Prosedur Biopsi dan Tes Lab untuk Mendeteksi Risiko Kanker Usus Besar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Diagnosis kanker usus besar memainkan peran penting dalam menentukan risiko genetik, mendeteksi kanker pada tahap awal, dan menentukan karakteristik dan kemungkinan penyebaran penyakit. Skrining kanker dapat membantu dokter untuk membuat rencana perawatan Anda serta memantau efektivitas kanker. Penting untuk memahami berbagai tes skrining dan diagnostik yang digunakan dalam deteksi dan pengobatan kanker usus besar. Konsultasikan dengan dokter mengenai keluhan yang Anda rasakan.

Tes apa saja yang mungkin disarankan dokter untuk memastikan diagnosis kanker usus besar?

Biopsi

Jika dokter mencurigai potensi kanker usus besar pada pemeriksaan tahap awal, sampel jaringan usus akan dibiopsi dengan kolonoskopi. Dalam biopsi, dokter mengambil potongan kecil jaringan usus dengan alat khusus yang diulirkan melalui kolonoskop. Biasanya, akan terjadi sedikit perdarahan ringan setelah prosedur ini, tetapi akan berhenti setelah beberapa saat. Bagian usus besar mungkin perlu diangkat lewar bedah untuk membuat diagnosis, tetapi ini jarang terjadi.

Tes sampel lab

Sampel yang didapat dari biopsi (lewat kolonoskopi atau operasi) dikirim ke laboratorium di mana ahli patologi memeriksanya dengan mikroskop. Spesialis patologi adalah dokter yang terlatih untuk menentukan diagnosis kanker usus besar dan penyakit lainnya lewat sampel jaringan. Tes lainnya bisa dianjurkan jika memang ditemukan kanker usus besar, tetapi satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan memeriksa sampel dengan mikroskop.

Berikut dua jenis tes laboratorium yang biasa digunakan untuk memastikan diagnosis kanker usus besar:

Tes gen

Tes lab lainnya juga bisa dilakukan pada spesimen biopsi untuk membantu mengklasifikasikan kanker dengan lebih baik. Dokter bisa memeriksa perubahan gen spesifik pada sel kanker yang bisa berpengaruh pada cara pengobatan yang terbaik. Misalnya, dokter sekarang biasanya menguji sel untuk perubahan pada gen KRAS. Gen ini bermutasi pada sekitar 4 dari 10 kanker kolorektal. Beberapa dokter juga bisa menguji perubahan pada gen BRAF. Pasien kanker dengan mutasi pada salah satu gen tersebut tidak diuntungkan dari pengobatan dengan obat-obatan anti kanker tertentu seperti cetuximab (Erbitux®) dan panitumumab (Vectibix®).

Pengujian MSI

Terkadang jaringan tumor akan diuji untuk melihat apakah muncul perubahan yang disebut microsatellite instability (MSI). Perubahan ini terdapat di kebanyakan kanker kolorektal yang disebabkan oleh hereditary non-polyposis colon cancer (HNPCC) dan juga bisa memengaruhi beberapa kanker pada pasien yang tidak memiliki HNPCC. Ada 2 alasan untuk menguji kanker kolorektal untuk MSI. Alasan pertama adalah untuk mengidentifikasi pasien yang harus diuji untuk HNPCC. Diagnosis HNPCC bisa membantu merencanakan skrining lebih lanjut pada pasien (misalnya wanita dengan HNPCC mungkin perlu diskrining untuk kanker rahim). Selain itu, jika pasien diketahui memiliki HNPCC, kerabat mereka juga bisa memilikinya, dan mungkin ingin diuji juga. Jika mereka benar memiliki HNPCC, resiko mereka untuk terkena kanker akan meningkat dan perlu diskrining lebih lanjut. Alasan kedua adalah dengan mengetahui kanker kolorektal stadium awal memiliki MSI bisa mengubah cara pengobatannya.

Beberapa dokter menganjurkan pengujian MSI hanya jika pasien memenuhi kriteria tertentu. Dokter lainnya menguji semua kanker usus besar untuk MSI, dan sisanya masih menentukan berdasarkan usia pasien atau stadium kankernya. Ada beberapa cara untuk menguji MSI. Satu cara adalah dengan memulai tes DNA untuk MSI. Cara kedua adalah dengan melakukan tes immunohistochemistry terlebih dahulu untuk melihat apakah protein tertentu yang berkaitan dengan MSI tidak ditemukan dalam sel-sel kanker. Jika tes ini terlihat mencurigakan, maka tes DNA untuk MSI akan dilakukan. Tidak semua pasien memiliki sel-sel kanker yang menunjukkan MSI memiliki HNPCC. Untuk menguji HNPCC, darah diambil untuk pemeriksaan perubahan gen penyebab HNPCC dalam DNA sel-sel darah.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Sering Mimpi Buruk? Ini Cara Mengatasinya

Mimpi buruk bisa datang kapan saja di setiap malam Anda. Ini bisa sangat mengganggu Anda jika sering terjadi. Temukan cara mengatasi mimpi buruk di sini.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 02/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Mengungkap Mitos dan Fakta Seputar Masalah Cacingan

Banyak mitos membuat infeksi cacing menjadi hal sepele. Cek fakta seputar cacingan yang berbahaya jika dibiarkan, seperti menghambat pertumbuhan anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit