Tangan Gemetar, Jantung Berdebar? Waspada Hipertiroid

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri atas dua bagian dan disatukan oleh “jembatan” bernama ismus yang menutupi cincin tulang tenggorokan kedua dan tiga. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin yang dibutuhkan oleh hampir semua proses tubuh, termasuk pengaturan suhu, metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan vitamin A. Hormon ini juga mempengaruhi kerja organ tubuh seperti jantung, pencernaan, otot, dan sistem saraf.

Gangguan produksi hormon tiroksin terbagi dua: terlalu banyak produksi hormon (hipertiroid) atau terlalu sedikit produksi hormon (hipotiroid). Hipertiroidisme adalah kumpulan gejala yang diakibatkan produksi hormon tiroid yang berlebihan, sedangkan tirotoksikosis merupakan gejala yang timbul akibat sirkulasi hormon tiroid yang berlebihan di darah. Di Indonesia, prevalensi penyakit hipertiroidisme berkisar di 6,9%, dan penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita.

Apa saja penyebab hipertiroidisme?

Hipertiroidisme biasanya dibagi atas hipertiroidisme primer dan sekunder. Umumnya hipertiroidisme disebabkan oleh penyakit Graves, gondok multinoduler toksik, dan adenoma toksik, walaupun masih banyak penyakit lain yang bisa menyebabkannya

Hipertiroidisme primer

  • Penyakit graves
  • Gondok multinodular toksik
  • Adenoma toksik
  • Obat: kelebihan iodium, litium
  • Kanker tiroid

Hipertiroidisme sekunder

  • Resistensi hormon tiroid
  • Tirotoksikosis pada kehamilan (trimester pertama)
  • TSH-Secreting tumor

Apa saja gejala hipertiroidisme?

Gejala hipertiroidisme terbagi atas dua: gejala umum, dan gejala spesifik terhadap organ tubuh di mana hormon ini bekerja. Gejala umumnya antara lain: tak tahan hawa panas, mudah lelah, leher membesar, penurunan berat badan, sering lapar, sering buang air besar. Sedangkan gejala spesifik, sebagai berikut:

  • Sistem pencernaan: banyak makan, haus, muntah, sulit menelan, pembesaran limfa.
  • Sistem reproduksi: gangguan siklus haid, penurunan libido, kemandulan, ginekomastia pada laki-laki.
  • Kulit: keringat berlebihan, kulit basah, rambut rontok.
  • Psikis dan saraf: labil, mudah tersinggung, sulit tidur, tangan gemetar.
  • Jantung: jantung berdebar-debar, gangguan irama jantung, hipertensi, gagal jantung.
  • Sistem otot dan tulang: mudah lelah, nyeri tulang, osteoporosis.

Pada penyakit Graves, biasanya ditemukan gejala lain, seperti pembengkakan di tulang kering kaki, bola mata yang menonjol, penurunan penglihatan, penglihatan ganda dan luka di kornea mata.

Apa yang harus saya lakukan jika menemukan gejala di atas?

Segera berobat ke dokter atau pusat kesehatan terdekat jika mengalami gejala di atas, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan tambahan yang sering dilakukan adalah:

  • Pemeriksaan fungsi tiroid (TSH dan hormon tiroid). TSH diproduksi di bagian otak bernama hipofisis, dan berfungsi untuk merangsang kelenjar tiroid untuk melepaskan hormonnya. Pada hipertiroidisme biasanya ditemukan kadar TSH yang menurun dan hormon tiroid yang meningkat.
  • USG. USG berfungsi untuk melihat adanya nodul, ukuran, bentuk, dan membedakannya dengan kista.
  • Scan tiroid. Tes ini bertujuan untuk mengetahui penyebab hipertiroidisme. Pasien disuntikkan isotop yodium, kemudian dilakukan scanning untuk melihat respon tiroid. Nodul yang menghasilkan hormon berlebihan disebut nodul panas, biasanya kanker, walaupun ada juga beberapa nodul dingin yang merupakan kanker.

Bagaimana cara mengobati hipertiroidisme?

Pengobatan hipertiroid dapat dikelompokkan dalam 3 bentuk: tirostatika, yodium radioaktif, dan tiroidektomi.

1. Tirostatika (obat anti tiroid)

Obat ini berfungsi untuk menghambat sintesis hormon tiroid dan menekan proses autoimun.  Pemberian obat ini awalnya dalam dosis terbesar atau sesuai klinis, kemudian diturunkan sampai dosis terendah di mana hormon tiroid masih dalam batas normal. Efek samping dari obat ini adalah ruam di kulit, gatal, alergi, nyeri otot & sendi.

Contoh obat: propiltiourasil (PTU), metimazol, karbimazol

2. Yodium radioaktif

Radioiodin dalam dosis kecil dapat merusak kelenjar tiroid dan memperbaiki gejala hipertiroidisme. Pengobatan ini memiliki beberapa kelebihan seperti cepat dan mudah dilakukan serta angka kekambuhan yang rendah. Kekurangannya adalah dapat terjadi hipotiroid pasca terapi (50%).

Pengobatan ini tidak dianjurkan pada ibu hamil, atau yang merencanakan kehamilan dalam 6 bulan ke depan.

3. Tiroidektomi (pembedahan tiroid)

Pembedahan tiroid dapat dilakukan secara total atau sebagian (parsial). Pilihan ini dilakukan jika ditemukan indikasi berikut:

  • Hipertiroidisme yang parah pada anak
  • Pasien yang tidak sembuh dengan obat anti tiroid
  • Pembengkakan kelenjar tiroid atau gejala mata yang parah
  • Pasien yang memerlukan kesembuhan yang cepat seperti ibu hamil, ibu yang merencanakan kehamilan dalam 6 bulan atau orang dengan penyakit jantung yang tidak stabil

Kelebihan metode ini adalah banyak pasien dengan fungsi tiroid normal pasca operasi tanpa adanya gejala hipotiroid. Kelemahannya adalah angka kekambuhan yang cukup tinggi dan memerlukan pengobatan jangka panjang yang teratur.

Obat lain yang sering diberikan pada hipertiroidisme adalah beta-blocker. Obat ini berfungsi untuk mengurangi gejala hipertiroid seperti jantung berdebar, tangan gemetar dan lainnya. Contoh obat ini adalah propranolol dan metoprolol.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

    Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

    Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Alergi Paracetamol

    Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

    Selain makanan dan debu, ada pemicu reaksi alergi lain yaitu golongan obat antibiotik. Cari tahu penjelasan lengkapnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    obat psoriasis alami

    Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit
    obat cacing kremi

    Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    ensefalopati uremikum

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    kencing berdiri

    Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit