Tips Seks Aman Jika Anda Alergi Kondom Lateks

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 01/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Jika Anda orang yang aktif berhubungan seks, mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan penggunaan kondom. Kondom umumnya terbuat dari bahan lateks atau getah karet untuk bahan dasarnya. Tidak semua orang bisa memakai atau menerima sentuhan kondom dengan berbahan dasar lateks. Beberapa orang ada yang memiliki alergi lateks, karena pada dasarnya lateks terbuat dari getah karet yang sering kali menimbulkan gatal dan ruam kemerahan pada kulit. Adakah cara aman untuk berhubungan seks jika Anda alergi kondom lateks? Pertama, mari simak penjelasan mengenai alergi lateks.

Apa itu alergi lateks?

Lateks memang banyak digunakan untuk banyak bahan dasar, seperti balon, karet gelang, sarung tangan, dan bahkan kondom. Ya, kondom bahan lateks adalah kondom yang berbahan paling umum yang dijual di pasaran. Tetapi sayangnya, tidak semua orang bisa menerima bahan lateks pada kulit atau bahkan vagina mereka.

Alergi yang dihasilkan bermacam-macam mulai dari tingkat ringan seperti gatal-gatal atau iritasi, sampai tingkatan alergi yang fatal mengancam jiwa. Lalu, adakah cara aman berhubungan seks jika alergi kondom lateks? Tenang, Anda tidak perlu khawatir. Di bawah ini ada beberapa kondom alternatif lainnya yang dapat Anda gunakan saat melakukan seks.

Alternatif kondon untuk yang alergi kondom lateks

1. Kondom berbahan poliuretan

Poliuretan merupakan salah satu kondom yang tidak memiliki bau dan tahan terhadap panas pencahayaan sinar UV. Keuntungan dari kondom poliuretan adalah, kondom ini juga dapat menghantarkan hangat tubuh antara penis dan vagina. Banyak orang mengatakan bahwa kondom poliuretan menawarkan sensasi yang lebih nikmat dan menyenangkan daripada kondom lateks.

Dibandingkan dengan kondom lateks, sayangnya kondom poliueretan lebih tipis dan kurang elastis. Kondom jenis poliuretan juga bisa Anda gunakan bersamaan dengan lubricant (pelumas seks), beruntungnya lagi Anda juga tidak perlu menghirup aroma karet saat bercinta.

2. Kondom berbahan polisuprena

Kondom ini terbuat dari bahan lateks sintetis tanpa mengandung kandungan protein getah karet yang bisa memicu reaksi alergi. Karena kondom bahan adalah hasil uji laboratorium, kondom ini didesain mendapatkan keuntungan yang didapat dari gabungan kondom lateks dan kondom poliuretan.

Kondom ini juga lebih kuat, dan pastinya elastis pada saat penis menjelajah lubang dalam vagina. Meski sedikit tebal dari kondom lateks atau poliuretan, setidaknya kondom ini lebih pas mengikuti bentuk masing-masing penis saat dipakai. Kekurangannya, kondom ini hanya tidak dapat digunakan bersamaan dengan pelumas bercinta.

3. Kondom wanita

Tahukah Anda kalau wanita juga punya kondom? Ya, kondom yang digunakan pada lubang vagina menawarkan keuntungan bagi wanita yang ingin dobel pengaman saat bercinta serta menghindari kehamilan ataupun infeksi seksual menular. Kondom perempuan berwujud tipis, dan fleksibel mengikuti dorongan penis dan ruang vagina.

Kondom ini juga dapat digunakan dengan pelumas berbasis silikon atau pelumas lainnya. Kondom wanita merupakan pilihan yang cocok untuk yang alergi atau sensitif terhadap bahan kimia.

4. Kondom alami

Kondom alami ini umumnya sudah digunakan sejak lama untuk mengontrol lonjakan angka kelahiran di bumi. Kondom yang terbuat dari kulit domba ini lebih dahulu hadir dan tidak menimbulkan efek alergi kondom lateks seperti kebanyakan.

Banyak orang yang menggunakan kondom dari bahan kulit domba karena mereka merasakan tekstur kondom yang tipis, dan yang paling penting bisa mentransfer hangat tubuh melalui penis dan vagina saat berhubungan seksual. Bahkan, banyak pria yang menggunakan kondom kulit domba menyatakan, bahwa mereka hampir tidak merasakan perbedaan memakai kondom atau tidak saat menggunakan kondom alami tersebut. Kondom ini didapuk bisa mendukung gerakan cinta lingkungan dengan tidak menghasilkan limbah lateks yang berbahaya.

5. Pengobatan anti alergi

Selain itu, alergi terhadap kondom lateks sebenarnya bisa diobati. Pengobatannya menggunakan obat-obatan seperti kortikosteroid, antihistamin, dan suntikan epinefrin. Epinefrin umumnya diberikan untuk reaksi hipersensitif atau anafilaksis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

PSBB memang mulai longgar, tetapi tetap ikuti tips lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru agar terhindar dari COVID-19, Sobat Sehat!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Berbagai Cara Agar Pria Tahan Lama Saat Berhubungan Seks

Pria kadang suka "keluar" duluan. Adakah cara agar seks menjadi lebih lama? Yuk simak berbagai cara tahan lama pria saat berhubungan seks di bawah ini.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Sering disebut "obat dewa" karena bisa menyembuhan alergi, gatal-gatal, hingga flu, obat kortikosteroid juga bisa berbahaya jika dipakai berlebihan.

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Hidup Sehat, Tips Sehat 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

Minum obat terus minum madu? Boleh atau tidak? Baiknya Anda simak penjelasan di sini mengenai bahaya dan anjuran saat minum madu.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat, Fakta Unik 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
penyakit menular seksual

7 Penyakit Kelamin yang Sering Menular Lewat Seks Tanpa Kondom (Plus Gejalanya untuk Diwaspadai)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 13 menit
Konten Bersponsor

8 Tips Lari di Luar Ruangan saat Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
persiapan saat new normal

8 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Keluar Rumah di Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 6 menit