Sakit gigi bisa membuat tidur dan makan susah jika dibiarkan berlarut-larut. Bahkan, kondisi ini juga bisa memengaruhi suasana hati Anda secara menyeluruh. Lantas, obat sakit gigi apa yang bisa diandalkan? Berikut daftar pilihannya di apotek atau toko obat terdekat. 

Obat sakit gigi di apotek

Mengobati sakit gigi idealnya memang harus di dokter gigi. Namun, dokter tidak bisa langsung mengatasi akar masalahnya jika Anda datang dalam kondisi gigi masih senat-senut. Maka dari itu, Anda akan disarankan untuk menunggu dulu sampai nyerinya mereda baru membuat jadwal kembali.

Nah untungnya, Anda bisa membeli obat sakit gigi di apotek dan toko obat tanpa harus menebus resep dokter. Apa saja pilihannya?

1. Paracetamol

efek samping paracetamol

Paracetamol (acetaminophen) adalah obat pereda nyeri jenis analgesik yang juga ampuh menurunkan demam. Paracetamol menghambat produksi prostagladin di otak sehingga menghentikan rasa sakit. 

Paracetamol tersedia di Indonesia dalam berbagai merek seperti Panadol, Biogesic, Sumagesic, Bodrex, dan sebagainya. Obat sakit gigi ini juga tersedia di dalam beberapa bentuk, seperti tablet/kaplet, tablet larut, supositoris, kapsul, sirup, atau suntikan.

Secara umum, obat ini aman dikonsumsi semua kalangan, termasuk ibu hamil dan menyusui, juga anak-anak. Berikut dosis paracetamol untuk mengobati sakit gigi:

  • Orang dewasa: 1000 mg tiap 6-8 jam atau 2 tablet 500 mg diminum tiap 4-6 jam.
  • Anak yag berusia 12 atau lebih: 325-650 mg tiap 4-6 jam atau 1000 mg 3-4 kali sehari. Dosis maksimal harian: 4000 mg/hari
  • Anak berusia lebih dari 6 bulan hingga 12 tahun: 10-15 mg/kg/ dosis tiap 4-6 jam saat diperlukan dan jangan melebihi 5 dosis dalam 24 jam. Total dosis maksimal harian: 75 mg/kg/hari tidak melebihi 3750 mg/hari.

Sebelum minum obat sakit gigi ini, pastikan Anda tidak mengalami masalah serius pada hati dan ginjal. Pastikan juga kalau Anda tidak memiliki alergi terhadap acetaminophen atau paracetamol.

Sama seperti obat lainnya, obat sakit ini juga sangat mungkin menimbulkan efek samping. Salah satu efek samping yang perlu Anda waspadai adalah reaksi alergi, seperti ruam kemerahan di kulit dan bengkak di bagian wajah.

Segera hentikan penggunaan obat dan hubungi dokter apabila Anda mengalami efek samping serius. Misalnya, sakit perut yang tidak biasa, urin berwarna gelap, feses berwarna pucat, merasa lemah/lesu/sangat tidak bertenaga, dan kulit serta mata menguning.

2. Ibuprofen

obat Cloxacillin adalah

Seperti acetaminophen, ibuprofen juga merupakan obat pereda nyeri golongan analgesik NSAID. Di toko obat atau apotek, obat sakit gigi ini tersedia dalam bentuk tablet, kaplet, dan sirup. Ibuprofen merupakan jenis obat generik yang tersedia dalam berbagai merk, seperti Brufen, Proris, Arfen, Advil, Motrin, dan masih banyak lagi.

Dosis ibuprofen untuk mengatasi sakit gigi adalah:

  • Orang dewasa dan remaja: 200- 400 mg setiap 4 hingga 6 jam, tergantung dengan kebutuhan dan rasa sakit yang dirasakan. Batas dosis yang paling tinggi adalah 3200 mg/hari (jika mendapatkannya dari resep).
  • Anak di atas 6 bulan:  dosisnya disesuaikan dengan berat badan. Dosis ini biasanya ditentukan oleh dokter, tetapi biasanya 10 mg/kg setiap 6-8 jam sekali atau 40 mg/kg per hari. Pemberian ibuprofen pada anak-anak sebaiknya di bawah pengawasan dokter. 

Obat ini bisa menimbulkan efek samping ringan hingga berat. Beberapa efek samping ringan dari obat ini meliputi mual, muntah, perut kembung, gugup, sakit kepala, telinga berdenging, gangguan pencernaan seperti sembelit atau diare.

Sementara efek samping parah yang perlu Anda waspadai adalah nyeri dada, sesak napas, feses berwarna hitam/berdarah, urin berwana gelap, serta kulit dan mata menguning. Jika Anda mengalami hal tersebut, segera hentikan pemakaian obat ini dan hubungi dokter.

Perlu dipahami bahwa apabila rasa sakit sudah menghilang, sebaiknya berhenti menggunakan obat ini, Pasalnya, ibuprofen tidak boleh dikonsumsi dalam jangka panjang. Hindari juga minum ibuprofen saat perut kosong karena akan melukai lambung. Anda bisa mengonsumsi obat ini dengan segelas susu untuk mengurangi efek sampingnya. 

3. Naproxen

Debrisoquine adalah

Naproxen adalah obat penghilang rasa sakit yang juga sering digunakan untuk mengatasi sakit gigi. Sama seperti berbagai obat yang sudah disebutkan di atas, obat sakit gigi ini bekerja dengan menghambat prostagladin. Contoh merek obat naproxen adalah Xenifar.

Dosi obat sakit gigi naproxen adalah:

  • Orang dewasa:  550 mg naproxen sodium diminum sekali, diikuti oleh 550 mg naproxen sodium setiap 12 jam, atau 275 mg (naproxen sodium)/250 mg (naproxen) setiap 6-8 jam sesuai kebutuhan.
  • Anak-anak yang lebih dari 2 tahun: 2,5-10 mg/kg/dosis. Dosis harian maksimum adalah 10 mg/kg, diberikan setiap 8 sampai 12 jam.

Obat sakit gigi ini sebaiknya diminum setelah makan guna mencegah sakit perut. 

Salah satu efek samping yang paling sering terjadi setelah minum naproxen adalah pusing dan rasa kantuk. Jadi, jangan berkendara atau mengoperasikan mesin setelah Anda minum obat sakit gigi ini. Efek samping lain yang mungkin terjadi adalah sakit perut, mulas ringan, diare, sembelit, perut kembung, kulit gatal dan memerah, serta penglihatan kabur.

Apabila Anda akan menjalani operasi, termasuk operasi gigi, sebaiknya beri tahu dokter kalau Anda menggunakan obat ini. Sebaiknya Anda juga berkonsultasi ke dokter terlebih dulu jika punya riwayat penyakit ginjal dan hati, serta sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu yang berhubungan dengan penyakit pembuluh darah,

Perhatikan ini sebelum beli obat sakit gigi!

Meski bisa diminum tanpa resep dari dokter, Anda tetap harus berhati-hati ketika menggunakannya. Pastikan Anda membaca aturan pakai obat dengan teliti untuk meminimalisir risiko efek samping atau overdosis obat. Biasanya, aturan pakai obat terdapat di kemasan produk atau bisa ditanyakan langsung kepada apoteker.

Akan lebih baik jika Anda tetap konsultasi dulu ke dokter gigi sebelum membeli obat sakit gigi yang mana pun. Terlebih jika Anda sudah menjadwalkan suatu prosedur medis, seperti kemoterapi atau operasi (termasuk operasi gigi).

Anda juga sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter gigi apabila memiliki riwayat penyakit hati dan ginjal serta penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah. Hal ini bertujuan untuk menurunkan risiko efek samping obat yang Anda konsumsi.

Prosedur medis untuk mengatasi sakit gigi

Apabila berbagai obat sakit gigi yang sudah disebutkan di atas tidak juga membuat kondisi Anda membaik, maka segeralah berkonsultasi ke dokter gigi. Hal pertama yang akan dilakukan dokter gigi adalah memeriksa riwayat kesehatan Anda terlebih dahulu.

Setelah itu, dokter baru akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti memeriksa kondisi gigi dan mulut Anda secara menyeluruh.  Dokter mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang rasa sakit yang Anda alami, di mana sumbernya, hal apa yang sekiranya membuat rasa sakit semakin buruk, dan lain sebagainya. Apabila semua sudah dilakukan, barulah dokter bisa menentukan pengobatan apa yang sesuai dengan kondisi Anda.

Dokter mungkin akan meresepkan obat sakit gigi lainnya yang memiliki dosis lebih kuat. Jika sakit gigi yang Anda alami karena infeksi, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Jika diperlukan, dokter juga mungkin akan melakukan prosedur medis tertentu.

Nah, beberapa prosedur medis yang bisa dilakukan dokter untuk mengatasi sakit gigi yang Anda alami di antaranya:

1. Tambal gigi

tambal gigi

Anda mungkin sering mendengar perawatan gigi satu ini. Ya, biasanya prosedur tambal gigi dilakukan apabila terdapat lubang pada gigi Anda. Nah, nantinya dokter akan menambal/menutup gigi yang berlubang tersebut dengan bahan khusus. Jika gigi yang berlubang tidak ditambal, maka kerusakan gigi akan semakin luas. Bahkan, bisa sampai mengenai saraf gigi. Jika sudah begitu, Anda biasanya akan mengalami rasa sakit yang begitu intens.

Selain gigi berlubang, prosedur ini juga bisa dilakukan untuk mengatasi beberapa kondisi lain, seperti gigi patah, atraisi dan abfraksi gigi (kerusakan jaringan keras gigi), serta orang yang akan menjalani perawatan saluran akar gigi.

Tambal gigi sendiri ternyata memiliki beberapa jenis, yaitu:

  • Tambalan langsung

Tambalan langsung berarti dokter akan melakukan penembalan gigi dalam satu waktu. Biasanya, tambalan ini dilakukan pada kerusakan gigi yang belum terlalu besar. Tambalan jenis ini sendiri ternyata dibagi menjadi beberapa jenis lagi, yaitu amalgam, resin komposit, dan semen ionomer kaca.

Dari ketiga jenis tambalan tersebut, amalgam yang paling sering digunakan. Tambalan ini berwarna silver (perak) dan sering kali digunakan di bagian gigi belakang karena warnanya tidak sesuai dengan warna gigi. Ketimbang jenis tambalan lain, amalgam dinilai lebih awet, mudah digunakan, dan harganya juga relatif murah. Sayangnya, tambalan ini mengandung merkuri yang dapat membahayakan tubuh.

Sebagai gantinya, beberapa dokter lebih memilih melakukan tambalan resin komposit alias tambal laser. Penggunaan tambalan ini bisa disesuikan dengan warna gigi, sehingga lebih estetik ketika digunakan.

  • Tambalan tidak langsung

Tambalan jenis ini dilakukan untuk kerusakan yang sudah meluas, sehingga tidak memungkin ditambal dalam satu waktu. Biasanya orang yang melakukan prosedur ini memerlukan setidaknya dua kali kunjungan atau bahkan lebih.

Karena memerlukan beberapa kali tindakan, harga yang dibayar untuk tambalan jenis ini umumnya lebih mahal. Bahan yang digunakan untuk tambalan jenis ini biasanya porselen, logam, atau kombinasi dari keduanya.

2. Cabut gigi

cabut gigi pasien diabetes

Tak selalu orang yang mengeluh giginya sakit akan melakukan prosedur cabut gigi. Pasalnya, ada banyak alasan yang membuat dokter perlu mencabut gigi Anda. Bisa karena infeksi, kerusakan gigi yang terlanjur parah, posisi gigi tidak normal, atau untuk merapikan lajur gigi sebelum dilakukan tindakan pemasangan kawat gigi.

Meski kebanyakan orang takut untuk menjalaninya, prosedur cabut gigi sebenarnya cukup sederhana, relatif ekonomis, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Sebelum dilakukan pencabutan, dokter biasanya akan memberikan bius lokal. Akan tetapi jika dokter harus mencabut lebih dari satu gigi atau pasien terlalu gugup, dokter mungkin akan memberikan obat penenang atau bius total.

Apabila gigi yang bermasalah tidak terhalang gusi, dokter mungkin tidak akan melibatkan pembedahan. Sebaliknya, jika mahkota gigi Anda tidak terlihat karena impaksi atau terlajur patah, dokter mungkin akan melibatkan operasi cabut mulut. Dalam dunia kedokteran gigi, prosedur bedah cabut gigi dinamakan odontektomi.

Jika diperlukan, dokter mungkin akan meresepkan obat sakit gigi khusus guna meringankan rasa nyeri setelah prosedur cabut gigi.

3. Perawatan saluran akar gigi

cabut gigi saat puasa

Root canal, atau sering juga disebut dengan perawatan saluran akar gigi adalah prosedur untuk memperbaiki pulpa yang rusak atau terinfeksi agar tidak semakin parah. Pulpa sendiri merupakan daerah lunak di dalam gigi yang berisi pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat. Jika bagian tersebut mengalami masalah, maka pulpa dapat meradang dan akhirnya memicu rasa nyeri.

Nah, secara umum, perawatan ini membantu mengatasi masalah gigi tanpa perlu melakukan tindakan cabut gigi. Banyak orang mengira kalau prosedur ini memperparah rasa sakit yang sedang mereka alami. Padahal, tidak begitu. Perawatan saluran akar gigi justru membantu meringkan rasa sakit tersebut. Dokter biasanya akan memberikan bius lokal agar area yang akan dilakukan perawatan kebas alias mati rasa.

Anda mungkin memerlukan beberapa kali kunjungan ke dokter gigi untuk melakukan perawatan ini. Pasalnya, root canal termasuk salah satu prosedur perawatan gigi yang memakan proses panjang.

4. Scaling gigi

abses gigi

Scaling sebenarnya bukan termasuk cara mengobati sakit gigi. Namun, prosedur ini merupakan salah satu bentuk perawatan gigi untuk mencegah kerusakan gigi semakin parah. Ya, scaling adalah prosedur untuk membersihkan karang gigi, yaitu tumpukan plak yang mengeras dan menempel di gigi. Plak yang mengeras tersebut melapisi gigi dengan lapisan yang berwarna kekuningan, kecoklatan, atau bahkan kehitaman. Akibatnya, tampilan gigi Anda jadi terlihat kusam dan tak terawat.

Prosedur ini menggunakan alat yang disebut ultrasonic scaler. Alat tersebut akan bekerja membersihkan karang gigi yang terbentuk di bagian garis gusi, sela-sela, hingga bagian gigi yang terdalam. Selain orang dewasa, prosedur ini juga dianjurkan dilakukan oleh anak-anak. Dengan catatan, jika si kecil sudah memiliki gigi lengkap dan giginya memang perlu dibersihkan.

Idealnya prosedur ini dilakukan setiap 6 bulan sekali. Namun, dalam kasus yang berat, prosedur ini mungkin dapat dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca