Secara umum disetujui bahwa diuretic thiazide adalah obat utama terbaik untuk hipertensi yang tidak kompleks. Jika tekanan darah tidak cukup terkontrol oleh thiazide, ada sangat sedikit bukti untuk membantu dokter dalam memilih langkah berikutnya dari pilihan yang tersedia.

Diuretik secara umum diresepkan untuk hipertensi, tidak hanya sebagai terapi awal, tetapi juga sebagai pengobatan kedua.  Beberapa studi telah menunjukkan penurunan tekanan tambahan pada darah dengan diuretik bila diberikan dalam kombinasi dengan obat antihipertensi lainnya.

Diuretik, ketika diberikan sebagai terapi kedua untuk mengobati hipertensi, menurunkan tekanan darah sampai sekitar tingkat yang sama seperti ketika mereka digunakan sebagai pengobatan pertama, berdasarkan penelitian.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penurunan pengaruh tekanan darah dari diuretik tergantung pada dosis yang digunakan tetapi tidak tergantung pada jenis pengobatan pertama yang digunakan.

Hydrochlorothiazide adalah diuretik yang digunakan dalam penelitian yang termasuk dalam ulasan ini. Hydrochlorothiazide memang efektif dalam menurunkan tekanan darah; dapat diberikan sebagai pil tunggal setiap hari dan merupakan pilihan obat yang sangat baik untuk pasien sebagai obat pertama atau kedua.

Namun, untuk meminimalkan risiko efek samping, jelas lebih baik untuk memilih terapi tunggal dengan obat yang telah terbukti mencegah kardiovaskular dalam pengobatan pertama pada pasien hipertensi sehat. Pilihan yang bisa Anda gunakan adalah: inhibitor angiotensin-converting-enzyme, antagonis angiotensin II, penghambat kalsium atau beta blocker. Pada pasien yang berusia di atas 60 tahun, beta blocker tampaknya kurang efektif dari obat lain dalam mencegah stroke.

ACE inhibitor dan β-blocker tampaknya lebih unggul dari dihydropyridine penghambat kalsium dalam mengurangi infark miokard dan gagal jantung. Oleh karena itu, dihydropyridine penghambat kalsium muncul sebagai agen yang tepat, tapi bukan, inhibitor ACE dan β-blocker. Penghambat kalsium nondihydropyridine (yaitu, verapamil dan diltiazem) dapat mengurangi terjadinya koroner. Dalam studi jangka pendek, non-DCCB telah mengurangi ekskresi albumin.

Tidak ada studi jangka panjang dari efek α-blocker, diuretic loop, atau tindakan penghambat adrenergik pada komplikasi jangka panjang dari diabetes. α-blocker dihentikkan oleh komite pengawasan data dan keamanan karena peningkatan kasus gagal jantung pada pasien yang menggunakannya. Meski ini hanya bisa mengungkap kasus dari gagal jantung pada pasien yang sebelumnya dirawat dengan ACE inhibitor atau diuretik, tampaknya masuk akal untuk menggunakan ini sebagai obat kedua ketika kelas obat yang dipilih kurang efektif atau ketika indikasi tertentu lainnya hadir, seperti hipertrofi prostat jinak ( BPH).

Karena ada rasa kekhawatiran tentang efektivitas yang lebih rendah dari dihidropiridin penghambat kalsium (dibandingkan dengan inhibitor ACE, ARB, β-blocker, atau diuretik) dalam menurunkan terjadinya koroner dan gagal jantung dan mengurangi perkembangan penyakit ginjal pada diabetes, obat ini harus digunakan sebagai obat lini kedua jika Anda tidak bisa mentolerir kategori obat lainnya atau jika Anda memerlukan obat tambahan untuk mencapai target tekanan darah. Kelas obat lain, termasuk α-blocker, dapat digunakan di bawah indikasi tertentu (seperti gejala BPH untuk α-blocker) atau bila obat lainnya telah gagal untuk mengontrol tekanan darah atau memiliki efek samping yang tidak dapat diterima. Tekanan darah, perubahan ortostatik, fungsi ginjal, dan kalium serum harus dipantau pada interval yang tepat.

Meskipun thiazide dan diuretik seperti thiazide adalah obat yang sangat diperlukan dalam pengobatan hipertensi, peran mereka sebagai lini pertama atau bahkan obat lini kedua masih menjadi debat.

Tanyakan kepada dokter Anda jika Anda memiliki pertanyaan atau masalah tentang obat hipertensi. Juga beri tahu dokter Anda jika Anda berpikir obat Anda tidak bekerja atau kondisi Anda tidak membaik.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca