Tekanan darah normal adalah tekanan darah yang angkanya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Tekanan darah adalah ukuran yang dapat menentukan seberapa kuat jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh Anda. Lalu, berapa angka tekanan darah yang normal, yang tinggi, rendah, dan angka tekanan darah normal untuk kondisi kesehatan tertentu?

Apa itu tekanan darah normal? Berapa tekanan darah yang normal?

Tekanan darah atau tensi normal pada tubuh, umumnya terjadi  ketika kondisi badan sedang sehat dan bugar. Tekanan darah yang normal pada seseorang berkisar pada angka 120/80 mm Hg.

Angka 120 menunjukkan tingkat tekanan saat jantung sedang memompa darah. Jantung memompa darah untuk dialirkan ke seluruh bagian tubuh. Angka 120, atau angka atas tekanan darah disebut sebagai angka sistolik.

Sedangkan pada angka 80, atau angka bawah tekanan darah, itu disebut sebagai angka diastolik. Arti angka ini adalah jantung sedang istirahat sebentar untuk memompa darah.

Tekanan darah tidak selamanya stabil atau menetap di angka yang itu-itu saja. Ini tergantung pada apa yang sedang Anda lakukan, rasakan atau kondisi kesehatan saat itu.

Bahkan perubahan posisi, dari duduk ke posisi berbaring, ataupun sebaliknya, dapat memengaruhi tensi normal yang ada di dalam darah Anda. Semua hal tersebut dapat membuat tekanan darah tinggi atau menyebabkan tekanan darah rendah.

Meski tekanan darah Anda sedang berada di angka tensi normal, Anda tidak boleh bersantai-santai. Namun, bila tekanan sistolik Anda normal tetapi angka bawah (diastolik) tensi Anda tinggi, contoh 120-139, Anda bisa dikatakan memiliki tekanan darah prahipertensi.

Prahipertensi adalah kondisi yang mengarah pada hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Kondisi ini berbahaya dan dapat menimbulkan risiko penyakit kronis di kemudian hari. 

Lalu, bagaimana bila tekanan darah tinggi?

Bila tekanan darah tinggi, Anda harus waspada dan usaha untuk mengembalikan kondisi tubuh ke tekanan darah normal. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan suatu kondisi yang lebih dari tensi normal, yakni angkanya di atas 120/80 mm Hg.

Semua orang berisiko mengalami tekanan darah tinggi. WHO atau Badan Kesehatan Dunia mengatakan bahwa jumlah orang yang menderita tekanan darah tinggi selalu bertambah tiap tahunnya. Bahkan pertambahannya diprediksi melonjak hingga 29 persen pada tahun 2025.

Kasus hipertensi yang terus meningkat ini juga semakin sering terjadi di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) milik Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan, bahwa 25,8 persen penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Laporannya menunjukkan angka pengidapnya meningkat jadi 32,4 persen.

Kondisi berlebihnya tekanan darah dari angka tensi normal ini juga sering disebut sebagai silent killer atau “pembunuh diam-diam”. Hal ini disebabkan karena tekanan darah tinggi dapat mengakibatkan penyakit kronis yang mengancam nyawa, misalnya serangan jantung.

Orang yang memiliki tekanan darah  yang angkanya di atas tekanan darah normal, biasanya tidak menunjukkan ciri apapun atau hanya mengalami gejala ringan. Namun, darah tinggi yang parah mungkin menyebabkan:

  • Sakit kepala parah
  • Pusing
  • Penglihatan buram
  • Mual
  • Telinga berdenging
  • Kebingungan
  • Detak jantung tak teratur
  • Kelelahan
  • Nyeri dada
  • Sulit bernapas
  • Darah dalam urin
  • Sensasi berdetak di dada, leher, atau telinga

Apa yang menyebabkan tekanan darah tinggi dari tensi normal?

Belum diketahui penyebab angka yang berlebih dari ukuran tekanan darah normal. Akan tetapi melonjaknya tekanan darah ini juga bisa disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan yang buruk.

Hipertensi diketahui banyak disebabkan oleh kebiasaan merokok. Perlu diketahui, satu batang rokok saja dapat menyebabkan lonjakan langsung dalam tekanan darah dan dapat meningkatkan kadar tekanan darah sistolik sebanyak 4 mmHG.

Nikotin dalam produk tembakau memacu sistem saraf untuk melepaskan zat kimia yang bisa menyempitkan pembuluh darah dan memicu tekanan darah tinggi.

Contoh lainnya, kebanyakan makan makanan asin, yang mengandung natrium (makanan olahan, makanan kalengan, fast food), dan makanan atau minuman yang mengandung pemanis buatan juga dapat meningkatkan kolesterol atau tekanan darah tinggi

Lalu, apa itu tekanan darah rendah?

Tekanan darah rendah, atau hipotensi, merupakan suatu kondisi rendahnya angka dari ukuran tekanan darah normal. Hal ini ditandai dengan ukuran tensi di bawah 90/60 mmHg.

Tekanan darah rendah terjadi ketika tekanan pada arteri sangat rendah sehingga darah tidak mengantarkan cukup oksigen dan nutrisi ke organ-organ tubuh. Akibatnya, organ tubuh tersebut tidak berfungsi normal dan mungkin akan rusak, baik untuk sementara atau permanen.

Ada berbagai macam hal yang menyebabkan tekanan darah rendah, seperti kehamilan, alergi, faktor psikologi, atau masalah pada jantung. Meskipun tidak semua tekanan darah rendah merupakan kondisi serius, Anda tetap tidak boleh meremehkannya. Dalam kasus yang parah, tekanan darah rendah bisa saja menyebabkan kematian.

Ciri-ciri tekanan darah rendah?

Tekanan darah rendah terkadang diartikan sebagai tanda tidak cukupnya darah yang mengalir pada otak dan organ vital lainnya, sehingga dapat menyebabkan beberapa gejala seperti:

  • Pening atau badan terasa ringan
  • Pingsan
  • Penglihatan kabur
  • Detak jantung lebih cepat dari normalnya dan iramanya menjadi tidak teratur
  • Merasa kebingungan
  • Mual atau merasa tidak enak badan
  • Lemah
  • Merasa kedinginan
  • Kulit pucat (pucat karena sakit)
  • Merasa haus atau dehidrasi. Dehidrasi bisa menjadi penyebab tekanan darah menurun

Kondisi tekanan darah ibu hamil juga harus diperhatikan

hipertensi darah tinggi saat hamil

Kondisi angka tekanan darah yang lewat dari batas tekanan darah normal, sering terjadi pada ibu hamil. Hipertensi adalah masalah medis paling umum dalam kehamilan.  Setidaknya dialami oleh 2-3 persen kehamilan. Tekanan darah ibu hamil harus rajin diperiksa, dan diusahakan untuk memiliki tekanan darah normal selama kehamilan berlangsung.

Hipertensi dapat meningkatkan banyak risiko berbahaya pada ibu dan janin. Contohnya seperti penurunan aliran darah ke plasenta hingga kelahiran prematur. Pada kasus meningkatnya tekanan darah ibu hamil, dokter kandungan atau bidan bisa memonitor kondisi ibu.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada anjuran khusus mengenai tes yang berhubungan dengan stroke, maupun tindakan pencegahan stroke setelah melahirkan.

Tekanan darah pada wanita, hamil maupun tidak, harus terus dimonitor ketat untuk mendeteksi kemunculan kembali tekanan darah tinggi, termasuk juga kolesterol, diabetes, dan pertanda lain dari risiko stroke.

Komplikasi tekanan darah ibu hamil

Preeklampsia

Preeklampsia adalah kondisi tekanan darah ibu hamil yang menunjukkan tanda hipertensi. Kondisi ini umumnya berasal dari plasenta yang tidak berkembang dengan baik akibat gangguan pada pembuluh darah. Penyebab pastinya belum dipahami sepenuhnya.

Untuk mendukung pertumbuhan bayi, plasenta membutuhkan pasokan darah yang besar dan konstan dari ibu. Dalam kasus hal yang menjadi penyebab preeklampsia, Plasenta yang tidak mendapatkan pasokan cukup darah bisa memicu preeklampsia karena plasenta tidak berkembang dengan baik seperti yang sudah terbentuk selama paruh pertama kehamilan.

Eklampsia

Eklampsia adalah serangan kejang yang dapat menyebabkan koma pada wanita hamil. Ini adalah kondisi tekanan darah wanita hamil yang langka tapi serius. Komplikasi tekanan darah wanita hamil  ini merupakan kondisi parah dari preeklampsia, yaitu komplikasi kehamilan saat tekanan darah ibu hamil memiliki tekanan yang terlalu tinggi.

Preeklampsia dan eklampsia menyerang plasenta, yaitu organ yang menghantarkan oksigen, darah, dan nutrisi pada janin. Apabila tekanan darah wanita hamil tinggi dan  mengurangi aliran darah, plasenta tidak dapat berfungsi dengan baik.

Hal ini dapat menyebabkan bayi Anda lahir dengan berat badan rendah atau kondisi kesehatan lainnya. Masalah dengan plasenta sering kali mengharuskan persalinan prematur demi kesehatan dan keamanan bayi. Pada kasus yang langka, kondisi ini dapat menyebabkan stillbirth atau bayi lahir mati.

Tekanan darah rendah saat hamil

Selain tekanan darah yang meningkat, ada juga tekanan darah wanita hamil yang menurun. Jika Anda sedang hamil, akan ada peningkatan arus darah dalam tubuh Anda untuk menjaga pasokan oksigen dan makanan nutrisi ke janin. Hal ini menyebabkan tekanan darah ibu hamil jadi  menurun.

Dapat dikatakan, ini adalah penyebab utama tekanan darah wanita hamil jadi rendah atau hipotensi pada sebagian besar wanita hamil. Namun, ada juga penyebab lain yang menyebabkan tekanan darah ibu hamil rendah.

Penyebabnya termasuk memiliki anak kembar, riwayat medis hipotensi, atau penyakit medis yang mendasari seperti dehidrasi, penyakit jantung tertentu, dan anemia.

Selain itu, faktor-faktor seperti vitamin B12 atau kekurangan asam folat menyebabkan tekanan darah wanita hamil jadi rendah, seperti jika berbaring di tempat tidur untuk jangka waktu yang lama. Pemakaian epidural juga sering menyebabkan penurunan tekanan darah wanita yang sedang hamil.

Bagaimana menjaga tekanan darah wanita hamil tetap stabil?

Tekanan darah wanita yang hamil harus tetap terjaga. Caranya, rajin-rajinlah merawat kesehatan diri sendiri dan kandungan Anda. Contohnya dengan cara-cara berikut ini:

  • Kunjungi dokter secara teratur selama hamil untuk mengecek tensi dan kondisi kandungan
  • Dokter akan meresepkan obat tekanan darah yang paling aman dengan dosis yang paling tepat.
  • Tekanan darah ibu hamil bisa dijaga bila ibu mengikuti berbagai aktivitas fisik yang direkomendasikan dokter.
  • Untuk menjaga tekanan darah ibu hamil tetap stabil, hindari makanan asin yang mengandung natrium berlebih.
  • Hindari rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang. Konsultasikan dengan dokter sebelum meminum obat-obatan tertentu.

Meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, sejauh ini para peneliti belum menemukan cara yang paling efektif untuk mencegah preeklampsia. Dokter mungkin akan memberikan aspirin dosis rendah harian (antara 60-81 miligram) dimulai pada akhir trimester pertama jika sebelumnya ibu pernah menjalani persalinan prematur (sebelum usia kehamilan 34 minggu), atau beberapa kali memiliki preeklampsia di kehamilan sebelumnya.

Untuk menghindari komplikasi, dokter mungkin merekomendasikan persalinan dengan induksi beberapa hari sebelum tanggal prediksi kelahiran. Induksi mungkin diperlukan lebih awal jika ibu menunjukkan gejala preeklampsia atau komplikasi lain.

Pada kasus preeklampsia berat, dokter akan memberi obat selama persalinan untuk membantu mencegah kejang. Tidak menutup kemungkinan dilakukannya operasi caesar.

Setelah bayi lahir, para dianjurkan untuk memberikan ASI meskipun kondisi tekanan darah wanita hamil, bahkan sedang dalam pengobatan. Diskusikan penyesuaian dosis obat maupun obat tekanan darah alternatif dengan dokter. Dokter mungkin menyarankan ibu untuk tidak menyusui sesaat setelah minum obat.

Mengetahui berapa batas normal tekanan darah berdasarkan usia

Angka normal tekanan darah berdasarkan usia biasanya terus meningkat sepanjang hidup. Pasalnya, kebanyakan bayi dan anak-anak tidak berisiko mengalami masalah tekanan darah.

Dokter tidak mungkin mengukur tekanan darah anak-anak secara rutin. Untuk semua orang dewasa, tanpa memandang usia, tekanan darah berdasarkan usia dewasa yang dianggap normal berkisar 120/80 mmHG.

Tekanan darah berdasarkan usia bayi dan anak-anak

hipertensi pada anak

Tekanan darah berdasarkan usia bayi ke masa kanak-kanan akan  berubah sepanjang masa Tekanan darah berdasarkan usia anak bisa berubah atau berbeda, kecuali jika anak Anda berisiko mengalami masalah tekanan darah, misalnya penyakit ginjal atau diabetes .

Dokternya tidak mungkin untuk mengambil tekanan darah sama sekali. Menentukan tekanan darah berdasarkan usia bayi menuju anak-anak sedikit rumit, karena  itu tergantung pada ukuran dan usia anak. .

Namun, jika ia memiliki kelebihan tekanan darah berdasarkan usia anak-anak sebanyanya, dan tekanan darahnya lebih besar daripada 90 persen batasan normal untuk anak seusianya, ia bisa didiagnosis memiliki hipertensi.

Tekanan darah berdasarkan usia lanjut (40 tahun ke atas)

Menurut HighBloodPressureInfo.org, seperti yang dikutip dari Livestrong, tekanan darah berdasarkan usia sekitar usia 60 hingga 64 tahun adalah 134/87 mmHg. Pasalnya, semakin bertambahnya usia, tubuh membutuhkan darah untuk memompa darah ke seluruh tubuh lebih keras.

Maka tak jarang tekanan darah untuk orang lanjut usia yang normal menjadi sedikit lebih tinggi dibanding tekana untuk orang dewasa normal.

Bagaimana supaya tensi normal tetap terjaga?

Tensi normal atau tekanan darah yang stabil harus selalu dijaga. Tekanan darah yang terlalu rendah dapat menyebabkan pusing. Sementara tekanan darah terlalu tinggi mungkin tidak menyebabkan gejala apapun, namun lama-lama bisa juga memicu stroke. T

ekanan darah yang tinggi dan terjadi secara terus menerus juga dapat menyebabkan gagal jantung kongestif, gagal ginjal, aterosklerosis, dan komplikasi lainnya.

Semakin Anda bertambah tua, tindakan pencegahan menjadi lebih penting. Tekanan sistolik biasanya akan pelan-pelan naik setelah Anda mencapai usia 50 tahun.  Terapkan gaya hidup sehat untuk mendapatkan kondisi tensi normal yang stabil seperti di bawah ini:

  • Tetaplah jaga berat badan agar ideal, yang dapat dicapai dengan pola makan sehat dan olahraga. Memiliki berat badan sehat akan mengurangi peluang Anda terkena hipertensi.
  • Selalu cek tekanan darah secara rutin untuk mendapatkan hasil tekanan darah yang normal dan kapan Anda harus waspada
  • Hindari makan makanan asin yang mengandung natrium tinggi. Mulailah mengonsumsi sayur mayur, makanan kaya serat, buah, dan jauhi minuman manis untuk mencegah komplikasi pada tekanan darah.
  • Usahakan olahraga rutin setiap harinya. Setidaknya Anda bisa buat diri Anda tetap aktif bergerak guna mencegah tekanan darah normal malah naik atau jadi rendah.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca