Langkah-langkah Prosedur Kolonoskopi untuk Mendeteksi Kanker Usus Besar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Kolonoskopi adalah tes skrining kanker usus besar yang paling umum dan pertama dilakukan. Tergantung tujuannya, tes dapat dilakukan untuk menentukan risiko genetik, mendeteksi kanker pada tahap awal, dan menentukan karakteristik dan kemungkinan penyebaran kanker. Tes ini juga dapat membantu dokter untuk membuat rencana perawatan serta memantau perkembangan kanker. Apa yang terjadi selama kolonoskopi untuk kanker usus besar?

Seperti apa prosedur kolonoskopi untuk kanker usus besar?

Kolonoskopi untuk kanker usus besar umumnya dilakukan di rumah sakit bagian rawat jalan atau di klinik dokter. Yang perlu diperhatikan, persiapan dan obat pencahar yang digunakan sebelum tes bisa membuat Anda merasa kliyengan, Anda akan perlu ditemani seseorang yang Anda kenal untuk mengantarkan Anda pulang (bukan hanya dengan taksi).

Begini detil prosedur kolonoskopi untuk kanker usus besar.

Sebelum kolonoskopi

Pastikan dokter mengetahui setiap obat yang Anda gunakan, karena Anda mungkin harus mengubah cara pemakaiannya sebelum tes. Usus besar dan rektum harus kosong dan bersih sehingga dokter bisa melihat dinding dalamnya selama pemeriksaan. Ini sering mencakup minum obat pencahar di malam sebelumnya untuk membersihkan usus

Dokter akan memberikan petunjuk khusus, sehingga penting bagi Anda untuk membacanya dengan seksama beberapa hari sebelumnya karena Anda mungkin perlu membeli obat pencahar dari apotek. Jika Anda tidak yakin tentang petunjuk tersebut, hubungi dokter dan ulas per langkahnya dengan perawat. 

Dokter mungkin juga meminta Anda untuk berhenti makan dan hanya minum cairan bening (air putih, jus apel, atau agar-agar kecuali yang berwarna merah atau ungu) selama beberapa hari sebelum pemeriksaan. Teh tawar atau kopi bergula biasanya boleh dikonsumsi, tetapi tidak boleh ditambahkan susu atau krimer. Kaldu bening, minuman jahe, dan kebanyakan minuman soda atau minuman olahraga bisanya diperbolehkan kecuali jika terdapat kandungan pewarna merah atau ungu, yang bisa disangka sebagai darah di usus besar. 

Anda mungkin juga disuruh untuk tidak makan atau minum apapun selewat tengah malam sebelum hari tes. Jika biasanya Anda minum obat resep (untuk kondisi medis yang Anda miliki) di pagi hari, konsultasikan pada dokter atau perawat mengenai cara pemakaiannya untuk hari tersebut. Di pagi hari-H prosedur, kadang Anda harus lebih banyak minum atau dokter bisa menyuntikkan enema untuk memastikan bahwa usus telah kosong.

Selama kolonoskopi

Kolonoskopi biasanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, tetapi mungkin bisa lebih lama jika dokter menemukan polip yang perlu diangkat. Sebelum kolonoskopi dimulai, Anda akan diberikan obat penenang (biasanya melalui vena) untuk membuat Anda merasa nyaman dan mengantuk selama prosedur. Anda mungkin tetap terbangun sadar, tetapi mungkin terlalu mengantuk sampai tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Anda juga mungkin tidak ingat prosedur tersebut setelahnya. Kebanyakan orang akan sudah sepenuhnya sadar sebelum mereka bisa pulang setelah tes.

Sebelum dimulai, Anda akan diminta berbaring menyamping dengan lutut menekuk dan area intim Anda akan ditutupi selimut. Tekanan darah, denyut jantung, dan laju pernapasan Anda akan dipantau selama dan setelah tes. Dokter mungkin akan memasukkan jari bersarung ke dalam rektum untuk memeriksanya sebelum memasukkan kolonoskop, sebuah selang tipis dan fleksibel. Kemudian dokter akan memeriksa keseluruhan usus besar dan bagian dalam rektum (anus) Anda dengan kolonoskop. Alat ini dimasukkan melalui anus ke dalam rektum dan usus. Tapi tenang, kolonoskop sudah dilumasi terlebih dulu agar dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam anus.

Begitu memasuki anus, kolonoskop didorong jauh ke dalam bagian awal usus besar, disebut sekum. Di ujung kolonoskop terpasang sebuah video kamera sehingga dokter bisa melihat bagian dalam usus besar Anda. Dokter kemudian menyuntikkan udara ke dalam usus besar melalui kolonoskop untuk mempermudah melihat dinding usus besar dan menggunakan alat untuk melakukan tes. 

Jika ditemukan polip kecil, dokter mungkin akan mengangkatnya karena ditakutkan bisa menjadi kanker. Ini biasanya dilakukan dengan mengulirkan kumparan kawat melalui kolonoskop untuk memotong polip dari dinding usus besar dengan arus listrik. Polip tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa dengan mikroskop guna melihat apakah ada jaringan yang telah berubah menjadi kanker. 

Apa efek samping yang mungkin timbul dari kolonoskopi untuk kanker usus besar?

Kolonoskopi itu sendiri mungkin sedikit terasa tidak nyaman, tetapi dokter biasanya memberikan obat penenang untuk meringankan rasa tidak nyaman ini. Kebanyakan orang akan kembali normal begitu efek biusnya menghilang. Selama prosedur kolonoskopi dokter juga mungkin memompa udara ke dalam usus besar, sehingga Anda mungkin merasa kembung, sakit perut, atau kram perut untuk sementara waktu setelah tes sampai Anda bisa mengeluarkan udara tersebut.

Dalam beberapa kasus, pasien kolonoskopi bisa mengalami darah rendah atau perubahan ritme jantung akibat efek bius selama tes. Jika polip diangkat atau biopsi dilakukan dengan kolonoskopi, mungkin akan ada sedikit perdarahan di feses saat Anda buang air besar selama satu atau dua hari setelah tes. Kedua efek ini jarang bersifat serius.

Kolonoskopi pada dasarnya adalah prosedur yang aman. Tapi dalam kasus yang jarang terjadi, perdarahan serius mungkin terjadi sehingga memerlukan pengobatan khusus. Alat kolonoskopi juga bisa menusuk dinding usus besar atau rektum. Ini disebut perforasi. Gejalanya meliputi nyeri perut parah, mual, dan muntah. Ini bisa menjadi komplikasi serius, atau bahkan mengancam nyawa, karena bisa berakibat pada infeksi perut. Komplikasi kolonosopi untuk kanker usus besar ini mungkin harus diperbaiki lewat operasi. Konsultasikan pada dokter mengenai risiko komplikasi ini.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sudah Benarkah Cara Cuci Tangan Anda?

Cuci tangan bukan sekadar gosok, bilas, dan keringkan. Ada cara cuci tangan yang baik untuk benar-benar efektif bunuh kuman.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Tips Sehat 22/06/2020 . 4 menit baca

Apakah Anda Termasuk Orang yang Cukup Bersih? Cek Dulu di Sini!

Selama ini Anda sudah mahir menjaga kebersihan diri atau belum? Ini dia tips-tips supaya tubuh selalu bersih dan bebas dari penyakit.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 22/06/2020 . 5 menit baca

4 Penyebab Kanker Kembali Lagi Setelah Sembuh

Setelah melakukan pengobatan yang cukup panjang dan kanker dinyatakan sembuh, rasanya sangat melegakan. Namun, bagaimana kalau kanker kembali muncul?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Hidup Sehat, Tips Sehat 21/06/2020 . 6 menit baca

9 Makanan yang Ampuh Mengusir Perut Kembung

Perut kembung atau begah pasti sangat mengganggu. Untuk segera meredakan rasa tidak nyaman, siapkan berbagai makanan berikut untuk mengusir perut kembung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20/06/2020 . 6 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 menit baca
mengatasi mimpi buruk

Sering Mimpi Buruk? Ini Cara Mengatasinya

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 02/07/2020 . 5 menit baca
mitos fakta cacingan

Mengungkap Mitos dan Fakta Seputar Masalah Cacingan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/06/2020 . 5 menit baca
kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca