Waspadai Penyebab Cacar Air dan Berbagai Faktor Risikonya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20/05/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Cacar air lebih dikenal sebagai penyakit yang hanya dialami oleh anak-anak. Padahal, cacar air merupakan infeksi virus sehingga bisa dialami siapa saja. Namun memang, risiko mendapatkan penyakit ini akan lebih tinggi pada orang-orang yang belum pernah terinfeksi dan tidak mendapatkan vaksin cacar air. Lantas, apa penyebab cacar air? Yuk, pahami lebih dalam mengenai periode infeksi virus penyebab cacar air. Dengan begitu, Anda bisa mewaspadai kapan cacar air lebih berpotensi menularkan virusnya.

Mengenal virus penyebab cacar air

Penyebab cacar air adalah infeksi virus varicella-zoster (VZV). Virus ini sangat mudah menular dan bisa menyebar dengan cepat. Anda bisa terinfeksi virus ini hanya dengan menghirup partikel virus cacar air yang terbawa angin.

Selain itu, penularan virus penyakit ini juga dapat berlangsung melalui droplet mukosa yang dikeluarkan ketika penderita bernapas, berbicara, bersin, atau batuk.

Penularan dari orang yang terinfeksi mulai bisa berlangsung ketika gejala awal cacar air seperti demam muncul. Orang yang terinfeksi bisa terus menularkan virus sampai lenting mengering dan mengelupas dari kulit.

Berbahayakah virus ini? Infeksi virus penyebab cacar air pada anak relatif tidak menimbulkan gejala yang serius. Cacar air pada orang dewasa akan muncul akan lebih parah jika mereka belum pernah terinfeksi sama sekali.

Menurut ulasan dari Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG), infeksi virus penyebab penyakit dapat menyebabkan kelainan pada janin apabila ibu hamil terjangkit cacar air ketika usia kandungannya memasuki 6 minggu. Apabila tertular di masa akhir kehamilan, infeksi virus bisa membahayakan keselamatan kandungan.

Perkembangan infeksi virus penyebab cacar air

Cacar air ditandai dengan munculnya bintik-bintik merah pada kulit yang menimbulkan rasa gatal.

Penyakit ini termasuk self-limiting disease, yaitu infeksi virusnya dapat mereda dengan sendirinya. Dalam beberapa hari bintik merah akan berubah menjadi lenting kemudian mengering, dan tidak lagi menular.

Perubahan gejala cacar air dapat terlihat dalam tahapan perkembangan penyakitnya, seperti berikut ini:

1. Fase prodromal

Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menginfeksi mukosa pada saluran pernapasan atau jaringan mata. Virus selanjutnya akan berpindah untuk berkembangbiak selama 2-4 hari di kelenjar getah bening yang masih berada pada saluran pernapasan.

Dari fase infeksi awal ini, virus akan menyebar ke dalam aliran darah dan menyebabkan timbulnya gejala awal cacar air seperti demam, kelelahan, dan sakit kepala. Peristiwa infeksi ini disebaut dengan viremia primer yang berlangsung selama 4-6 hari.

2. Fase viremia sekunder

Replikasi virus selanjutnya terjadi dalam organ tubuh dalam, yakni di hati dan limpa. Seperti yang dituliskan Medscape, kondisi ini diikuti dengan infeksi viremia sekunder yang berlangsung dalam waktu 14-16 hari. Virus penyebab cacar air akan masuk ke dalam lapisan kulit terluar yaitu epidermis, termasuk ke pembuluh darah yang berada di dalamnya.

Fase infeksi ini akan menghasilkan akumulasi atau penumpukan cairan di bawah permukaan kulit dan menghasilkan pembentukan lenting cacar atau vesikel. Ruam kulit yang semula berbentuk bintik merah kemudian melepuh terisi dengan cairan. Dalam fase infeksi ini, demam bisa terjadi walaupun tidak terlalu tinggi.

Bintik yang menjadi lenting akan menyebar ke seluruh bagian tubuh, mulai dari wajah, badan bagian depan, hingga tangan dan kaki. Infeksi virus penyebab cacar air di tahap ini juga akan membuat rasa gatal semakin kuat.

Kondisi ini bisa membuat penyakit jadi sangat menular. Menggaruk lenting cacar air dapat menyebabkan lenting pecah dan cairan yang berisi virus di dalamnya akan menyebar di udara.

Sebelum terbentuknya lenting di permukaan kulit, lepuhan juga bisa muncul di dalam membran mukus yang terdapat di dalam mulut. Lenting yang berada di dalam mulut bisa terasa sangat perih sehingga akan sulit untuk menelan makanan.

3. Fase pembentukan pustula

Selain menggaruk, lenting cacar juga bisa pecah akibat gesekan permukaan kulit dengan pakaian ataupun benda-benda lain.

Tidak hanya lebih berpotensi menyebarkan virus, lenting yang pecah juga dapat menghasilkan luka terbuka yang menjadi pintu masuk untuk bakteri dari luar menginfeksi kulit. Bekas cacar air akibat garukan bisa sulit dihilangkan.

Oleh sebab itu, usahakan sebisa mungkin lenting tidak tergesek.

Pada lenting yang belum pecah akan memasuki tahap infeksi virus penyakit ini selanjutnya. Dalam fase ini sistem imun tubuh akan bereaksi semakin aktif dalam melawan infeksi virus sehingga menyebabkan terbentuknya pustula. Lenting cacar akan mengempis dan terisi oleh sel-sel darah putih yang mati.

4. Fase umbilikasi

Dalam waktu empat hingga lima hari, pustula akan melalui proses umbilikasi yaitu dengan membentuk kerak dan keropeng di kulit. Fase infeksi virus penyebab cacar air ini juga rentan memicu terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri karena ruam cacar akan membentuk luka terbuka.

Lantas, keropeng kulit pelan-pelan akan mengelupas dengan sendirinya. Tahap ini menandakan infeksi akhir dan kesembuhan penyakit cacar air.

Apa saja faktor-faktor risiko cacar air?

Orang yang pernah terinfeksi cacar air umumnya tidak akan terkena cacar air untuk kedua kalinya. Hal ini disebabkan tubuh telah membentuk antibodi terhadap virus penyebab cacar air, sehingga dapat mencegahnya menginfeksi.

Oleh sebab itu, risiko Anda untuk terkena cacar air akan lebih tinggi jika Anda belum pernah sakit cacar air sebelumnya atau belum melakukan vaksin. Beberapa kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terpapar virus penyebab cacar air di antaranya adalah:

  • Anak berusia di bawah 10 tahun yang belum melakukan vaksin dan belum pernah terinfeksi.
  • Wanita hamil yang belum pernah terinfeksi.
  • Orang yang belum pernah melakukan vaksin cacar air.
  • Beraktivitas penuh di tempat tertutup bersama orang yang terinfeksi seperti sekolah atau rumah sakit.
  • Memiliki kondisi daya tahan tubuh yang lemah, semisal karena penyakit yang menyerang sistem imun seperti HIV atau sedang menjalani pengobatan kemoterapi.

Jika Anda termasuk ke dalam kelompok orang yang mengalami faktor risiko, Anda perlu segera melakukan vaksinasi cacar air sebagai cara efektif mencegah cacar air.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Salep Apa yang Baik untuk Mengatasi Gatal Cacar Air?

Obat oles seperti salep dapat digunakan untuk membantu mengatasi rasa gatal akibat cacar air. Bagaimana cara penggunaannya yang efektif?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Health Centers 22/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Setiap Jenis Cacar Berbeda Penyebabnya, Bagaimana Pengobatannya?

Berbeda jenis cacar, maka berbeda pula cara mengobati gejalanya. Pastikan Anda mengenali setiap jenis cacar sehingga tidak salah melakukan penanganan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Health Centers 21/05/2020 . Waktu baca 8 menit

Waspadai Ciri Scabies Berdasarkan Jenis dan Parahnya Gejala Kudis

Scabies atau kudis merupakan penyakit kulit menular. Penting bagi Anda mengenali ciri dan gejala scabies (kudis) untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Health Centers 20/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Ciri-Ciri Cacar Api yang Wajib Dikenali, Jika Anda Sudah Pernah Kena Cacar Air

Ciri-ciri cacar api memiliki pola penyebaran lenting yang berbeda dengan cacar air. Gejala cacar api juga disertai nyeri pada kulit.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Health Centers 18/05/2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Cacar api pada anak dan bayi

Cacar Api pada Anak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020 . Waktu baca 6 menit
Vaksin cacar air

Vaksin Cacar Air (Varisela), Ketahui Manfaat dan Jadwal Pemberiannya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020 . Waktu baca 8 menit
Konten Bersponsor
ilustrasi wanita terkena infeksi jamur kulit yang dapat diatasi dengan obat oles atau salep jamur kulit

Kapan Harus Menggunakan Obat Antijamur Saat Muncul Gatal pada Kulit?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020 . Waktu baca 4 menit
Obat kudis tradisional alami

6 Bahan Alami yang Bisa Dimanfaatkan untuk Obat Kudis Tradisional

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020 . Waktu baca 6 menit