Kenali Gejala Rhinitis dan Cara Mengatasinya pada BayiIni adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Tahukah Anda salah satu gejala alergi pada bayi adalah rhinitis. Namun, tidak dialami oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak maupun bayi. Ada beragam hal yang menjadi penyebab rhinitis.

Wajib diketahui para ibu mengapa rhinitis bisa terjadi pada bayi dan bagaimana cara mengatasinya. Maka itu, kulik penjelasannya berikut ini.

Rhinitis pada bayi, seperti ini gejala dan penyebabnya

gejala bayi sakit yang harus diwaspadai

Tak satu pun orangtua menginginkan anaknya menderita karena rhinitis. Rhinitis atau hay fever pada dasarnya disebabkan oleh alergi. Kondisi ini sangat mungkin terjadi, terutama bagi keluarga yang memiliki. 

Rhinitis alergi biasa dikenal dengan hay fever. Rhinitis diikuti dengan gejala hidung meler atau pilek, bersin, dan hidung tersumbat. Adapun alergi ini disertai mata gatal, berair, dan merah. Gejala juga bisa disertai gangguan telinga kronik.

Rhinitis alergi sebenarnya lebih sering ditemukan pada anak yang baru mencapai usia sekolah. Sebelumnya, alergi hanya sebatas eksim (dermatitis atopik) atau alergi terkait makanan.

Meskipun kemungkinan besar rhinitis alergi tampak pada anak-anak, bayi juga bisa mengalaminya. Penyebab rhinitis alergi ini disebabkan oleh alergen, misalnya debu, bulu hewan peliharaan, tungau, kecoak, jamur. 

Salah satunya rhinitis alergi disebabkan oleh alergi susu formula sapi. Gejala alergi susu sapi pada bayi yang menyertai antara lain.

  • reaksi kulit, seperti gatal kemerahan atau pembengkakan pada bibir, wajah, dan sekitar mata
  • gangguan sistem pencernaan, seperti sakit perut, mual, muntah, kolik, diare, hingga konstipasi
  • hay fever, hidung meler atau tersumbat
  • eksim

penyebab sakit perut pada bayi

Gejala alergi yang ditimbulkan dapat berupa gejala ringan bahkan hingga gejala yang lebih berat seperti anafilaksis.

Alergi pada susu formula sapi ditimbulkan karena sistem imunitas bereaksi terhadap protein susu sapi yang dianggap alergen. 

Reaksi ini memancing reaksi peradangan, karena tubuh mengeluarkan senyawa histamin. Senyawa ini dikeluarkan ketika zat asing masuk ke dalam tubuh, sehingga tubuh mengeluarkan reaksi alergi. 

Rhinitis alergi yang muncul karena alergi susu formula sapi pada bayi perlu ditangani segera. Ibu perlu berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui apakah si kecil betul mengalami alergi susu sapi.

Bila muncul gejala yang telah disebutkan di atas, ada baiknya bayi cepat dibawa ke dokter. Dengan begitu, dokter dapat menguji alergi berdasarkan gejala yang menyertainya.

Biasanya tes pemeriksaan meliputi tes alergi pada kulit dan tes pada darah. Jika terbukti bahwa bayi memiliki alergi terhadap susu formula sapi, biasanya dokter merekomendasikan untuk mengganti susu formula alternatif.

Pengganti susu formula sapi ini dimaksudkan agar si kecil masih dapat memperoleh asupan terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Nutrisi yang wajib terpenuhi oleh bayi adalah protein, sebagai komponen penting dalam membentuk kognitif, otot, dan tulangnya.

Mengatasi gejala alergi susu sapi dengan cara yang tepat

gula dalam susu formula

Rhinitis, eksim, dan kolik merupakan sebagian gejala alergi susu sapi pada bayi. Mengetahui bayi memiliki alergi, ibu perlu mengambil langkah antisipatif dalam memberikan penanganan ini secara tepat. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah pemberian  nutrisi terhadap bayi alergi susu sapi. 

ASI adalah pemberian yang terbaik. Namun Dokter akan menyarankan agar Ibu melakukan diet eliminasi makanan yang mengandung protein susu sapi dan produk turunannya untuk si kecil. Bila Ibu tidak memberikan ASI, maka Dokter biasanya dapat merekomendasikan untuk mengganti susu formula sapi menjadi susu alternatif lainnya.

Menurut tata laksana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam mengelola gejala alergi pada anak adalah dengan pemberian susu formula terhidrolisa ekstensif dalam kurun 2- 4 minggu.

Memberikan bayi susu sapi terhidrolisa ekstensif bisa menjadi salah satu solusinya. Susu ini diformulasikan dengan pecahan protein yang lebih kecil, sehingga sistem imunitas anak dapat menerima protein susu dan merasakan manfaatnya.

Berdasarkan penelitian dari Annals Of Nutrition And Metabolism, susu sapi terhidrolisa ekstensif dapat mengurangi gejala seperti eksim bagi bayi dengan risiko tinggi alergi. Namun untuk mengurangi efek rhinitis, alergi makanan, dan asma perlu penelitian lebih lanjut.

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyarankan bahwa susu formula terhidrolisa ekstensif ini bisa dikonsumsi bayi selama 6 bulan atau usia 9-12 bulan. Setelahnya, Anda bisa menguji apakah si kecil sudah toleran dengan susu sapi dengan memberikannya susu formula sapi. Bila tidak menunjukkan gejala, konsumsi susu sapi bisa dilanjutkan.

Ada baiknya jika ibu berkonsultasi ke Dokter Anak  mengenai rhinitis dan gejala alergi susu sapi yang menyertainya, serta rekomendasi konsumsi susu terhidrolisa ekstensif sebagai alternatif susu formula untuk anak alergi susu sapi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 22, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 6, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca