Pentingnya Deteksi Dini Kanker Kolorektal untuk Cegah Keparahan Penyakit

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10/08/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Penyakit kanker kolorektal (kanker usus besar/kolon dan atau rektum) masuk dalam daftar jenis kanker yang menyebabkan kematian terbesar di dunia, menurut WHO tahun 2018. Tingginya angka kematian kemungkinan besar disebabkan oleh terlambatnya deteksi kanker usus besar dan rektum sehingga baru diketahui ketika kanker memasuki stadium lanjut. Lantas, seperti apa tes untuk menegakkan diagnosis kanker kolorektal? Apakah kanker usus besar dan rektum stadium 4 bisa sembuh?

Pentingnya deteksi dini kanker usus besar dan rektum

kanker kolorektal

Sekitar 36,1% pasien kanker usus besar dan rektum yang datang ke rumah sakit sudah masuk stadium IV. Sementara pasien yang datang dengan kondisi masih stadium 0-1 hanya sekitar 3,4%.

Padahal deteksi dini menjadi kunci dalam menurunkan kasus kanker kolorektal, menurut dr. Abdul Hamid Rochanan, Sp.B-KBD, M.Kes, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia (IKABDI) saat ditemui pada diskusi media yang diprakarsai oleh Cancer Information & Support Center (CISC) di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/7).

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD-KHOM, ahli penyakit dalam dan onkologi medik RS Kanker Dharmais, Jakarta.

“Kanker kolorektal (usus besar/kolon dan rektum) termasuk penyakit yang Anda deteksi secara dini lewat tes feses. Oleh karenanya, wajin memeriksakan diri jika Anda berisiko tinggi,” jelas dr. Ronald saat ditemui di kesempatan yang sama.

Deteksi kanker usus besar dan rektum lebih dini, meningkatkan persentase pasien untuk sembuh dari penyakit ini. Alasannya, karena kanker belum menyebar dan merusak jaringan maupun organ sehat di sekitarnya sehingga memudahkan pengobatan untuk mengangkat dan mematikan sel kanker.

Tes untuk deteksi dan diagnosis kanker usus besar dan rektum

Mendeteksi kanker sejak dini

Guna mendeteksi, menegakkan diagnosis, dan mengetahui stadium kanker kolorektal, dokter akan meminta Anda untuk melakukan beberapa tes kesehatan. Dilansir dari situs American Cancer Society, tes kesehatan untuk diagnosis kanker usus besar dan rektum, meliputi:

1. Tes fisik dan riwayat kesehatan

Pada tes ini dokter akan menanyakan apa saja gejala kanker usus besar dan rektum yang mungkin Anda alami dan berapa lama dirasakan. Tes akan dilanjutkan dengan pemeriksaan pembengkakan di perut atau colok anus, yakni dokter memasukkan jari ke dalam rektum untuk merasakan adanya pertumbuhan jaringan abnormal.

Kemudian, dokter juga akan melihat adanya kemungkinan faktor risiko, termasuk riwayat kesehatan anggota keluarga.

2. Tes feses

Tes deteksi dan diagnosis kanker usus besar dan rektum selanjutnya adalah tes feses. Pada tes ini, dokter akan memeriksa adanya darah pada fese dengan mata telanjang (okultisme). Anda akan diminta untuk mengumpulkan 1-3 sampel tinja setiap hari.

3. Tes darah

Penderita kanker yang menyerang sistem pencernaan rentan mengalami anemia (kekurangan sel darah merah). Jadi, pada tes ini dokter akan mengukur kadar sel darah merah. Selain itu, tes darah juga dilakukan untuk melihat fungsi hati karena kanker kolorektal dapat menyebar ke organ tersebut.

Terakhir, tes darah dapat menunjukkan penanda sel kanker kolorektal, yakni tingginya antigen karsinoembrionik (CEA) dan CA 19-9 dalam darah.

4. Kolonoskopi dan proktoskopi

Kolonoskopi adalah tes deteksi kanker dengan melihat kondisi usus besar dan rektum menggunakan kolonoskop yang dilengkapi kamera perekam di ujungnya.

Jika dokter menduga kanker ada pada rektum, dokter akan merekomendasikan tes proktoskopi, yakni memasukkan protoskop melalui anus. Lewat tes ini dokter dapat menentukan lokasi kanker dan ukurannya.

5. Biopsi

Saat kolonoskopi dilakukan dan dokter menemukan jaringan mencurigakan, dokter akan melakukan biopsi. Biopsi adalah tes diagnosis kanker dengan mengambil jaringan sebagai sampel untuk diperiksa lebih dalam di laboratorium.

6. Tes pencitraan

Tes deteksi kanker usus besar (kolon) dan rektum selanjutnya adalah tes pencitraan, meliputi CT scan, USG perut, rontgen dada, USG endorektal (transduser dimasukkan ke dalam rektum), dan USG intraoperatif (transduser ditempatkan di atas permukaan hati).

Tujuan dari tes ini adalah untuk melihat kondisi usus besar, rektum, dan mengetahui sampai mana sel kanker telah menyebar.

Mengenal stadium kanker kolorektal

perbedaan kanker ovarium dan kista ovarium

Mengikuti tes kesehatan di atas memudahkan dokter untuk menentukan stadium kanker kolorektal. Dalam hal ini, ada beberapa istilah yang digunakan, yaitu T (tumor), N (lymph nodes/ kelenjar getah bening), dan M (metastatis/penyebaran kanker).

Lebih jelasnya, perhatikan beberapa contoh istilah yang digunakan dalam penentuan diagnosis kanker kolorektal:

  • Kanker kolorektal stadium 1 T1/T2 N0 M0: kanker tumbuh melalui mukosa muskularis ke dalam submukosa (T1), atau tumbuh ke muskularis propia (T2), belum menyebar ke kelenjar getah bening (N0) atau area lain (M0).
  • Kanker kolorektal stadium 2A T3 N0 M0: kanker tumbuh ke lapisan terluar kolon, tapi belum menembus rektum (T3), belum menyebar ke kelenjar getah bening (N0), atau area lain (M0).
  • Kanker kolorektal stadium 3B T1/T2 N2b M0: kanker telah tumbuh dari mukosa ke submukosa (T1) atau tumbuh di muskularis propia (T2), telah menyebar ke 7 atau lebih kelenjar getah bening (N2b), tapi belum ke area lain yang jauh (M0).
  • Kanker kolorektal stadium 4 any T any N M1a: kanker tidak tumbuh di dinding kolon atau rektum (any T), tidak menyebar ke kelenjar getah bening (any N), tapi menyebar ke hati, paru, atau kelenjar getah bening yang jauh (M1a).

Apakah kanker usus besar/rektum stadium 4 bisa disembuhkan?

diagnosis dan cara mendeteksi kanker ovarium

Kanker usus besar (kolon) dan rektum stadium 1,2, dan 3 yang belum parah bisa sembuh dengan pengobatan. Namun, sebagian kanker usus besar (kolon) stadium 3 yang sudah parah dan stadium 4 tidak bisa sembuh.

Meski begitu, pasien tetap perlu menjalani pengobatan. Tujuannya, untuk meringankan gejala, memperlambat penyebaran sel kanker, dan tentunya membuat kualitas hidup pasien jadi lebih baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tes Kesehatan untuk Menegakkan Diagnosis Kanker Ovarium

Penegakkan diagnosis kanker ovarium harus melalui tes kesehatan yang sesuai. Lantas, tes apa saja yang digunakan sebagai cara mendeteksi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Kenali Perbedaan Kista Ovarium dan Kanker Ovarium

Kanker dan kista ovarium itu berbeda. Lantas, apa perbedaan kista ovarium dengan kanker ovarium? Apakah kista bisa menjadi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Penyakit Kanker 26/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Komplikasi yang Dapat Terjadi Akibat Penyakit dan Pengobatan Kanker Ovarium

Komplikasi kanker ovarium bisa terjadi akibat penyakit maupun pengobatan yang dilakukan. Apa saja komplikasinya? Simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 23/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Daftar Obat Herbal yang Berpotensi Mengobati Kanker Ovarium

Selain pengobatan dokter, periset terus meneliti berbagai obat herbal kanker ovarium. Apa saja obat tradisional untuk kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pencegahan cara mencegah kanker ovarium

Hal-hal yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
makanan buah dan sayur yang baik dan bagus untuk pasien kanker ovarium

Aturan dan Jenis Makanan yang Disarankan untuk Pasien Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 5 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
pembengkakan prostat jinak adalah

Pembesaran Prostat Jinak (BPH)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 11 menit