3 Pengobatan Alternatif untuk Osteopenia (Penurunan Kepadatan Tulang)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/11/2019 . 3 mins read
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar osteopenia? Kondisi ini berbeda dengan osteoporosis. Seseorang yang didiagnosis osteopenia berarti mengalami penurunan kepadatan tulang di bawah normal. Supaya osteopenia tidak bertambah buruk, pasien bisa menjalani pengobatan alternatif. Apa saja pengobatannya?

Pengobatan alternatif untuk osteopenia

Walaupun berbeda, osteopenia dan osteoporosis saling berkaitan. Ketika seseorang mengalami osteopenia, itu artinya tulang orang tersebut mengalami peralihan dari sehat menuju osteoporosis.

Untuk mengetahuinya, pasien  perlu melakukan tes dual-energy x-ray absorptiometry (DXA) untuk mengukur kandungan mineral pada tulang.

Menurut Dr. Mauren Conelly dari Harvard Medical School, jika tes menunjukkan osteopenia, pasien perlu menjalani tes kepadatan mineral setiap dua atau lima tahun sekali. Tujuannya, tidak hanya mengamati kondisi tulang tapi mencegah kemungkinan terjadinya osteoporosis.

Osteopenia bisa diobati, namun beberapa dokter khawatir jika pemberian obat osteopenia akan berlebihan. Kemungkinan dokter akan merekomendasikan pengobatan alternatif untuk osteopenia, seperti:

1. Diet dan suplemen

vitamin d adalah

Kekurangan vitamin D sangat umum dialami oleh pasien dengan osteopenia. Vitamin ini diperlukan untuk membangun tulang dan otot yang kuat. Tanpa vitamin D, tubuh tidak dapat menyerap kalsium secara efektif, yakni nutrisi yang juga penting untuk tulang.

Fungsi penting dari vitamin ini perlu dicukupi oleh pasien osteopenia. Anda bisa mendapatkannya dari makanan, seperti ikan, telur, dan produk susu. Vitamin ini juga bisa didapat dari suplemen, dengan catatan penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.

Agar pengobatan alternatif untuk osteopenia ini hasilnya maksimal, pasien perlu paparan sinar matahari pagi. Sinar matahari yang mengandung sinar UVB ternyata dapat membantu tubuh mengolah vitamin D.

2. Mengikuti olahraga taichi

jenis penyakt dan masalah kesehatan dan olahraga

Tai chi adalah gabungan seni dan olahraga yang berfokus untuk menjaga keseimbangan tubuh. Gerakannya dilakukan dengan tenang dan perlahan, tidak seperti senam aerobik yang cepat. Saat melakukan gerakan, pasien harus mengatur napas dan pikirannya tetap tenang layaknya sedang bermeditasi.

Sebuah studi dalam jurnal Osteoporosis International menyebutkan bahwa gerakan tai chi dapat menyehatkan tulang, karena bisa merangsang pertumbuhan dan kepadatan tulang.

Bila pengobatan alternatif untuk osteopenia ini dilakukan secara rutin, pasien dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik. Dengan begitu, pasien tidak lagi rentan terjatuh dan tidak memberikan tekanan berlebihan atau masalah pada tulang.

3. Minum teh hijau

minum teh hijau sebelum tidur

Pada penelitian yang sama, hasil latihan taichi akan maksimal jika pasien juga minum teh hijau. Periset menjelaskan bahwa kombinasi keduanya memberikan dampak positif pada tulang. Kandungan katekin—senyawa antioksidan—pada teh hijau dan tai chi dapat menunda degenerasi tulang dan cedera pada otot.

Menjalani gaya hidup yang sehat juga diperlukan

Selain mengikuti pengobatan alternatif di bawah pengawasan dokter, penerapan gaya hidup sehat juga diperlukan oleh pasien osteopenia. Jaga berat badan Anda tetap terkendali dan hentikan kebiasaan merokok serta minum alkohol.

Bila berat badan Anda terus naik, tekanan pada tulang akan semakin besar sehingga melemahkan tulang. Jangan lupa sesuaikan kegiatan yang Anda lakukan dengan kondisi tubuh.

Sebaiknya kurangi pekerjaan yang mengharuskan Anda mengangkat benda yang berat. Kemudian, istirahat yang cukup supaya tubuh Anda bugar dan sehat secara menyeluruh.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Pilihan Pengobatan untuk Menyembuhkan Osteopenia

Tanpa perawatan, osteopenia dapat menjadi osteoporosis. Lantas, apa saja pengobatan untuk osteopenia? Yuk, lihat beberapa pilihan pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 30/10/2019 . 3 mins read

5 Perawatan Plus Komplikasi dari Kontraktur Dupuytren (Masalah Jari Tertekuk)

Kontraktur dupuytren menyebabkan jari tertekuk. Berikut pengobatan untuk kontraktur dupuytren sekaligus komplikasi yang mungkin terjadi.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 16/10/2019 . 5 mins read

5 Manfaat Olahraga Tenis Meja bagi Kesehatan

Tenis meja mungkin tidak mengharuskan Anda berlarian di tengah lapangan. Akan tetapi, manfaat tenis meja bagi kesehatan tidak bisa dianggap sebelah mata.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kebugaran, Hidup Sehat 05/09/2019 . 4 mins read

Lutut Sakit Saat Ditekuk? Ini 4 Kondisi yang Bisa Jadi Pemicunya

Tak melulu karena keseleo atau terkilir, faktanya ada banyak hal yang bisa menyebabkan Anda mengalami lutut sakit saat ditekuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Nyeri Kronis, Health Centers 17/01/2019 . 3 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

susu untuk osteoporosis

Sudah Osteoporosis, Masih Bisakah Minum Susu untuk Menguatkan Tulang?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 12/01/2020 . 6 mins read
gejala osteoporosis dini

6 Gejala yang Menandakan Osteoporosis Dini

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 25/11/2019 . 5 mins read
mencegah osteopenia

Yuk, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menurunkan Risiko Osteopenia

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 08/11/2019 . 4 mins read
perbedaan osteopenia dan osteoporosis

Sama-sama Menyerang Tulang, Kenali 5 Perbedaan Osteoporosis dengan Osteopenia

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 05/11/2019 . 4 mins read