Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Seberapa Efektif Ekstrak Cacing untuk Obat Tipes?

    Seberapa Efektif Ekstrak Cacing untuk Obat Tipes?

    Ekstrak cacing sering disebut-sebut sebagai obat manjur untuk mengatasi tipes (tifus) atau demam tifoid. Obat ekstrak cacing untuk tipes tersebut populer di kalangan masyarakat Indonesia sejak lama. Namun, apakah khasiatnya sudah terbukti dari sudut pandang medis? Simak penjelasannya berikut ini.

    Apakah ekstrak cacing ampuh sebagai obat penyakit tipes?

    Obat cacing untuk mengatasi tifus berbeda dari obat cacing untuk mengatasi infeksi parasit (cacing). Obat cacing untuk tipes berarti cacing tanah yang diekstrak dalam bentuk bubuk dan dikonsumsi untuk mengatasi sakit tipes.

    Ekstrak cacing tanah memang telah kerap digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai kondisi, mulai dari peradangan, demam, gangguan hati, hingga tifus. Pengobatan tradisional ini sebenarnya sudah digunakan sejak lama di negara-negara Asia, termasuk Cina, Jepang, Vietnam, Korea, hingga Indonesia.

    Penelitian yang dipublikasikan Bali Medical Journal meneliti tentang kandungan fenol dan antioksidan dalam ekstrak bubuk cacing tanah merah (Lumbricus rubellus). Hasilnya, ekstrak cacing tanah merah mengandung asam fenolat dan menunjukkan efek antioksidan.

    Ekstrak cacing tanah dalam bentuk bubuk berpotensi digunakan sebagai sumber antioksidan alami untuk mengobati gangguan yang berhubungan dengan peradangan. Namun, penelitian tersebut tidak menunjukkan seberapa efektif obat cacing untuk atasi tipes pada manusia atau hewan.

    waktu yang tepat minum obat cacing

    Sementara itu, penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga justru menyebutkan bahwa ekstrak cacing tanah tidak memiliki efek antibakteri untuk melawan bakteri penyebab tipes, Salmonella typhii. Studi ini pun tidak dilakukan pada hewan atau manusia.

    Penelitian lain yang dipublikasikan Journal of the Indonesian Medical Association menunjukkan bahwa pemberian ekstrak cacing Lumbricus rubellus pada pasien yang menderita tipes tidak memberikan pengaruh terhadap kesembuhan. Obat dalam bentuk ekstrak cacing ini memang berefek pada sebagian orang, tapi tidak membunuh bakteri penyebab tifus.

    Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa khasiat obat cacing untuk atasi tipes masih menjadi pro dan kontra, bahkan di kalangan medis itu sendiri. Masih belum banyak penelitian yang menunjukkan tentang khasiat ekstrak cacing sebagai obat alami untuk mengatasi tifus. Penelitian-penelitian tersebut pun belum ada yang menunjukkan hasil yang menjanjikan.

    Apa pengobatan penyakit tipes yang dianjurkan?

    Obat batuk rejan antibiotik

    Tipes merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii. Gejala tipes bervariasi, dari ringan hingga berat. Jika tidak diobati sampai tuntas, komplikasi tipes mungkin saja dapat terjadi dan bisa mengancam nyawa Anda.

    Mengatasi tipes dengan obat tradisional berupa ekstrak cacing tidak dianjurkan karena belum terbukti keampuhannya.

    Selain itu, Mayo Clinic menyebutkan bahwa antibiotik merupakan satu-satunya pengobatan tipes yang efektif. Antibiotik yang biasa digunakan sebagai obat tipes, seperti:

    Anda perlu menerapkan anjuran dokter dalam mengonsumsi antibiotik. Pasalnya, obat-obatan ini dapat menyebabkan berbagai efek samping. Pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan perkembangan bakteri yang kebal antibiotik.

    Selain mengonsumsi antibiotik, Anda dianjurkan menerapkan pola hidup sehat ketika sedang menderita tipes. Mengonsumsi ekstrak cacing sebagai satu-satunya obat tipes tidak dianjurkan. Pasalnya, hingga saat ini obat medis masih dipercaya untuk pengobatan suatu kondisi, termasuk tifus.

    Obat herbal atau tradisional biasanya diberikan sebagai pelengkap, bukan pengganti.

    Makan makanan sehat dan banyak minum adalah langkah mudah yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat tipes. Banyak minum air berguna untuk mencegah dehidrasi akibat gejala tipes, seperti demam dan diare.

    Selain itu, Anda juga perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan di sekitar Anda. Perlu diketahui, tipes menular dari kebiasaan yang tidak sehat, seperti tidak mencuci tangan atau memegang permukaan benda yang terinfeksi.

    Setelah memahami pemaparan di atas, Anda dapat dengan bijak memutuskan apakah perlu mengonsumsi obat cacing untuk atasi tipes atau tidak. Ingatlah untuk selalu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.


    Pusing setelah jadi orang tua?

    Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Bali Medical Journal Published by DiscoverSys Inc. (2020). Retrieved 1 December 2020, from https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/730

    Samatra, D., B., M., Sukrama, I., Dewi, N., Praja, R., & Nurmansyah, D. (2017). Extract of Earthworms (Lumbricus Rubellus) Reduced Malondialdehyde and 8-hydroxy-deoxyguanosine Level in Male Wistar Rats Infected by Salmonella typhi. Biomedical And Pharmacology Journal, 10(4), 1765-1771. Retrieved from https://biomedpharmajournal.org/vol10no4/extract-of-earthworms-lumbricus-rubellus-reduced-malondialdehyde-and-8-hydroxy-deoxyguanosine-level-in-male-wistar-rats-infected-by-salmonella-typhi/

    Typhoid fever – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/typhoid-fever/symptoms-causes/syc-20378661

    Typhoid fever – Treatment . (2018). Retrieved 1 December 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/typhoid-fever/treatment/

    IPI The Effect of Lumbricus rubellus in Treatment of Patient with Typhoid Fever : View Article. (2020). Retrieved 1 December 2020, from http://portalgaruda.fti.unissula.ac.id/index.php?ref=browse&mod=viewarticle&article=87858

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui Dec 28, 2020
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.