Kupas Tuntas Perbedaan Nebulizer dan Inhaler untuk Mengobati Asma

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Asma adalah penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan. Namun, gejalanya dapat dikendalikan dan dicegah dengan menggunakan alat bantu napas berupa nebulizer atau inhaler. Dua alat hirup ini juga bisa segera mengatasi serangan asma yang kambuh. Meski fungsinya tampak mirip, cara pakai nebulizer dan inhaler asma berbeda, lho!

Apa itu nebulizer?

Nebulizer adalah mesin yang mengubah obat cair menjadi uap untuk dihirup ke dalam paru-paru. Alat bantu napas ini biasanya dijalankan dengan daya listrik atau baterai. Dengan menggunakan nebulizer, Anda bisa bernapas lebih lega.

Nebulizer biasanya digunakan sebagai terapi pengobatan asma kronis, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Ini karena dibanding dengan inhaler, partikel uap obat yang dihasilkan nebulizer amat sangat kecil sehingga obat akan bisa lebih cepat meresap ke bagian paru yang ditargetkan.

Selain untuk pengobatan asma, alat ini juga dapat digunakan untuk penderita penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), pneumonia (infeksi paru), dan reaksi alergi berat.

Perangkat nebulizer terdiri dari mesin kompresor udara, wadah kecil untuk obat cair, dan selang elastis yang menghubungkan kompresor udara ke wadah obat. Di bagian ujung atas wadah obat terdapat corong atau masker yang digunakan untuk menghirup kabut uap.

Nebulizer ada banyak jenisnya

Ada banyak jenis dan model dari alat bantu napas ini, walau fungsinya tetap sama. Jenis yang Anda pilih akan memengaruhi durasi lamanya perawatan, ukuran partikel obat yang dapat dihirup, portabilitas (mudah atau tidaknya dibawa-bawa), daya tahan alat, dan banyak hal lainnya.

Jenis nebulizer yang paling umum adalah compressor, ultrasonic, dan mesh.

1. Nebulizer compressor

Sumber: Shutterstock

Tipe compressor menghasilkan gas bertekanan tinggi yang dialirkan dengan sangat cepat untuk memecah obat cair sampai menjadi bentuk uap. Compressor biasanya lebih murah daripada jenis lainnya, tapi cenderung lebih boros karena memakai tenaga listrik. Alat ini juga berisik karena menghasilkan suara dengungan mesin.

Lama waktu penggunaan compresor untuk sekali pengobatan bisa memakan waktu sekitar 8-20 menit.

2. Nebulizer mesh

Sumber: Shutterstock

Nebulizer mesh menghasilkan hantaran listrik atau gelombang ultrasonik yang menggetarkan obat cair sampai melewati lubang-lubang mesh (bahan yang terbuat dari jalinan jaringan kawat atau benang). Hasilnya adalah tetesan uap cairan yang sangat halus.

Tipe mesh dianggap sebagai alat hirup dengan cara kerja tercepat, paling efisien, dan tidak berisik. Pengoperasiannya menggunakan baterai sehingga praktis untuk dibawa bepergian. Namun, harganya lebih mahal dibandingkan yang lain.

3. Nebulizer ultrasonik

Sumber: Shutterstock

Tipe ultrasonik menghasilkan getaran berfrekuensi tinggi untuk mengubah obat cair menjadi uap air. Nebulizer ultrasonik tidak mengeluarkan suara berisik, ukurannya kecil, dan mudah dibawa ke mana-mana karena dioperasikan dengan daya baterai. Ada juga versi listrik yang bisa diisi ulang (rechargeable).

Nebulizer ultrasonik bekerja lebih cepat dibanding tipe lainnya, yaitu sekitar 6 menit untuk sekali pengobatan. Meski begitu, alat ini tidak efisien untuk mengubah obat suspensi atau cairan kental.

Cara menggunakan nebulizer yang baik dan benar

Cara menggunakan nebulizer yang tepat memungkinkan obat meresap sampai ke dalam paru dan bekerja efektif mengobati asma. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir untuk mencegah kuman ikut masuk ke paru-paru lewat tangan yang menyentuh nebulizer.
  2. Siapkan obat yang akan digunakan. Jika obat sudah dicampur, tuang langsung ke dalam wadah obat nebulizer. Jika belum, masukkan satu per satu dengan menggunakan pipet atau alat suntik.
  3. Tambahkan cairan saline jika diperlukan dan diresepkan dokter.
  4. Hubungkan wadah obat ke mesin dan juga masker ke bagian atas wadah.
  5. Pasang masker di wajah hingga menutupi hidung dan mulut. Pastikan pinggiran masker tersegel baik dengan wajah, agar tidak ada uap yang keluar dari sisi-sisi masker.
  6. Hidupkan mesin kemudian tarik napas dengan hidung dan keluarkan perlahan melalui mulut.
  7. Anda bisa mengakhirinya saat tidak ada lagi uap yang keluar. Ini tandanya obat sudah habis.

Sebagai terapi pencegahan serangan asma, nebulizer bisa digunakan selama 20 menit untuk 1-2 kali dalam sehari. Jika untuk meredakan serangan asma, alat ini bisa digunakan setiap 4 jam sekali tergantung dari keparahan gejala asma Anda.

Cara merawat nebulizer agar awet dan tidak cepat rusak

Banyak orang yang kurang memahami cara pengobatan menggunakan nebulizer dan tidak menyadari milik mereka akhirnya terlanjur rusak. Oleh karena itu, Anda harus tahu cara merawatnya agar tetap bisa efektif mengendalikan asma Anda.

Alat hirup uap obat nebulizer harus dibersihkan setiap kali digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam mesin yang bisa ikut masuk ke paru-paru. Begini cara membersihkannya:

  1. Setelah selesai menggunakan, selalu langsung cuci wadah obat dan juga masker dengan sabun cuci piring dan bilas dengan air panas. Usahakan untuk membersihkannya tanpa ada yang terlewat.
  2. Lap bersih setiap bagian nebulizer hingga benar-benar kering. Agar lebih cepat kering, Anda juga bisa memasang setiap bagian nebulizer ke mesin dan menghidupkannya. Udara yang dikeluarkan dari mesin membantu mengeringkan alat dengan cepat dan praktis.
  3. Pastikan semua bagian telah benar-benar kering sebelum menyimpannya dan menggunakannya kembali.

Selain dibersihkan, Anda juga perlu mensterilkan alat bantu napas tersebut setiap dua hari sekali setelah digunakan. Caranya:

  • Rendam bagian-bagian nebulizer (kecuali maskernya) ke dalam baskom yang sudah diisi 3 gelas air panas yang dicampur satu sendok cuka putih encer.
  • Diamkan selama satu jam atau sesuai yang diinstruksikan di kardus kemasan.
  • Setelah itu, keringkan sampai benar-benar kering. Setelah itu, pasang lagi bagian-bagian alat nebulizer ke mesin dan hidupkan alatnya. Pastikan semua bagian telah benar-benar kering sebelum menyimpannya.

Setelah dibersihkan dan disterilkan, pastikan untuk menyimpan alat sesuai dengan petunjuk agar tetap awet dan terus berfungsi dengan baik.

Selang perlu diganti secara teratur agar lebih higienis dan memastikan bahwa Anda tidak menghirup kuman berbahaya.

Selain asma, nebulizer juga bisa membantu masalah kesehatan ini

1. PPOK

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menyerang paru secara bertahap, biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok. Penyakit ini ditandai dengan gejala-gejala gangguan pernapasan dan napas yang terhambat.

Napas bisa terhambat sebagai akibat dari kombinasi penyakit saluran napas seperti bronkitis kronis, rusaknya kantong udara di paru-paru, dan asma refrakter (berat).

Meski pasien PPOK umumnya mengalami penyempitan saluran pernapasan yang tidak bisa disembuhkan, penggunaan bronkodilator berpotensi meringankan keluhan tersebut.

Maka itu, nebulizer dengan bronkodilator bisa digunakan untuk mengatasi keluhan yang akut atau untuk mencegah PPOK bertambah parah.

2. Bronkiolitis

Bronkiolitis adalah peradangan dan pembengkakan saluran udara kecil (bronkiolus) akibat infeksi virus. Kondisi ini sering ditemukan pada bayi dan bisa jadi salah satu risiko penyakit asma di kemudian hari. Dokter atau perawat mungkin menganjurkan nebulizer untuk mengatasi bronkiolitis, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing.

3. Bronkiektasis

Bronkiektasis ditandai dengan saluran napas yang luka dan meradang, serta dipenuhi dengan lendir yang kental. Hal ini bisa meningkatkan risiko infeksi bakteri.

Nah, nebulizer adalah alat yang bisa dipakai untuk membersihkan lendir. Dengan begitu, Anda lebih mudah mengeluarkan lendir dan obat-obatan untuk infeksi bakteri jadi lebih mudah diserap.

4. Cystic fibrosis

Cystic fibrosis atau fibrosis kistik adalah penyakit genetik yang mengganggu kemampuan tubuh mengendalikan gerakan garam dan air di antara sel. Akibatnya, terbentuklah lendir yang sangat kental di paru-paru dan sistem pencernaan. Hal ini membuat Anda susah bernapas dan meningkatkan risiko infeksi paru.

Nebulizer akan mengantarkan obat secara efisien dan menghancurkan gumpalan lendir atau mengatasi gejala fibrosis kistik lainnya. Obat-obatan kistik fibrosis yang bisa digunakan dalam nebulizer adalah bronkodilator, kortikosteroid, dan enzim dornase alfa.

Pengobatan dengan nebulizer tak hanya melegakan pernapasan, tapi juga mengatur produksi lendir dan mencegah infeksi bertambah parah.

5. Sinusitis

Sinusitis adalah kondisi peradangan pada area hidung dan sinus. Menurut berbagai laporan, ultrasonic nebulizer cukup ampuh mengurangi gejala-gejala sinusitis seperti hidung tersumbat atau nyeri di area hidung dan wajah. Alat ini bahkan disebutkan mampu mengatasi infeksi bakteri pada 76 persen pasien yang diberikan obat antibiotik lewat mesin uap ini.

Dalam sebuah survei yang dilakukan pada pasien pengguna nebulizer di rumah, terbukti bahwa manfaat nebulizer jauh lebih besar daripada potensi risiko apa pun. Nebulizer sendiri bisa menjadi alat yang sangat membantu dalam mengendalikan penyakit paru kronis, serta bisa membantu para pasien lebih berhemat

Lalu, apa itu inhaler?

Mirip dengan nebulizer, inhaler adalah alat semprot (aerosol) yang mengandung obat-obatan untuk meringankan gejala asma. Jenis tertentu dari inhaler juga bisa membantu mencegah serangan asma kambuh.

Beda dengan nebulizer yang bentuknya cukup besar dan berat, semprotan inhaler ringan dan ringkas sehingga mudah untuk dibawa ke mana pun. Cara pakainya juga praktis, cukup dengan menekan tabung obat dan menghirup uapnya lewat corong. Namun kadang, inhaler lebih sulit dipakai untuk kalangan tertentu, misalnya bayi, balita, atau orang dewasa penderita asma parah yang butuh dosis lebih kuat/besar.

Apa saja jenis inhaler untuk asma?

efek samping inhaler
Sumber: Shutterstock

Inhaler asma ada banyak jenisnya, terbagi dalam beberapa kategori dan fungsi yang berbeda cara penggunaan, bentuk (model), dan dosis berdasarkan keparahan gejalanya.

Jenis inhaler asma berdasarkan cara penggunaannya

Ada dua jenis inhaler asma yang dipakai berdasarkan cara penggunaannya, yaitu

  • Inhaler yang digunakan setiap hari. Inhaler ini digunakan 2 kali sehari untuk mencegah gejala asma yang mungkin menyerang. Obat-obatan di dalam inhaler bekerja mencegah peradangan di saluran napas. Inhaler jenis ini biasanya berisi obat kortikostreoid seperti beclomethasone, budesonid, fluticasone, dan mometasone.  
  • Inhaler yang digunakan saat kambuh. Inhaler ini digunakan untuk segera meredakan serangan asma begitu gejala awalnya terjadi. Obat yang biasanya digunakan adalah bronkodilator. Bronkodilator terdiri dari berbagai macam jenis obat yang bekerja melemaskan otot-otot saluran napas yang menegang. Dengan begitu, sehingga pernapasan Anda dapat kembali normal.

Jenis inhaler asma berdasarkan bentuknya

Ada dua jenis inhaler asma yang dipakai berdasarkan cara bentuk (model alat), yaitu:

1. Inhaler dosis terukur bertekanan (metered dosage inhaler)

Inhaler ini terdiri dari tabung bertekanan yang berisi obat dan di ujungnya terdapat corong plastik. Ketika asma kambuh, Anda harus cepat-cepat menghirup napas dari inhaler ini. Dengan begitu obat juga akan langsung masuk ke dalam saluran napas dan meredakan gejala.

Jika menggunakan inhaler ini, maka sebaiknya Anda mencatat berapa banyak dosis obat yang telah Anda hirup. Inhaler asma jenis ini terkadang tidak disertakan pengukur dosis yang membuat Anda tahu seberapa banyak obat yang Anda hirup.

2. Inhaler serbuk kering

Berbeda dengan inhaler dosisi bertekanan, inhaler asma dengan serbuk kering ini bukan berbentuk aerosol yang bisa langsung Anda hirup dari alatnya. Inhaler ini tak dapat menyemprotkan obat. Jadi, pasien harus menghirup serbuk dengan cepat dan kuat. Biasanya inhaler ini tersedia untuk satu kali hirup, jadi mencegah penggunaan dosis yang berlebihan.

Untuk mengetahui mana yang lebih baik untuk Anda gunakan, sebaiknya diskusikan pada dokter Anda. Sebab, hal ini juga tergantung kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien.

Cara menggunakan inhaler yang tepat dan efektif

Cara menggunakan inhaler dengan benar dan lebih efektif adalah sebagai berikut:

  • Duduk atau berdiri tegak saat menggunakan inhaler.
  • Kocok inhaler dengan baik sebelum menghirupnya.
  • Langsung tarik napas perlahan begitu Anda menekan inhaler.
  • Tahan napas selama minimal 10 detik setelah menghirupnya.
  • Bila Anda perlu menggunakan lebih dari satu hirupan per dosis, tunggu beberapa menit dulu di antara setiap isapan. Jika Anda menggunakan obat bronkodilator kerja cepat, berikan jeda 3-5 menit. Untuk jenis lainnya, berikan jeda 1 menit.
  • Tarik dan buang napas perlahan di antara setiap isapan.

Yang perlu diingat, Anda tak bisa sembarangan pinjam inhaler milik orang lain. Selain jorok dan belum tentu bersih, mungkin saja jenis inhaler punya mereka dosis dan jenis obatnya berbeda dari apa yang Anda pakai selama ini.

Maka sebisa mungkin taruh dan simpan inhaler milik Anda di tempat yang mudah dijangkau. Bawa alat tersebut ke mana pun Anda pergi untuk mengantisipasi serangan yang mungkin kambuh di waktu dan tempat yang tidak terduga.

Cara membersihkan inhaler

Penting untuk menjaga inhaler tetap bersih agar Anda tidak menghirup kuman-kuman dari udara sekitar yang mungkin menempel di permukaan corong mulut. Itu sebabnya mouthpiece inhaler (corong tempat Anda menempatkan mulut) perlu dibersihkan setiap kali habis pakai. Keringkan secara alami. Jangan gunakan kain untuk mengelapnya hingga kering.

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu Anda menjaga kebersihan inhaler Anda.

  1. Lepaskan kaleng logam dari inhaler (jika inhaler Anda adalah metered-dose).
  2. Pastikan tidak ada benda yang menyumbat area tersebut.
  3. Bilas dengan air hangat hanya pada mouthpiece dan tutupnya.
  4. Biarkan mengering secara alami sepanjang malam (jangan gunakan kain untuk mengelapnya hingga kering).
  5. Di pagi hari, pasang kembali kaleng logam ke dalamnya. Pasang tutupnya.
  6. Jangan bilas bagian lainnya.

Tips di atas bisa membantu Anda mendapatkan jauh lebih banyak obat dari inhaler. Ini akan membantu Anda bernapas dengan lebih baik dan mengurangi kekambuhan. Pastikan untuk berkonsultasi pada dokter atau apoteker sebelum mengubah dosis atau inhaler. Mereka bisa menunjukkan apa yang mungkin Anda lakukan dengan tidak benar.

Ada beberapa efek samping penggunaan inhaler

Efek samping inhaler bisa meliputi:

  • Sakit kepala dan pusing
  • Gangguan tidur atau insomnia
  • Merasa nyeri pada otot
  • Hidung yang meler atau tersumbat
  • Mulut dan tenggorokan terasa kering
  • Batuk
  • Suara serak dan sakit tenggorokan

Namun, Anda perlu merasa waspada  jika efek samping di bawah ini yang muncul dan segera berkonsultasi ke dokter. Efek samping inhaler yang berat, yaitu:

  • Nyeri dada, denyut jantung berdebar dan tidak beraturan.
  • Tremor.
  • Gejala kecemasan.
  • Kadar kalium darah menurun, yang bisa menimbulkan kelemahan otot, perasaan lemas, dan rasa haus yang ekstrim.
  • Kenaikan tekanan darah.
  • Sesak dada dan kesulitan bernapas.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca