Anda mungkin lebih familiar dengan istilah preeklampsia karena sering mendengarnya dari wanti-wanti dokter setiap kali periksa kandungan. Namun, Anda juga harus mewaspadai tentang eklampsia. Eklampsia adalah kondisi berbahaya sebagai akibat dari hipertensi saat hamil. Berikut adalah 5 hal penting yang perlu Anda ketahui mengenai eklampsia.

Eklampsia adalah komplikasi serius dari preeklampsia

Eklampsia adalah serangan kejang yang dialami semasa kehamilan atau setelah melahirkan. Kejang eklampsia tidak disebabkan oleh kondisi otak seperti kejang atau epilepsi pada umumnya, melainkan timbul sebagai kelanjutan yang lebih parah dari preeklampsia (tekanan darah yang terlalu tinggi saat hamil).

Eklampsia adalah kondisi yang jarang terjadi namun serius. Jika tidak ditangani, kejang eklmpsia dapat menyebabkan koma, kerusakan otak, dan berpotensi pada kematian ibu atau bayi saat lahir (stillbirth).

Belakangan ini eklampsia lebih sering terjadi justru setelah melahirkan. Pasalnya selama melahirkan, dokter akan menggunakan obat-obatan untuk mencegah eklampsia, tapi kemudian dihentikan setelah persalinan selesai.

Ibu hamil sangat berisiko tinggi terkena eklampsia saat mengejan ketika persalinan.

Kejang eklampsia bisa terjadi lebih dari satu kali

Salah satu tanda dari eklampsia adalah kejang yang terjadi saat hamil atau setelah kelahiran. Kejang bisa terjadi lebih dari satu kali dengan durasi rata-rata 60-75 detik.

Durasi kejang yang dialami terjadi dua fase, yaitu fase satu ketika 15-20 detik pertama, yang ditandai dengan wajah berkedut, tubuh mulai kaku, dan otot menegang. Sementara fase kedua berlangsung selama 60 detik, yang ditandai dengan otot wajah serta kelopak mata bergerak-gerak. Kemudian, semua otot tubuh mulai bergantian kejang.

Biasanya, setelah itu orang yang kejang akibat eklampsia akan tidak sadar selama beberapa saat. Masa ini yang kemudian menjadi masa kritis.

Preeklampsia dan eklampsia lebih sering terjadi pada kehamilan pertama

Faktor pemicu risiko preeklampsia dan eklampsia adalah:

  • Hamil anak kembar
  • Sejarah tekanan darah tinggi kronis
  • Penyakit ginjal
  • Transplantasi organ
  • Riwayat preeklampsia pada keluarga
  • Obesitas, terutama indeks massa tubuh lebih dari 30

Preeklampsia paling sering terjadi pada kehamilan remaja atau wanita hamil pada usia akhir 30 dan 40 tahun. Namun, wanita yang tidak mengalami preeklampsia pada kehamilan pertama masih dapat mengalaminya. Preeklampsia juga bisa terjadi meski ibu tak punya riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.

Penyebab preeklampsia tidak diketahui. Namun beberapa teori menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena pasokan darah ke plasenta tidak lancar, sehingga mengganggu aliran darah tubuh ibu.

Wanita dengan preeklampsia cenderung memiliki komplikasi seperti bayi berat lahir rendah, kelahiran prematur, atau abrupsio plasenta, di mana plasenta terpisah dari dinding rahim sebelum persalinan.

hamil dengan thalassemia

Eklampsia dapat terjadi karena preeklampsia yang tak disadari

Karena eklampsia adalah kondisi komplikasi dari preeklampsia, maka itu preeklampsia sebaiknya dideteksi lebih dulu agar dapat dicegah. Namun sayangnya, wanita yang memiliki preeklampsia kerap kali tidak merasa sakit.

Wanita hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin, karena preeklampsia terjadi perlahan dan membahayakan, dan penderita sering tidak menyadari kondisi yang terjadi.

Gejala dapat meliputi, namun tidak terbatas pada:

  • Pembengkakan pada tangan dan wajah (edema) Beberapa kasus pembengkakan normal terjadi saat kehamilan, namun bengkak preeklampsia spesifik terjadi pada wajah dan mata.
  • Kenaikan berat badan secara tiba-tiba dalam 1 sampai 2 hari.
  • Kenaikan berat badan lebih dari 1 kg dalam seminggu.

Pada kasus yang serius, muncul juga gejala berikut ini:

  • Sakit kepala yang tidak kunjung hilang.
  • Sakit perut pada bagian kanan, bawah rusuk, atau pada pundak kanan.
  • Mual dan muntah.
  • Perubahan penglihatan: kebutaan sementara, melihat sinar atau bintik, sensitivitas terhadap cahaya, pandangan kabur.

Satu-satunya “obat” untuk eklampsia adalah persalinan

Melahirkan adalah cara untuk mengatasi preeklampsia maupun eklampsia. Melanjutkan kehamilan sementara ibu didiagnosis preeklampsia adalah hal yang fatal dan bisa menyebabkan komplikasi yang lebih berbahaya.

Maka itu, kebanyakan kasus ibu dengan preeklampsia dianjurkan untuk melahirkan meski meleset dari tanggal persalinan normal. Meski begitu, dokter tetap akan memantau dan memutuskan apakah Anda dan janin sudah siap untuk melakukan proses persalinan. Persalinan bisa saja terjadi ketika usia kehamilan memasuki minggu ke 32 hingga 36.

Pada kebanyakan kasus, eklampsia akan hilang dan sembuh ketika 6 minggu setelah bayi lahir. Jadi, sebaiknya sering-sering periksakan diri ke dokter, untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda dan janin.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca