenis stroke tersebut bisa menyebabkan pasien mengalami koma untuk beberapa saat karena otak tidak menerima cukup darah sehingga tidak bisa menerima cukup oksigen dan nutrisi yang dibutuhkannya.

3. Tumor otak

Tumor sebenarnya bisa muncul di mana saja. Namun, jika tumor terdapat di dalam otak, apalagi dalam ukuran besar, ia dapat menyebabkan berbagai masalah. Mulai dari masalah ingatan, gangguan keseimbangan, perdarahan di otak, hilangnya fungsi tubuh, hingga koma.

4. Diabetes

Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi akibat diabetes adalah koma. Kondisi ini termasuk yang dapat membahayakan nyawa, apalagi biasanya koma terjadi akibat kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Saat mengalami kondisi ini, Anda tidak sadarkan diri dan tidak bisa memberikan respons terhadap lingkungan di sekitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi bisa berakibat fatal untuk kesehatan Anda.

5. Infeksi pada otak

Infeksi otak seperti ensefalitis (radang otak) serta meningitis (radang selaput otak) dapat menyebabkan pembengkakan di area otak, sumsum tulang belakang, atau jaringan yang mengelilingi otak.

Infeksi yang sudah tergolong parah berpotensi menyebabkan kerusakan pada otak atau koma.

6. Kejang

Kejang adalah gangguan listrik yang tidak terkontrol dan terjadi secara tiba-tiba pada otak. Kondisi ini bisa menyebabkan perubahan pada sikap, pergerakan, perasaaan hingga kesadaran diri. Oleh sebab itu, Anda mungkin saja mengalami koma setelah kejang.

7. Kekurangan oksigen

Pernahkah Anda menyaksikan orang yang baru saja diselamatkan setelah tenggelam di laut dan tidak sadarkan diri? Dalam kondisi tersebut, orang tersebut sedang mengalami koma karena kekurangan oksigen pada otak.

Hal tersebut juga bisa terjadi pada orang yang baru saja mengalami serangan jantung.

8. Keracunan

Frekuensi terpapar zat beracun seperti karbon monoksida dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan koma. Artinya, semakin sering Anda terpapar zat tersebut, semakin tinggi pula risiko mengalami kondisi ini.

9. Mengonsumsi obat dan minum alkohol secara berlebihan

Melakukan segala sesuatu secara berlebihan memang tidak baik. Hal ini juga berlaku pada kebiasaan mengonsumsi alkohol atau obat.

Meski obat tersebut adalah obat yang diresepkan oleh dokter, tak seharusnya Anda mengonsumsinya terus-menerus atau secara berlebihan, salah satunya karena dapat memicu Anda mengalami koma.

Faktor-faktor risiko koma

Selain penyebab, ada kondisi-kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami kondisi ini. Di antaranya:

  • Penyakit serius.
  • Diabetes.
  • Penyakit jantung.
  • Masalah liver atau ginjal.
  • Kecenderungan tubuh membentuk gumpalan darah.
  • Paparan pada zat beracun, seperti karbon dioksida.
  • Penyakit kanker.
  • Menjalani kemoterapi.

Sementara itu, faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi Anda mengalami cedera otak, salah satu penyebab utama terjadinya koma, ialah:

  • Bepergian menggunakan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
  • Kurang tidur.
  • Sebelumnya sudah pernah mengalami cedera otak.

Diagnosis untuk pasien koma

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apabila orang terdekat Anda mengalami koma, besar kemungkinan bahwa dokter akan membutuhkan banyak informasi mengenai pasien untuk membantu menentukan pengobatan yang sesuai.

Anda mungkin harus mempersiapkan informasi apa saja yang sekiranya akan dibutuhkan oleh dokter. Oleh karenanya, siapkan berbagai kemungkinan dari pertanyaan dokter yang mungkin harus Anda jawab.

Biasanya, dokter akan bertanya seputar kondisi pasien sebelum mengalami koma, seperti berikut:

  • Gejala yang muncul sebelum mengalami koma, seperti muntah atau sakit kepala.
  • Informasi mendetil mengenai tingkat kesadaran pasien sebelum koma, apakah perlahan menurun atau kehilangan kesadaran diri secara mendadak.
  • Riwayat kesehatan dari pasien, termasuk berbagai penyakit yang dimilikinya, seperti stroke atau transient ischaemic attacks (TIA).
  • Perubahan uyang baru-baru ini terjadi pada sikap atau kondisi kesehatan pasien.
  • Obat-obatan yang digunakan oleh pasien, mulai dari yang diresepkan oleh dokter maupun yang dibeli sendiri di apotek.

Setelah itu, dokter baru akan melakukan beberapa tes untuk melakukan diagnosis menyeluruh terhadap kondisi kesehatan pasien. Tes-tes tersebut di antaranya:

1. Tes fisik

Pada pelaksanaannya, tes fisik biasanya dilakukan dengan cara:

  • Memeriksa pergerakan tubuh dan refleks, respons terhadap rasa sakit, dan ukuran pupil pasien.
  • Memeriksa pola bernapas dari pasien untuk membantu mendiagnosis penyebab terjadinya koma.
  • Memeriksa kulit pasien untuk mencari adanya tanda atau gejala seperti memar akibat trauma.
  • Berbicara dengan lantang atau memberi tekanan pada sisi-sisi tempat tidur untuk memastikan adanya reaksi seperti suara atau gerakan mata.
  • Memastikan pergerakan mata untuk menentukan penyebab dari kondisi ini dan lokasi otak yang mengalami kerusakan.
  • Memasukkan cairan dingin atau panas ke dalam saluran telinga untuk melihat adanya reaksi dari mata pasien.

2. Tes laboratorium

Pada tes yang satu ini, dokter biasanya akan meminta izin Anda untuk mengambil sampel darah dari pasien untuk memeriksa beberapa hal, seperti:

  • Jumlah darah.
  • Fungsi glukosa, tiroid, ginjal, dan liver dalam tubuh pasien.
  • Tanda atau gejala keracunan karbon monoksida.
  • Overdosis akibat penggunaan obat-obatan atau alkohol secara berlebih.

3. Scan otak

Biasanya, untuk memastikan lokasi terjadinya kerusakan pada otak, dokter akan melakukan tes yang melibatkan pengambilan gambar otak dengan cara scanning. Beberapa tes yang bisa dilakukan termasuk:

a. CT Scan

Tes pengambilan gambar ini dilakukan dengan bantuan berbagai sinar X-ray untuk menghasilkan gambar yang jelas dan mendetil mengenai bagian dalam otak pasien.

CT Scan mampu menunjukkan adanya perdarahan di dalam otak, tumor, stroke, dan berbagai kondisi lainnya. Biasanya, tes ini dapat membantu menunjukkan penyebab dari koma.

b. Magnetic resonance imaging (MRI)

Tidak berbeda jauh dengan CT Scan, MRI juga berfungsi untuk melihat lebih jelas bagian dalam otak pasien menggunakan gelombang radio dan magnet. MRI bisa menunjukkan gambar yang lebih jelas dari dalam otak.

MRI bisa mendeteksi adanya kerusakan jaringan otak akibat stroke iskemik, perdarahan pada otak, dan berbagai masalah kesehatan otak lainnya. Namun, MRI paling efektif untuk mempelajari struktur batang otak dan struktur otak yang lebih dalam lainnya.

c. Elektroensefalografi (EEG)

Pada pelaksanaannya EGG digunakan dengan cara menempelkan elektroda-elektroda kecil yang ditempelkan di kulit kepala. Alat ini kemudian akan mengukur aktivitas listrik yang terjadi di dalam otak.

Dokter akan mengirimkan arus listrik dengan tingkatan rendah melalui elektroda untuk merekam dorongan listrik pada otak. Dengan melakukan tes ini, dokter bisa menentukan apakah kejang merupakan penyebab dari koma yang dialami pasien.

Pengobatan untuk pasien koma

Pengobatan awal yang akan dilakukan dokter untuk mengatasi kondisi ini adalah mengatasi penyebabnya dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah lagi pada otak.

Biasanya, pasien yang sedang koma akan dirawat secara intensif di intensive care unit (ICU). Jika pasien mengalami kesulitan dalam bernapas, ia akan dipasangi alat medis berupa respirator, sementara penyebabnya akan ditangani sesegera mungkin.

Pada kondisi tertentu, pasien mungkin harus menjalani operasi, seperti cedera di kepala. Hal ini bertujuan untuk menghentikan perdarahan atau mengurangi pembengkakan di otak.

Selama dokter dan tim medis mengatasi penyebab dari koma, sirkulasi darah pasien dan pernapasan pasien harus selalu dalam pengawasan yang ketat. Bahkan, kebutuhan pasien lain seperti cairan infus dan darah harus selalu tersedia.

Setelah melewati masa kritis dan kondisi pasien mulai stabil, pengobatan yang akan dilakukan adalah menjaga kondisi fisik pasien agar tetap stabil dan sehat, serta menghindari terjadinya berbagai komplikasi.

Contohnya, dengan memberikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, mencegah terjadinya infeksi, hingga menggerakkan tubuh pasien secara rutin demi menghindari terjadinya ulkus debitus atau bedsores.

Namun, ada juga pasien koma yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya di luar kendali. Tentu ahli medis profesional harus memperhatikan kondisinya demi mencegah pasien melukai dirinya sendiri tanpa sadar.

Perawatan untuk pasien koma

Menurut sebuah artikel yang dimuat pada website milik John Hopkins All Children’s Hospital, pasien koma membutuhkan perawatan yang intensif di rumah sakit. Oleh karena itu, intensive care unit (ICU) merupakan tempat yang tepat bagi para pasien ini.

Pasalnya, di ICU, pasien akan mendapatkan perawatan dan perhatian ekstra dari dokter dan tim medis profesional lainnya. Para ahli medis ini akan selalu memastikan bahwa pasien mendapatkan segala kebutuhan seperti cairan dan nutrisi.

Para ahli medis juga akan memberikan obat-obatan yang harus dikonsumsi pasien koma agar tubuhnya tetap sehat.

Mengingat pasien koma sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri, obat-obatan diberikan melalui selang yang dimasukkan melalui pembuluh vena. Tujuannya agar obat, cairan, dan nutrisi yang diberikan bisa masuk langsung ke dalam perut.

Tak lupa, beberapa pasien koma mungkin mengalami kesulitan dalam bernapas, sehingga membutuhkan bantuan alat kesehatan seperti ventilator, yaitu mesin yang memompa udara ke dalam paru-paru melalui tabung yang diletakkan pada batang tenggorokan.

Jika orang terdekat Anda ada yang mengalami kondisi ini, tentu terasa berat. Mungkin ada masa di mana Anda merasa tidak mampu menyaksikan secara langsung kondisi pasien yang sedang koma.

Namun, percayalah bahwa kehadiran Anda sangat berarti untuk proses pemulihan. Luangkan waktu untuk menjenguknya di rumah sakit dan membacakan buku, berbicara, atau memainkan musik untuk pasien.

Pasalnya, bisa saja pasien mendengarkan apa yang Anda ucapkan, perdengarkan, atau bacakan meski tidak bisa memberikan respons secara langsung. Hal ini, meski tidak bisa dibuktikan secara medis, mungkin dapat membantu proses pemulihan.

Komplikasi dari koma

Koma memang termasuk kondisi darurat dan dapat membahayakan nyawa. Namun, masih ada kemungkinan sembuh dari kondisi ini. Bahkan, tidak sedikit pasien yang berhasil sembuh dan terbangun dari “tidur panjangnya”.

Meski begitu, Anda juga perlu mengetahui dan memahami bahwa ada banyak pasien koma yang terus ada pada kondisi yang sama untuk waktu yang cukup lama. Bahkan, sebagian di antaranya pada akhirnya meninggal setelah koma berkepanjangan.

Tak hanya itu, sebagian dari pasien yang berhasil sadar dari koma akhirnya mengalami cacat tubuh. Berbagai komplikasi dari kondisi ini juga bisa terbentuk saat pasien sedang dalam kondisi koma.

Di antaranya termasuk infeksi saluran kencing, penggumpalan darah di area kaki, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Coma. Retrieved 2 December 2020, from https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=22822

Coma. Retrieved 2 December 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/coma/

Coma. Retrieved 2 December 2020, from https://brainfoundation.org.au/disorders/coma/

What is a Coma? Retrieved 2 December 2020, from https://www.hopkinsallchildrens.org/Patients-Families/Health-Library/HealthDocNew/What-Is-a-Coma

Diabetic coma. Retrieved 2 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetic-coma/symptoms-causes/syc-20371475#:~:text

End-of-life-care for People Who Have Cancer. Retrieved 2 December 2020, from https://www.cancer.gov/about-cancer/advanced-cancer/care-choices/care-fact-sheet

Trauma Brain Injury. Retrieved 2 December 2020, from https://www.aans.org/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Traumatic-Brain-Injury#

Seizures. Retrieved 2 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/seizure/symptoms-causes/syc-20365711

Pape, T. L., Rosenow, J. M., Steiner, M., Parrish, T., Guernon, A., Harton, B., Patil, V., Bhaumik, D. K., McNamee, S., Walker, M., Froehlich, K., Burress, C., Odle, C., Wang, X., Herrold, A. A., Zhao, W., Reda, D., Mallinson, T., Conneely, M., & Nemeth, A. J. (2015). Placebo-Controlled Trial of Familiar Auditory Sensory Training for Acute Severe Traumatic Brain Injury: A Preliminary Report. Neurorehabilitation and neural repair29(6), 537–547. https://doi.org/10.1177/1545968314554626
Silva, S., de Pasquale, F., Vuillaume, C., Riu, B., Loubinoux, I., Geeraerts, T., Seguin, T., Bounes, V., Fourcade, O., Demonet, J. F., & Péran, P. (2015). Disruption of posteromedial large-scale neural communication predicts recovery from coma. Neurology85(23), 2036–2044. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000002196
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal diperbarui 14/07/2020
x