Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Makan Hewan untuk Obat Asma, Benarkah Bermanfaat?

    Makan Hewan untuk Obat Asma, Benarkah Bermanfaat?

    Sejak zaman dahulu, sebagian orang mengonsumsi jenis hewan tertentu yang dipercaya bisa bermanfaat untuk obat asma. Lantas, bagaimana dunia medis menilai keamanan dari terapi pengobatan asma ini? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

    Hewan yang dipercaya bermanfaat untuk obat asma

    Penyakit asma merupakan suatu gangguan pernapasan kronis yang diakibatkan oleh peradangan saluran pernapasan sehingga pengidapnya sulit untuk bernapas lega.

    Pada dasarnya, asma tidak bisa disembuhkan total. Berbagai metode pengobatan asma hanya berfungsi untuk mengurangi keparahan gejala atau sebagai pertolongan pertama asma.

    Oleh sebab itu, sebagian pengidap asma mulai mencoba metode pengobatan tradisional, salah satunya dengan mengonsumsi jenis-jenis hewan tertentu.

    Berikut ini ialah beberapa contoh hewan yang dipercaya bermanfaat untuk obat asma serta penelitian yang membahasnya.

    1. Tokek

    tokek

    Pengobatan tradisional di negara-negara Asia telah lama menggunakan tokek untuk mengobati berbagai gangguan pernapasan, termasuk meredakan gejala asma.

    Secara umum, tokek yang digunakan dalam pengobatan akan dikeringan terlebih dahulu. Lalu, tokek kering akan dihaluskan dan dikemas dalam bentuk pil yang mudah dikonsumsi.

    Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology (2022) menyelidiki manfaat anti-asma dari ekstrak tokek pada tikus yang diinduksi ovalbumin sebagai alergen.

    Hasilnya, pemberian ekstrak tokek mampu meredakan peradangan pada saluran napas akibat reaksi alergi. Hal ini bisa membantu melegakan saluran napas dan mencegah asma.

    Namun, tentu dibutuhkan penelitian lebih lanjut guna menilai manfaat ekstrak tokek untuk penyakit asma yang dialami oleh manusia.

    2. Cacing tanah

    Sebagian orang juga mengklaim telah merasakan manfaat cacing tanah untuk obat asma. Hewan invertebrata ini juga umum digunakan sebagai pengobatan tradisional di Tiongkok.

    Para peneliti dari Yangtze University Medical College, Tiongkok menguji efek rebusan cacing tanah terhadap asma bronkial yang disebabkan radang saluran pernapasan.

    Studi ini dilakukan pada objek marmut yang diinduksi dengan ovalbumin untuk memicu asma. Kemudian, marmut diberikan rebusan cacing tanah dalam dosis tinggi dan rendah.

    Hasil dari penelitian ini menunjukkan rebusan cacing tanah dapat meringankan peradangan pada sistem pernapasan marmut yang mengidap asma.

    Cara kerjanya yakni dengan menghambat dan mempercepat kematian sel yang memicu peradangan.

    3. Kelelawar

    Nipah Virus, Sumber Penyakit Menular yang Berpotensi Menjadi Pandemi Baru - kelelawar buah kalong -

    Beberapa peneliti mempercayai daging kelelawar mengandung ketotifen. Dalam bentuk obat, senyawa ini bermanfaat untuk meredakan serangan asma akibat alergi.

    Ketotifen merupakan obat dari golongan antihistamin. Obat ini menghambat pembentukan senyawa histamin yang memicu reaksi alergi saat tubuh terpapar alergen.

    Sebuah penelitian dalam Journal of the Medical Association of Thailand (2010) menunjukkan ketotifen sama efektifnya dengan obat kortikosteroid, seperti budesonide, dalam mencegah gejala asma pada anak-anak.

    Meski begitu, hingga saat ini belum diketahui apakah mengonsumsi daging kelelawar dapat bermanfaat sebagai obat bagi pengidap asma.

    Terlebih, konsumsi hewan liar juga bisa meningkatkan risiko komplikasi asma, seperti infeksi pada sistem pernapasan yang bisa berakibat fatal.

    Bahaya konsumsi hewan liar untuk pengobatan asma

    hubungan asma dan alergi

    Beberapa contoh hewan lain yang dipercaya bermanfaat untuk obat asma adalah buaya, ular, kodok, monyet, kura-kura, anjing, kelinci, dan bahkan kecoak.

    Namun, perlu diingat bahwa daging hewan liar meningkatkan risiko penyakit yang berasal dari hewan (zoonosis).

    Para peneliti juga telah menemukan bahwa konsumsi daging dari hewan liar telah berkontribusi terhadap penyebaran penyakit infeksi serius pada manusia.

    Beberapa kasus penyakit ini, di antaranya infeksi novel coronavirus yang berasal dari kelelawar dan virus monkeypox yang berasal dari monyet.

    Oleh sebab itu, menghentikan konsumsi daging hewan liar untuk pengobatan dapat mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis ini.

    Meski penelitian telah menemukan manfaat daging hewan untuk obat asma, bukan berarti Anda bisa menjadikannya sebagai terapi komplementer dalam pengobatan asma.

    Selalu ikuti saran dokter Anda untuk meredakan dan mengurangi keparahan asma. Selain obat, dokter mungkin menyarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup.

    Ini bisa termasuk penggunaan obat herbal asma yang aman dan melakukan aktivitas olahraga, seperti berenang maupun yoga.


    Lawan COVID-19 bersama!

    Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    What Is Asthma?. American Lung Association. (2020). Retrieved 25 July 2022, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/asthma/learn-about-asthma/what-is-asthma

    How is asthma treated?. National Asthma Council Australia. (2022). Retrieved 25 July 2022, from https://www.nationalasthma.org.au/understanding-asthma/how-is-asthma-managed

    Eating wild meat significantly increases zoonotic disease risk: UN report. United Nations. (2021). Retrieved 25 July 2022, from https://news.un.org/en/story/2021/09/1099952

    Zoonoses. World Health Organization. (2020). Retrieved 25 July 2022, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/zoonoses

    Nam, H., Lee, J., Ryu, S., Lee, S., Yang, S., & Noh, P. et al. (2022). Gekko gecko extract attenuates airway inflammation and mucus hypersecretion in a murine model of ovalbumin-induced asthma. Journal Of Ethnopharmacology, 282, 114574. https://doi.org/10.1016/j.jep.2021.114574

    Ng, T., Wong, M., Hong, C., Koh, K., & Goh, L. (2003). The use of complementary and alternative medicine by asthma patients. QJM, 96(10), 747-754. https://doi.org/10.1093/qjmed/hcg121

    Tantichaiyakul, P., & Preutthipan, A. (2010). Ketotifen versus inhaled budesonide for controlling childhood asthma. Journal of the Medical Association of Thailand = Chotmaihet thangphaet, 93(5), 541–549. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20524439/

    Li, X. H., Zhang, D. X., Xu, J. F., Wang, W. Y., Du, Y. M., Zhang, Y., Lei, Y. W., & Zhang, Y. X. (2007). Zhongguo Zhong yao za zhi = Zhongguo zhongyao zazhi = China journal of Chinese materia medica, 32(14), 1445–1448. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17966362/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Aug 08
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
    Next article: