home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Ada Orang yang Bisa Tidur Sambil Berjalan?

Kenapa Ada Orang yang Bisa Tidur Sambil Berjalan?

Sleepwalking atau kebiasaan tidur sambil berjalan adalah sebuah sindrom atau perilaku yang menyimpang yang dilakukan ketika tidur. Orang yang mempunyai kebiasaan sleepwalking, sering kali bangun di tengah tidur dan kemudian berjalan-jalan meskipun sedang berada di bawah alam sadar mereka.

Tidur sambil berjalan umum terjadi pada anak-anak

Survei yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa terdapat 15% orang yang memiliki kebiasaan sleepwalking dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, terutama yang berusia 3 hingga 7 tahun. Berdasarkan data The National Sleep Foundation’s 2004, setidaknya diketahui sebanyak 1% anak usia balita dan 2% anak usia sekolah memiliki kebiasaan sleepwalking yang dilakukan setidaknya 2 kali dalam seminggu.

Sleepwalking bisa saja terjadi juga pada remaja, karena terbawa kebiasaan dari kecil hingga usia remaja. Bahkan sebagian kecil dari mereka membawa kebiasaan itu hingga dewasa, namun lebih banyak yang berhenti ketika usia remaja. Berdasarkan penelitian yang ada di dalam The Neurology Journal, terdapat 29,2% dari 19.136 orang dewasa yang memiliki kebiasaan tidur sambil berjalan.

Yang biasa dilakukan orang saat tidur sambil berjalan

Ada empat tahapan ketika tidur, yaitu tahap 1 hingga 3 dan tahap keempat disebut sebagai non-rapid eye movement (NREM). Sedangkan tahap REM atau rapid eye movement adalah tahapan terjadinya mimpi. Pada tahap ke-3, diketahui sebagai tahapan yang paling penting dalam proses metabolisme tubuh dan pertumbuhan tulang. Setiap tahapan setidaknya terjadi dalam durasi 90 hingga 100 menit yang selalu berulang setiap malam.

Kebiasaan tidur sambil berjalan biasanya muncul ketika tidur tahapan 1 atau 2, karena tahapan 3 memasuki tahap tidur lelap atau pulas. Kebiasaan ini tidak terjadi pada tidur siang karena waktu tidur siang yang cukup lama. Walaupun bisa melakukan aktivitas seperti berjalan atau bahkan berbicara ketika tidur, namun orang yang memiliki kebiasaan ini tidak akan mengingat kejadian tersebut. Orang dengan kebiasaan sleepwalking dapat melakukan berbagai hal, seperti berjalan-jalan di sekitar kamar, memindakan barang, atau ke kamar mandi kemudian melepas pakaian yang digunakan. Bahkan ada yang melakukan hal yang cukup ekstrem, yaitu mengendari kendaraan ketka tidur.

Apa penyebab tidur sambil berjalan?

Untungnya, kebiasaan ini dianggap sebagai kebiasaan yang tidak berbahaya atau menimbulkan dampak buruk kesehatan. Kebiasaan tidur sambil berjalan bukanlah gangguan dalam kesehatan mental, namun gangguan tidur biasa yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

1. Genetik

Ternyata, kebiasaan ini bisa saja ‘diturunkan’. Penelitian menunjukkan bahwa sleepwalking cenderung terjadi pada anak kembar. Selain itu, orang yang di keluarganya memiliki riwayat melakukan sleepwalking, berisiko 10 kali mengalaminya di kemudian hari.

2. Faktor lingkungan

Memiliki kebiasaan tidur sambil berjalan dapat muncul karena kekurangan tidur, mengalami stress, waktu tidur yang tidak teratur, dan mengonsumsi alkohol. Pada anak kecil, usia 3 hingga 8 tahun, kekurangan tidur, kelelahan, dan waktu tidur yang tidak teratur berpotensi tinggi membuat anak tersebut memiliki kebiasaan tidur sambil berjalan. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kebiasaan ini adalah mengonsumsi obat-obatan seperti obat tidur, obat penenang, obat stimulan, dan obat anti alergi.

3. Keadaan medis

Berbagai penyakit atau gangguan fungsi tubuh juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami kebiasaan tidur sambil berjalan, seperti:

Bagaimana menangani kebiasaan ini?

  • Tidur dengan waktu yang cukup
  • Hindari stress dengan melakukan relaksasi dan meditasi
  • Hindari simulasi sebelum waktu tidur, seperti menonton tv atau mendengarkan suara yang keras.
  • Kunci semua pintu dan jendela
  • Hilangkan hal berpotensi menimbulkan bahaya di dalam kamar, seperti barang pecah belah dan barang yang tajam

Apakah boleh membangunkan orang yang tidur sambil berjalan?

Hal yang paling sering terjadi adalah, orang-orang di sekitar penderita sleepwalking takut untuk membangunkannya saat sedang “kumat”. Sebenarnya membangunkan orang yang sedang tidur sambil berjalan bukanlah masalah dan tidak akan menimbulkan hal buruk, walaupun ketika orang tersebut dibangunkan ia membutuhkan waktu untuk kembali ‘sadar’ dengan apa yang telah ia lakukan.

Justru, membangunkan orang yang tidur sambil berjalan merupakan hal pencegahan yang perlu dilakukan agar orang tersebut terhindar dari cedera karena terkena benda tajam di sekitarnya atau karena jatuh akibat tertabrak benda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sleepwalking. Retrieved from http://www.medicinenet.com/sleepwalking/article.htm Accessed September 22, 2016

Sleep Disorders: Sleepwalking Basics. Retrieved from http://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/sleepwalking-causes Accessed September 22, 2016

Sleep Disorders and Treatment for Sleepwalking. Retrieved from http://www.webmd.com/sleep-disorders/how-is-sleepwalking-treated Accessed September 22, 2016

5 Steps for Stopping a Sleepwalker. Retrieved from http://www.webmd.com/sleep-disorders/features/5_steps_stopping_sleepwalker#1 Accessed September 22, 2016

Foto Penulis
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M pada 28/09/2016
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x