Apa Itu Paraplegia?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu paraplegia?

Paraplegia adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi kehilangan kekuatan atau pergerakan akibat cedera. Cedera yang terjadi umumnya terletak pada saraf tulang belakang, sehingga terjadi kelumpuhan pada bagian bawah tubuh, terutama kaki.

Paraplegia merupakan salah satu jenis dari paralisis, yaitu kelumpuhan atau hilangnya fungsi otot yang terjadi di bagian-bagian tertentu tubuh. Secara keseluruhan, paralisis dibagi menjadi beberapa jenis.

Selain menyerang tubuh bagian bawah, kelumpuhan dapat menyerang tubuh bagian atas. Namun, tidak menutup kemungkinan seluruh bagian tubuh dapat kehilangan fungsi ototnya. Kondisi lumpuh menyeluruh tersebut dinamakan dengan quadriplegia.

Pada paraplegia, bagian tubuh yang umumnya terdampak adalah tungkai kaki, paha, jari kaki, telapak kaki, dan terkadang perut. Tergantung pada tingkat cedera, tingkat kelumpuhan dapat bervariasi.

Seberapa umumkah paraplegia?

Paraplegia adalah kondisi yang cukup umum dan dapat terjadi pada siapa saja. Namun, kasus kejadiannya cenderung lebih banyak ditemukan pada pasien berusia 16-30 tahun, terutama yang sering melakukan aktivitas atau olahraga ekstrem.

Selain itu, kondisi ini juga lebih mudah terjadi pada orang-orang berusia lanjut, terutama di atas 65 tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lansia memiliki tulang belakang yang lebih rapuh dan keseimbangan tubuhnya pun mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan mengalami cedera.

Paraplegia adalah kondisi yang dapat ditangani dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Jenis

Apa saja jenis-jenis dari paraplegia?

Paraplegia adalah kondisi yang dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Berdasarkan seberapa banyak bagian bawah tubuh yang terdampak, kondisi ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Paraplegia menyeluruh (complete)

Jenis ini terjadi ketika penderita tidak dapat menggerakkan sama sekali atau tidak merasakan sensasi apapun pada kedua kaki dan bagian bawah tubuh.

2. Paraplegia sebagian (incomplete)

Apabila tubuh bagian bawah Anda masih dapat Anda gerakan sebagian, atau bagian bawah tubuh Anda masih merasakan sensasi tertentu, itu artinya Anda menderita cedera sebagian.

Terdapat pula beberapa jenis paraplegia yang lainnya, yaitu:

  • Permanen: kontrol otot bawah tubuh tidak dapat berfungsi untuk selamanya
  • Sementara: kontrol otot bawah tubuh dapat kembali berfungsi
  • Flaksid: ketika otot menjadi lemas dan mengkerut
  • Spastik: ketika otot mengejang dan keras

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala paraplegia?

Tanda-tanda dan gejala dari kondisi ini dapat bervariasi pada masing-masing penderita. Umumnya, kemampuan penderita untuk mengendalikan tubuh bagian bawah tergantung pada dua faktor, yaitu letak cedera pada saraf tulang belakang, serta tingkat keparahannya.

Gejala-gejala umum dari paraplegia adalah:

  • Kehilangan kemampuan untuk bergerak
  • Kehilangan sensasi, termasuk kemampuan untuk merasakan panas, dingin, dan sentuhan
  • Kehilangan kendali untuk buang air kecil
  • Kehilangan kendali untuk buang air besar
  • Kehilangan fungsi motor
  • Aktivitas refleks yang berlebihan atau kejang
  • Perubahan fungsi seksual, sensitivitas seksual dan kesuburan
  • Rasa sakit atau sensasi menyengat yang disebabkan kerusakan pada serabut saraf di tulang belakang
  • Kesulitan bernapas, batuk, atau membersihkan sekresi dari paru-paru
  • Masalah kulit

Tergantung pada tingkat keparahannya, kondisi ini dapat digolongkan menjadi paraplegia menyeluruh atau sebagian.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Kehilangan kendali untuk buang air kecil atau buang air besar
  • Gangguan pada keseimbangan dan berjalan
  • Gangguan pernapasan setelah mengalami cedera
  • Leher atau punggung dengan posisi yang aneh atau bengkok

Cedera atau trauma saraf tulang belakang mungkin tidak terlihat jelas, jika Anda menduga seseorang mengalami cedera saraf tulang belakang, jangan coba memindahkan orang tersebut dan segera hubungi penyedia layanan medis.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan, selalu periksakan diri ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab paraplegia?

Paraplegia adalah kondisi yang umumnya diakibatkan oleh cedera saraf tulang belakang, tulang belakang, ligamen, atau cakram (disk) pada ruas-ruas tulang belakang.

Kondisi ini biasanya terjadi akibat adanya cedera traumatis karena hantaman yang kencang dan mendadak pada tulang belakang. Akibatnya, tulang belakang dapat patah, dislokasi (bergeser), pecah, atau menekan saraf.

Selain peristiwa traumatik, cedera juga dapat disebabkan oleh arthritis, kanker, inflamasi (peradangan), infeksi, atau degenerasi cakram tulang belakang. Mungkin diperlukan waktu yang lama hingga cedera saraf tulang belakang pulih, terutama jika terjadi perdarahan, pembengkakan, peradangan dan akumulasi cairan pada tulang belakang.

Sistem saraf pusat manusia terdiri dari otak dan saraf tulang belakang. Saraf tulang belakang, yang terbuat dari jaringan-jaringan lunak yang dikelilingi oleh tulang belakang, tumbuh memanjang dari pangkal otak Anda.

Bagian bawah atau ujung saraf tulang belakang terletak di atas pinggang Anda, yang disebut dengan conus medullaris. Di bawah bagian ini, terdapat sekelompok akar saraf yang disebut dengan cauda equina.

Ketika terjadi kondisi traumatik atau nontraumatik di bagian tersebut, serat-serat saraf dapat mengalami kerusakan, sehingga otot-otot bagian bawah tubuh akan bermasalah.

Penyebab utama cedera saraf tulang belakang meliputi:

  • Kecelakaan
  • Terjatuh
  • Tindak kekerasan
  • Olahraga ekstrem
  • Cedera dari kecelakaan kendaraan bermotor
  • Penyakit, seperti kanker, arthritis, osteoporosis, dan peradangan saraf tulang belakang

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk mengalami paraplegia?

Paraplegia adalah kondisi yang dapat terjadi pada hampir semua orang, tidak memandang dari apa kelompok usia dan golongan rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkat risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau kondisi kesehatan. Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat mengalami kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya paraplegia adalah:

1. Usia

Angka kejadian kondisi ini lebih banyak ditemukan pada pasien berusia di antara 16-30 tahun. Selain itu, orang-orang berusia lanjut di atas 65 tahun juga lebih rentan mengalami kondisi ini karena keseimbangan tubuh yang menurun, atau kondisi tulang belakang yang mengalami degenerasi.

2. Jenis kelamin

Kondisi ini lebih banyak terjadi pada pasien berjenis kelamin laki-laki dibanding dengan pasien perempuan. Jika Anda berjenis kelamin laki-laki, risiko Anda untuk mengalami kondisi ini lebih tinggi.

3. Melakukan aktivitas berat atau berisiko

Orang-orang yang melakukan aktivitas berisiko tinggi, seperti olahraga ekstrem, balap motor, mobil, menyelam, paralayang, dan sebagainya lebih mudah mengalami kecelakaan seperti terjatuh dan cedera. Hal ini berpotensi menyebabkan tubuh bagian bawah mengalami kelumpuhan.

4. Memiliki gangguan tulang atau sendi

Jika Anda memiliki kelainan pada tulang atau sendi, seperti arthritis atau osteoporosis, kondisi tersebut membuat struktur tulang Anda lebih rapuh dibanding dengan orang-orang pada umumnya.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh paraplegia?

Paraplegia adalah kondisi yang dapat mengakibatkan terjadinya masalah-masalah kesehatan lain apabila tidak segera ditangani. Berbagai masalah kesehatan yang dapat muncul adalah:

  • Infeksi saluran kencing kronis
  • Batu ginjal
  • Kejang otot
  • Rasa sakit ketika duduk terlalu lama dengan posisi yang sama
  • Perubahan suhu tubuh yang ekstrem

Pada tingkat cedera tubuh yang lebih parah, penderita mungkin juga dapat mengalami hiperrefleksia, atau yang disebut pula dengan disrefleksia autonomik automomik.

Kondisi tersebut dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti pembengkakan kantung kemih, usus, atau rasa nyeri secara keseluruhan. Gejala-gejala dari kondisi ini meliputi kenaikan suhu tubuh, keringat berlebihan, tekanan darah meningkat, sakit kepala, penurunan denyut nadi, dan blackout.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana paraplegia didiagnosis?

Paraplegia memerlukan keadaan darurat, di mana dokter akan memeriksa fungsi sensorik dan pergerakan kaki dengan seksama. Dokter akan menanyakan tentang trauma yang menyebabkan paraplegia untuk mengidentifikasi tingkat cedera. Pada banyak kasus, dokter akan melakukan beberapa tes untuk mengonfirmasi diagnosis dan memeriksa kerusakan pada saraf tulang belakang, seperti:

  • X-ray. Biasanya ini adalah tes yang pertama kali dilakukan oleh dokter. X-ray dapat menunjukkan masalah pada tulang belakang, tumor, parah atau perubahan degeneratif pada tulang belakang.
  • CT scan. Apabila cedera lebih kompleks seperti yang ditunjukkan oleh X-ray, CT scan dapat menunjukkan masalah tulang dengan lebih detail.
  • MRI. Tes ini sangat membantu dokter untuk melihat saraf tulang belakang dan melihat cakram yang mengalami hernia, pembekuan darah, atau adanya lainnya yang mungkin menekan saraf tulang belakang.

Setelah pembengkakan saraf tulang belakang mengecil, dokter akan melakukan pemeriksaan neurologis untuk melihat bagaimana otot dan tulang bereaksi ke stimulan.

Bagaimana mengobati paraplegia?

Perawatan untuk paraplegia akan terfokus pada mengembalikan fungsi saraf tulang belakang sebisa mungkin.

Karena paraplegia adalah kondisi yang darurat, perawatan segera dimulai begitu Anda sampai ke rumah sakit.

Pada ruang gawat darurat, dokter akan berfokus pada gejala-gejala organ vital Anda, seperti kemampuan bernapas, mencegah shock dan imobilisasi saraf tulang belakang dari leher ke punggung.

Perawatan jangka panjang akan terfokus pada penanganan gejala-gejala dan mencegah komplikasi, seperti:

1. Rehabilitasi

Tim medis akan membantu Anda dalam proses rehabilitasi selama masa pemulihan.

Dalam rehabilitasi tahap awal, terapis Anda akan berfokus pada mengembalikan kekuatan dan fungsi otot, mengembangkan kemampuan motorik tubuh, serta mempelajari teknik-teknik tertentu agar tubuh dapat kembali beradaptasi dalam kegiatan sehari-hari.

2. Obat-obatan

Pemberian obat-obatan tertentu juga dapat membantu mengendalikan gejala-gejala dari cedera tulang belakang.

Obat-obatan yang diberikan umumnya bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, kejang otot, serta memperbaiki kontrol buang air.

3. Penggunaan alat bantu

Beberapa alat bantu medis juga dapat digunakan agar Anda dapat bergerak lebih mudah. Alat-alat tersebut dapat berupa kursi roda khusus, atau komputer yang dilengkapi dengan teknologi pengidentifikasi suara.

Uji klinis juga tersedia untuk penderita paraplegia. Biasanya pemulihan terjadi dalam 6 bulan pertama.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi paraplegia?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi paraplegia:

1. Bergabung dengan komunitas paraplegia

Terdapat banyak support group atau komunitas penderita kondisi ini atau jenis paralisis lainnya. Komunitas-komunitas ini dapat menjadi tempat pasien untuk berbagi pengalaman, keluh kesah, serta saran dan dukungan dari sesama pasien.

Selain itu, dengan mengikuti komunitas ini, pasien juga dapat berbagi edukasi dan informasi mengenai penyakit ini kepada orang-orang sekitar, sehingga kepedulian mengenai paraplegia pun dapat ditingkatkan.

2. Menjalani terapi psikologis

Banyak pasien yang justru tidak menyadari efek psikologis yang dirasakan ketika mengalami kondisi penurunan mobilitas tubuh. Maka dari itu, penting bagi pasien untuk mencari psikolog yang ahli dalam menangani masalah tersebut, terutama yang terkait dengan cedera atau trauma pada otak.

Keberadaan psikolog dapat membantu pasien menerima kondisi yang dialaminya, berjuang menghadapi penyakit, serta menghindari pasien dari risiko mengalami depresi.

3. Belajar beradaptasi

Pasien yang mengalami penurunan kemampuan bergerak, bahkan kelumpuhan total pada bagian bawah tubuh, perlu membiasakan diri dalam beraktivitas sehari-hari. Akan ada banyak sekali aspek kehidupan pasien yang mengalami perubahan.

Salah satu cara untuk membantu beradaptasi adalah dengan menyesuaikan tata letak perabotan di rumah, atau memodifikasi perlengkapan rumah, sehingga pasien dapat lebih mudah melakukan aktivitas sehari-hari.

4. Terapi fisik atau olahraga

Anda juga dapat mencoba beberapa jenis terapi fisik atau olahraga yang dapat membantu mengatasi gejala-gejala paraplegia. Berikut adalah jenis-jenis latihan fisik yang dapat Anda coba:

  • Yoga

Banyak pasien penderita cedera saraf tulang belakang, terutama paraplegia, yang mendapatkan manfaat dari gerakan-gerakan yoga. Dalam yoga, gerakan-gerakan peregangan ternyata dapat mencegah atrofi pada otot yang tidak digunakan untuk bergerak.

Selain itu, teknik pernapasan pada yoga juga dapat membantu penderita yang mengalami kesulitan bernapas akibat efek samping dari cedera saraf tulang belakang.

  • Angkat beban

Angkat beban adalah salah satu latihan fisik yang dapat membantu melatih otot pasien, mencegah terjadinya atrofi otot, serta meningkatkan kekuatan dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Namun, pasien harus menjalani angkat beban di bawah pengawasan ahli atau terapis agar tidak terjadi cedera yang lebih parah.

  • Aerobik air

Air membantu menopang beban tubuh ketika melakukan gerakan-gerakan yang mengharuskan pasien berdiri dan meregangkan lengan atau kaki. Sama dengan angkat beban, latihan fisik jenis ini juga harus dilakukan di bawah pengawasan ahli terapi fisik.

  • Aerobik duduk

Selain aerobik air, pasien juga dapat mencoba aerobik yang dilakukan dengan duduk di kursi. Salah satu kemudahan yang ditawarkan dari latihan fisik ini adalah dapat dilakukan hampir di mana saja.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: Maret 12, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 29, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca