backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

7 Komplikasi Serius dari Bronkiektasis yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 19/07/2023

7 Komplikasi Serius dari Bronkiektasis yang Perlu Diwaspadai

Batuk yang tidak kunjung sembuh dan disertai lendir berwarna kuning kehijauan dapat menjadi pertanda bronkiektasis. Apabila terlambat ditangani, penyakit bronkiektasis berisiko menyebabkan berbagai komplikasi seperti di bawah ini.

Ragam komplikasi bronkiektasis yang perlu diwaspadai

Bronkiektasis terjadi saat saluran bronkial paru-paru mengalami pembesaran secara abnormal. Seiring waktu, terjadilah penumpukan lendir pada saluran pernapasan. 

Lendir di dalam saluran pernapasan pun menjadi tempat untuk bakteri berkembang biak. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan permanen.

Pada dasarnya, bronkiektasis dapat diobati secara medis. Pengidapnya dapat menjalani hidup normal asalkan menjalani perawatan yang tepat.

Sebaliknya, bila Anda tidak memperoleh penanganan yang sesuai, beberapa komplikasi serius dari bronkiektasis berikut ini tentu perlu Anda waspadai.

1. Batuk darah parah

Darah yang keluar saat batuk

Batuk atau lendir yang bercampur darah merupakan salah satu gejala bronkiektasis yang khas.

Pada beberapa kasus, gejala ini bisa berkembang menjadi komplikasi yang disebut hemoptisis masif. Kondisi ini ditandai dengan batuk darah yang parah atau banyak.

Hemoptisis masif ditandai dengan keluarnya darah lewat batuk lebih dari 100 mililiter (ml) atau setara dengan sepertiga minuman kaleng dalam waktu 24 jam.

Darah yang menghalangi saluran udara bisa membuat pasien sulit bernapas. Hilangnya darah dalam jumlah besar dapat menyebabkan pusing serta kulit pucat dan terasa dingin.

2. Pneumonia

Pengidap bronkiektasis berisiko tinggi mengalami infeksi pernapasan parah, seperti pneumonia. Penyakit ini membuat kantong udara dalam paru (alveolus) meradang dan membengkak.

Saat mengalami komplikasi ini, Anda akan mengalami batuk yang lebih parah. Dahak yang keluar pun akan tampak lebih banyak, berwarna hijau, dan berbau lebih busuk dari biasanya.

Infeksi paru-paru yang parah ini kerap membuat pasien mengalami nyeri dada, laju pernapasan yang cepat, hingga demam tinggi lebih dari 38॰C.

Perbedaan bronkiektasis dan bronkitis

Bronkiektasis adalah kondisi saat saluran bronkial paru melebar secara abnormal dan dipenuhi lendir (mukus). Sementara itu, bronkitis adalah peradangan pada dinding saluran bronkial pada paru-paru.

3. Abses paru

Studi dalam Annals of Translational Medicine (2015) menyebutkan bahwa abses paru kerap menjadi komplikasi pada pengidap bronkiektasis dan infeksi paru akibat bakteri.

Pembentukan abses paru diawali dengan kematian jaringan akibat infeksi. Dalam jaringan yang mati ini, kemudian akan terbentuk rongga yang berisi nanah.

Abses paru bisa menyebabkan gangguan pernapasan serius. Pada beberapa kasus, kondisi ini bahkan bisa membahayakan nyawa pengidapnya.

4. Empiema

Infeksi bakteri berulang pada pengidap bronkiektasis juga dapat menyebabkan komplikasi yang dalam istilah medis disebut sebagai empiema.

Komplikasi ini terjadi saat nanah terkumpul pada rongga pleura, yakni suatu rongga tipis antara bagian luar paru-paru dan bagian dalam rongga dada.

Empiema terbentuk bila infeksi bakteri tidak diobati dengan baik. Selain itu, kondisi ini dapat terjadi bila tubuh gagal merespons obat atau bakteri yang menginfeksi saluran pernapasan kebal terhadap antibiotik.

5. Atelektasis

sesak napas akibat bronkiektasis

Tumpukan lendir pada saluran bronkial paru dapat menyebabkan atelektasis. Kondisi ini terjadi saat salah satu atau kedua sisi paru-paru tidak bisa mengembang dengan baik.

Berkurangnya kemampuan paru-paru untuk mengembang dan mengempis ini membuat pasokan oksigen ke dalam aliran darah berkurang.

Sebagai akibatnya, pengidap atelektasis mungkin akan mengalami gejala berupa batuk, mengi, sesak napas, serta pernapasan yang cepat dan dangkal.

6. Gagal napas

Gagal napas (respiratory failure) merupakan komplikasi serius dari bronkiektasis yang berakibat fatal.

Komplikasi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu menyalurkan oksigen dari paru-paru ke dalam darah. Begitu pula sebaliknya, paru-paru tidak bisa mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh.

Berkurangnya pasokan oksigen serta menumpuknya karbon dioksida ini berisiko menimbulkan kerusakan pada sel-sel di dalam tubuh Anda.

Bronkiektasis bisa menyebabkan gagal napas akut yang terjadi dengan cepat dan tanpa peringatan. Segera hubungi dokter bila Anda mengalami gejalanya, seperti sesak napas dan hilangnya kesadaran.

7. Serangan jantung

Pengidap bronkiektasis berisiko enam kali lebih besar untuk mengalami infeksi saluran pernapasan. Jika tidak ditangani, infeksi saluran pernapasan bisa meningkatkan risiko serangan jantung.

Salah satu studi yang dimuat dalam Annals of the American Thoracic Society (2015) meneliti 895 pria dan wanita dewasa yang mengidap bronkiektasis.

Para peneliti menemukan peningkatan kasus serangan jantung dan stroke setidaknya dalam 91 hari setelah peserta mengalami infeksi saluran pernapasan.

Penyakit bronkiektasis dapat menimbulkan komplikasi serius yang bahkan berakibat fatal. Untuk mencegahnya, lakukanlah pengobatan bronkiektasis dengan tepat.

Pengobatan umumnya meliputi konsumsi obat-obatan, terapi untuk mengeluarkan dahak, atau operasi, tergantung pada tingkat keparahan penyakit Anda.

Lakukan juga perbaikan gaya hidup, seperti berhenti merokok dan menerapkan pola makan sehat, untuk menjaga kesehatan paru-paru Anda.

Kesimpulan

  • Bronkiektasis terjadi saat saluran bronkial paru-paru melebar dan mengalami kerusakan.
  • Beberapa komplikasi serius bronkiektasis yaitu batuk darah yang parah, pneumonia, abses paru, empiema, atelektasis, gagal napas, hingga serangan jantung.
  • Pengidap bronkiektasis perlu menjalani pengobatan yang tepat dan menerapkan gaya hidup sehat untuk menjaga kesehatan paru-parunya.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 19/07/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan