home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tidur Berlebihan Bisa Rugikan Kesehatan, Ini 5 Cara Mengatasinya

Tidur Berlebihan Bisa Rugikan Kesehatan, Ini 5 Cara Mengatasinya

Tidak hanya insomnia yang berisiko menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Tidur berlebihan alias hipersomnia pun bisa membuat Anda kelelahan, sulit berkonsentrasi, hingga meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit. Untungnya, ada sejumlah cara yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi masalah tidur berlebihan.

Beragam trik mengatasi tidur berlebihan

Hipersomnia bisa disebabkan oleh banyak faktor. Mulai dari jam tidur yang kurang, efek samping obat, hingga penyakit tertentu yang membuat Anda sering mengantuk.

Agar penanganan lebih efektif, Anda perlu mengetahui penyebabnya terlebih dahulu.

Berikut beberapa cara menangani masalah tidur berlebihan berdasarkan penyebabnya:

1. Menerapkan langkah-langkah tidur sehat

Ini adalah cara yang paling sederhana, tapi memerlukan komitmen kuat agar Anda bisa mengatasi tidur berlebihan.

Tidur sehat atau sleep hygiene terdiri dari sejumlah cara yang perlu dilakukan secara rutin guna mengembalikan siklus tidur yang normal.

Mengutip National Sleep Foundation, beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu:

  • Membiasakan tidur dan bangun pada jam yang sama.
  • Membatasi tidur siang agar tidak melebihi 20-30 menit sehari.
  • Tidak mengonsumsi kafein, nikotin, alkohol, minuman bersoda serta makanan yang digoreng, pedas, tinggi lemak, dan asam sebelum tidur. Makanan dan minuman ini bisa merangsang kerja sistem pencernaan selama tidur.
  • Memastikan lingkungan kamar mendukung untuk tidur. Misalnya dengan meredupkan lampu, menggunakan bantal dan guling yang empuk, dan mengatur suhu kamar agar tidak terlalu panas atau dingin.
  • Melakukan hal-hal yang membuat Anda rileks sebelum tidur. Contohnya, mandi air hangat, membaca buku, atau meregangkan tubuh.

2. Terapi kognitif dan perilaku (cognitive behavioral therapy atau CBT)

Cara yang satu ini dapat digunakan untuk mengatasi tidur berlebihan akibat masalah psikologis.

Terapi ini bertujuan untuk mengubah pola pikir, emosi, respons, maupun perilaku yang membuat pasien rentan mengalami hipersomnia.

CBT dilakukan dalam beberapa sesi bersama seorang terapis. Terapis akan membantu pasien menguraikan masalahnya menjadi beberapa bagian, lalu bersama-sama mencari solusinya.

Solusi yang disepakati tersebut diharapkan dapat memberikan kemajuan pada sesi konseling berikutnya.

3. Minum obat stimulan

Stimulan adalah golongan obat yang mempercepat pengiriman sinyal antara otak dan tubuh.

Obat ini dapat membuat Anda terjaga, berenergi, bahkan merasa lebih percaya diri. Contoh obat stimulan yang paling umum adalah methylphenidate dan modafinil.

Cara ini sangat umum digunakan untuk mengatasi masalah tidur berlebihan, baik yang penyebabnya diketahui maupun tidak.

Kendati efektif, obat stimulan sebaiknya tidak dikonsumsi dalam jangka panjang karena memiliki efek samping pada gigi, jantung, dan perilaku.

Kembali lagi, supaya aman, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter sebelum meminumnya.

4. Minum obat non-stimulan

Beberapa golongan obat lain juga dapat membuat Anda lebih terjaga walaupun tidak bekerja sebagai stimulan.

Mekanisme pastinya belum diketahui, tapi obat-obatan ini diyakini meningkatkan produksi senyawa dopamin dalam otak.

Saat produksi dopamin naik, produksi melatonin akan menurun. Hasilnya, Anda tidak mudah merasa mengantuk.

5. Minum obat natrium oxybate

Cara lain yang dinilai ampuh mengatasi tidur berlebihan adalah meminum obat natrium oxybate.

Obat ini biasanya digunakan untuk menangani narkolepsi, yakni gangguan tidur parah yang ditandai dengan rasa kantuk berlebih, halusinasi, hingga tidur mendadak saat beraktivitas.

Keampuhan natrium oxybate untuk mengatasi hipersomnia memang belum terbukti sepenuhnya.

Namun, sebuah studi dalam jurnal Sleep Medicine menemukan bahwa natrium oxybate bisa mengurangi rasa kantuk pada 71 persen pasien hipersomnia.

Hipersomnia umumnya dapat diatasi dengan menerapkan langkah-langkah tidur sehat.

Akan tetapi, rasa kantuk maupun kebiasaan tidur berlebihan akibat penyebab lain yang bersifat medis memerlukan penanganan yang lebih serius.

Jika sleep hygiene dan jam tidur yang cukup tidak kunjung membuahkan hasil, cobalah berkonsultasi dengan dokter. Utamanya dalam konsumsi obat-obatan di atas.

Pemeriksaan lebih lanjut akan menentukan cara paling tepat untuk mengatasi masalah tidur berlebihan yang sedang Anda hadapi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sleep Hygiene. https://www.sleepfoundation.org/articles/sleep-hygiene Diakses pada 14 Oktober 2019.

Hypersomnia – Treatment. https://www.hypersomniafoundation.org/about-treatment/ Diakses pada 14 Oktober 2019.

Sleep Disorders and Hypersomnia Treatment. https://www.webmd.com/sleep-disorders/hypersomnia-treatments Diakses pada 14 Oktober 2019.

Hypersomnia. https://www.healthline.com/health/hypersomnia#causes Diakses pada 14 Oktober 2019.

Stimulants. https://adf.org.au/drug-facts/stimulants/ Diakses pada 14 Oktober 2019.

What’s the Difference Between Dopamine and Serotonin? https://www.healthline.com/health/dopamine-vs-serotonin Diakses pada 14 Oktober 2019.

Leu-Semenescu, S., Louis, P. and Arnulf, I. (2016). Benefits and risk of sodium oxybate in idiopathic hypersomnia versus narcolepsy type 1: a chart review. Sleep Medicine, 17, pp.38-44.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Tanggal diperbarui 23/11/2019
x