Mengenal Obat DMARD yang Digunakan untuk Penyakit Autoimun

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penyakit autoimun adalah sebuah penyakit di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang  tubuhnya sendiri. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh keliru menganggap sel-sel sehat dalam tubuh sebagai zat asing, sehingga tubuh mulai menciptakan antibodi yang akan menyerang sel-sel tersebut.

Supaya tidak menyebabkan parahnya efek penyakit autoimun, pasien yang mengalaminya harus minum obat. Salah satu yang sering digunakan adalah obat DMARD.

Apa itu obat DMARD?

DMARD (disease modifying anti rheumatic drugs) adalah jenis kelompok obat yang dibuat untuk mengobati kondisi autoimun seperti rematik (RA), radang sendi psoriatik (PsA), ankylosing spondylitis (AS), dan lupus erythematosus sistemik (SLE).

Obat DMARD juga digunakan untuk berbagai penyakit lainnya seperti myositis, vasculitis, radang usus (IBD), dan beberapa jenis kanker.

Meski bisa mengurangi nyeri, DMARD bukanlah obat penghilang rasa sakit. Obat ini bekerja mengurangi peradangan dengan berfokus pada penyebab yang menjadi dasar penyakitnya, bukan dengan mengobati gejala secara langsung.

DMARD akan memperlambat perkembangan penyakit yang nantinya akan berpengaruh pada berkurangnya gejala seiring waktu selama Anda menjalani pengobatan.

Penggunaan obat ini tidak bisa dilakukan secara bebas. Anda membutuhkan pengawasan ketat dan tentunya resep dari dokter agar obat tidak menimbulkan dampak yang berbahaya. Biasanya, dokter juga akan meresepkan obat lain yang akan digunakan bersama dengan DMARD sebagai bagian dari pengobatan.

Jenis DMARD dan cara kerjanya

obat DMARD
Sumber: Gazeta Metro

Obat ini terbagi ke dalam dua jenis, yaitu obat DMARD konvensional dan terapi biologis. Setiap obat memiliki cara kerjanya masing-masing. Berikut penjelasannya.

Obat DMARD konvensional

Obat-obatan konvensional merupakan obat DMARD yang bekerja secara lambat dan pengobatannya dapat memakan waktu sampai berminggu-minggu sampai Anda merasakan efeknya. Beberapa obat yang sering digunakan termasuk:

  • Methorexate (MTX). Obat MTX bekerja dengan mengubah cara sel imun dalam memproses protein yang berperan untuk mengurangi peradangan. Obat ini juga dapat menghambat pertumbuhan sel-sel tertentu seperti sel kanker, sel sumsum tulang, dan sel kulit. Karena kegunaannya, obat ini juga digunakan untuk terapi pengobatan kanker.
  • Klorokuin. Biasa digunakan untuk mengobati malaria, klorokuin juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati peradangan seperti rematik. Klorokuin bekerja dengan mencegah pertumbuhan parasit yang hidup dalam sel darah merah. Obat ini juga berfungsi untuk mengeluarkan sitokin yang dapat mengurangi peradangan.
  • Azathioprine. Azathioprine mengobati pembengkakan sendi yang dialami oleh pasien dengan kondisi rematik atau komplikasi lain seperti lupus atau myositis. Obat ini bekerja dengan menekan aktivitas sistem imun dalam tubuh.
  • Leflunomide. Obat Leflunomide menghambat pembentukan DNA yang berperan penting dalam mereplikasi sel termasuk yang ada pada sistem imun. Nantinya, pembentukan sel yang terhambat akan mengurangi kekuatan sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan rasa sakit pada penderita rematik.
  • Sulfasalazine (SSZ). Sulfasalazine merupakan obat perpaduan dari salisilate dan antibiotik. Obat ini bekerja untuk mengurangi pembengkakan dan iritasi akibat peradangan. Obat ini juga dapat mencegah kerusakan sendi.

Obat DMARD biologik

DMARD biologik akan diberikan ketika pasien tidak menunjukkan respons dari pengobatan DMARD konvensional. Juga disebut sebagai terapi biologis, pengobatan ini dapat bekerja lebih cepat dibandingkan DMARD konvensional. Terkadang terapi biologis ini diberikan bersama dengan obat DMARD konvensional seperti methotrexate.

Golongan obat ini bekerja spesifik untuk menghambat sitokin tertentu penyebab peradangan. Salah satu yang termasuk obat ini adalah obat anti-TNF.

Anti-TNF mencegah munculnya protein bernama tumor necrosis factor berlebih dalam darah atau sendi agar tidak menimbulkan peradangan atau kerusakan lebih lanjut pada sel tubuh.

Efek samping yang dapat muncul dari obat DMRAD

Efek samping obat batuk

Seperti obat lainnya, DMARD juga memiliki beberapa efek samping. Karena obat DMARD bekerja dengan menekan sistem kekebalan tubuh untuk mengendalikan peradangan, dampaknya risiko pasien terhadap infeksi penyakit akan meningkat.

Beberapa tanda-tanda infeksi yang umumnya terjadi adalah demam, sakit tenggorokan, atau sakit saat buang air kecil. Namun, jenis obat DMARD yang berbeda juga dapat memberikan efek samping yang berbeda pula.

Obat methotrexate dapat menyebabkan mual, gusi bengkak, dan kelelahan luar biasa. Klorokuin bisa menghasilkan efek samping berupa mual dan diare di awal pengobatannya.

Bahkan pada kasus yang jarang, obat klorokuin dapat menyebabkan hilangnya penglihatan. Sedangkan pada obat leflunomide efek samping yang ditimbulkan dapat berupa gatal-gatal atau kulit mengelupas.

Lain lagi dengan obat DMARD biologik, efek samping yang dihasilkan pun lebih berbahaya. Penggunaan beberapa obatnya dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi tuberkulosis laten, di mana infeksi bakteri TB tidak menimbulkan gejala tapi di kemudian hari dapat berkembang menjadi penyakit tuberkulosis.

Beberapa infeksi lain yang juga dapat menjadi efek samping terapi biologis meliputi penyakit hepatitis dan CMV.

Oleh karena itu, jika Anda menderita penyakit autoimun dan ingin memilih DMARD sebagai pengobatan, amat perlu untuk mengonsultasikan ke dokter terutama jika Anda juga sedang mengalami kondisi lainnya seperti kehamilan.

Agar tidak menimbulkan komplikasi, tanyakan juga pada dokter tentang manfaat dan efek samping obat serta tak lupa untuk mendiskusikannya dengan keluarga Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Obat Kortikosteroid, Apa Manfaatnya dan Apa Efek Sampingnya?

Di balik segala khasiatnya, obat kortikosteroid menyembunyikan beberapa efek samping yang perlu diwaspadai. Dikonsumsi sembarangan bahkan sebabkan kematian.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Hidup Sehat, Tips Sehat 6 September 2017 . Waktu baca 3 menit

Penicillamine

Fungsi & PenggunaanUntuk apa obat Penicillamine digunakan? Penicillamine adalah obat untuk mengobati rheumatoid arthritis, penyakit Wilson (kondisi di mana tingkat tembaga dalam tubuh tinggi yang menyebabkan kerusakan ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 28 Juli 2017 . Waktu baca 12 menit

Berbagai Cara Mengobati Rematik Pada Lansia

Rematik merupakan keluhan yang banyak menyerang lansia. Anda mungkin perlu melakukan hal-hal berikut ini untuk mengobati rematik.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Perawatan Lansia, Tips Sehat 16 Juli 2017 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengobati Rematik yang Ampuh, Termasuk untuk Lansia dan Ibu Hamil

Obat dan pengobatan rematik (rheumatoid arthritis) bisa beragam. Kenali cara mengobati rematik yang ampuh di sini, termasuk untuk lansia dan ibu hamil.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 April 2017 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat rematik ibu hamil

Apakah Obat Rematik Seperti Methotrexate Aman Dikonsumsi Ibu Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2019 . Waktu baca 4 menit
manfaat teh oolong

10 Khasiat Menakjubkan Ini Bikin Anda Ingin Lebih Sering Minum Teh Oolong

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Jessica Yulianti
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2017 . Waktu baca 4 menit
obat penyebab lupus

Obat-obatan yang Dapat Meningkatkan Risiko Anda Terkena Penyakit Lupus

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Sarmoko, Apt.
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2017 . Waktu baca 4 menit
juvenile rheumatoid arthritis sembuh (rematik pada anak)

Awas, Rematik Juga Bisa Menyerang Anak dan Remaja. Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2017 . Waktu baca 4 menit