home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab dan Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Kolorektal (Usus Besar dan Rektum)

Penyebab dan Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Kolorektal (Usus Besar dan Rektum)

Kanker kolorektal merupakan sebutan lain bagi kanker yang menyerang usus besar (kolon), rektum, maupun keduanya. Berdasarkan data WHO tahun 2018, kanker kolorektal menempati peringkat ketiga untuk jenis kanker yang paling umum terjadi. Lantas, tahukah Anda apa penyebab dari penyakit kanker yang menyerang usus besar (kolon) dan rektum ini?

Apa penyebab kanker kolorektal (usus besar dan rektum)?

perbedaan kanker ovarium dan kista ovarium

Berdasarkan data Globocan tahun 2018, kanker kolorektal menempati peringkat keenam di Indonesia dan menyebabkan kematian cukup tinggi, yakni 9.207 kematian akibat kanker usus dan 6.827 kematian akibat kanker rektum.

Tingginya, angka kematian kemungkinan disebabkan oleh deteksi dan diagnosis kanker kolorektal yang terlambat dilakukan.

Hingga kini, penyebab kanker kolorektal (usus besar dan atau rektum) tidak diketahui secara pasti. Namun, secara umum kanker terjadi akibat DNA dalam sel mengalami perubahan. Perubahan DNA dalam sel ini disebut dengan mutasi DNA.

DNA sendiri berisi serangkaian instruksi yang memberi tahu sel untuk berfungsi secara normal. Akibat mutasi ini, instruksi sel menjadi kacau dan rusak. Sel yang seharusnya tumbuh, membelah, mati secara terprogram, malah terus tumbuh dan hidup tidak terkendali.

Alhasil, akan terjadi penumpukan sel yang seiring waktu membentuk tumor. Mutasi DNA sel inilah yang menjadi penyebab hampir semua kanker, mungkin juga pada kanker yang menyerang usus besar (kolon) atau rektum (bagian ujung dari kolon sebelum anus).

Setelah tumor terbentuk, ukurannya akan terus membesar. Selain itu, sel kanker juga akan menyebar dan merusak jaringan atau organ sehat di sekitarnya. Penyebaran sel kanker dari tempat awal ke area lain dikenal dengan istilah metastasis kanker dan kondisi tersebut akan menimbulkan gejala kanker kolorektal yang bervariasi.

Berbagai faktor risiko kanker kolorektal (usus dan rektum)

Penyebab utama dari kanker kolorektal belum diketahui secara pasti, tetapi periset telah menemukan berbagai faktor yang dapat meningkatkan risikonya. Sebagian faktor tidak dapat diubah dan terus dimiliki oleh seseorang. Sebagiannya lagi, bisa diubah dengan menerapkan gaya hidup sehat.

Lebih jelasnya, mari bahasa satu per satu faktor penyebab meningkatnya risiko penyakit kanker pada usus besar dan rektum.

1. Usia lanjut

aktivitas sehat otak lansia

Usia menjadi salah faktor risiko dari kanker kolorektal. Ini karena umumnya sel kanker membutuhkan waktu bertahun-tahun menjadi sel abnormal. Sama seperti benda yang Anda gunakan setiap hari, lambat laun tentu akan mengalami kerusakan. Nah, sel pun juga demikian sehingga dapat memicu kanker.

Itulah sebabnya, kebanyakan orang yang mengalami sel kanker berusia di atas 50 tahun. Meskipun, beberapa di antaranya juga bisa memiliki penyakit ini di usia muda.

2. Riwayat memiliki polip atau kanker kolorektal

penyebab kanker usus besar

Pada beberapa orang, penyebab meningkatkan risiko kanker usus besar atau rektum adalah polip. Polip merupakan gumpalan kecil yang terbentuk di usus besar, rektum, maupun bagian tubuh lain. Salah satu jenis polip, yakni polip adenomatosa berisiko tinggi berubah menjadi kanker jika ukurannya melebihi 1 cm.

Selain polip usus, risiko penyakit kanker ini juga cukup tinggi pada orang yang sebelumnya pernah memiliki kanker kolorektal. Terutama, pada pasien yang mengalami penyakit di usia muda.

Bukan hanya riwayat penyakit yang Anda alami, risikonya juga meningkat bila ada anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut.

3. Punya diabetes

efek penyakit diabetes

Diabetes dijuluki sebagai ibu dari semua penyakit. Alasannya, karena penyakit yang menyebabkan kadar gula darah pada seseorang tidak terkontrol ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit. Mulai dari penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga kanker.

Dalam studi yang diterbitkan pada Diabetes Spectrum, diabetes jadi penyebab meningkatnya risiko kanker usus besar maupun rektum karena menyebabkan peradangan yang bisa merusak DNA sel. Ini karena dipengaruhi oleh resistensi insulin yang terjadi dalam tubuh penderitanya.

4. Pernah mengalami radang usus

tb atau tbc usus

Selain polip, penyebab tingginya risiko kanker yang menyerang usus besar atau rektum bisa juga berasal dari adanya peradangan di area tersebut. Contohnya, penyakit kolitis ulserativa atau penyakit Crohn. Orang dengan dua kondisi ini, dalam jangka panjang akan mengalami displasia.

Displasia adalah istilah medis yang menggambarkan sel-sel di lapisan usus besar atau rektum terlihat tidak normal, namun belum bisa disebut kanker. Dalam jangka waktu tertentu, sel-sel tersebut bisa berubah menjadi kanker.

5. Sindrom kanker genetik

gejala radang usus ciri-ciri radang usus

Menurut American Cancer Society, sekitar 5% kasus kanker kolorektal disebabkan oleh sindrom kanker yang diturunkan oleh keluarga. Sindrom kanker keluarga yang menjadi penyebab tingginya risiko kanker usus besar atau rektum, antara lain:

Sindrom Lynch

Sindrom ini menyebabkan risiko terkena kanker usus besar atau rektum sekitar 80 persen sepanjang hidupnya. Kelainan pada orang yang berisiko kanker usus besar ini disebabkan karena adanya gen cacat bawaan, yakni MLH1 atau MSH2.

Selain kanker usus besar dan rektum, orang dengan sindrom ini juga rentan terkena kanker ovarium, kanker perut, kanker ginjal, dan kanker payudara.

Poliposis adenomatosa familial (FAP)

Sindrom ini disebabkan oleh mutasi pada gen APC yang diwarisi orangtua. FAP menyebabkan seseorang memiliki ratusan bahkan ribuan polip di usus besar dan rektumnya, yang umumnya di mulai dari usia 10 hingga 12 tahun.

Pada usia 40 tahun, hampir semua orang dengan FAP mengalami kanker kolorektal. FAP dibagi menjadi beberapa jenis, yakni sindrom gardner dan sindrom turcot. Selain kanker usus besar, keduanya juga dapat memicu jenis kanker lain dalam tubuh.

Sindrom langka lainnya

Ada banyak jenis gen mutasi yang menjadi penyebab kanker kolorektal, yakni gen STK11 yang mengarah pada sindrom Peutz-Jeghers (PJS) dan gen MYH yang mengarah pada sindrom MYH-associated polyposis (MAP).

PJS menyebabkan seseorang memiliki banyak polip kecil di saluran cerna. Sementara, MAP menyebabkan polip berukuran lebih besar di saluran cerna.

6. Obesitas dan kurang aktivitas fisik

berat badan berlebihan obesitas berisiko varises

Obesitas menjadi salah satu penyebab tingginya risiko kanker usus besar dan rektum pada seseorang. Bahkan, mempersulit proses pengobatannya sehingga pasien kanker diwajibkan menjaga berat badannya tetap ideal.

Meningkatnya risiko kanker pada seseorang akibat obesitas disebabkan oleh peradangan. Kelebihan berat badan dapat memicu terjadinya peradangan dalam tubuh yang nantinya bisa merusak DNA sel. Selain berat badan orang yang malas bergerak juga memiliki peningkatan risiko kanker.

7. Pola makan buruk

sering pusing setelah makan daging

Makanan bisa menjadi salah satu penyebab meningkatkan risiko kanker usus besar atau rektum. Tepatnya, makanan yang mengandung bahan karsinogenik, salah satunya daging sapi atau kambing yang dibakar.

Meski begitu, risikonya bisa Anda kendalikan dengan mengurangi konsumsi makanan yang dibakar. Selain itu, konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian juga bisa membuat risiko kanker jadi semakin tinggi.

8. Merokok dan punya kebiasaan minum alkohol

minum alkohol

Sama seperti makanan yang dibakar, alkohol dan rokok juga mengandung zat karsinogenik. Zat tersebut bisa memicu peradangan dan membuat sel-sel di dalam tubuh menjadi abnormal.

Bukan hanya pada perokok aktif, risiko kanker pada sistem pencernaan ini juga meningkat pada orang yang tidak merokok namun ikut menghirup asap pembakaran rokok. Sementara pada alkohol, risiko kanker akan meningkat jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan jumlah yang banyak.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Colorectal cancer risk factors. https://www.cancer.org/cancer/colon-rectal-cancer/causes-risks-prevention/risk-factors.html [Accessed on August 7th, 2020]

Colon cancer – Symptoms and causes. (2019, October 8). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-cancer/symptoms-causes/syc-20353669 [Accessed on August 7th, 2020]

Cancer In Indonesia. Global Cancer Observatory. https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf [Accessed on August 7th, 2020]

Cancer. (2018, September 12). WHO | World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer [Accessed on August 7th, 2020]

World Health Organization says processed meat causes cancer. (2015, October 26). American Cancer Society | Information and Resources about for Cancer: Breast, Colon, Lung, Prostate, Skin. https://www.cancer.org/latest-news/world-health-organization-says-processed-meat-causes-cancer.html [Accessed on August 7th, 2020]

What is colorectal cancer?. American Cancer Society | Information and Resources about for Cancer: Breast, Colon, Lung, Prostate, Skin. https://www.cancer.org/cancer/colon-rectal-cancer/about/what-is-colorectal-cancer.html [Accessed on August 7th, 2020]

Collins, K. (2014). The Diabetes-Cancer Link. Diabetes Spectrum27(4), 276-280. doi: 10.2337/diaspect.27.4.276 [Accessed on August 7th, 2020]

 

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 02/02/2017
x