Berbagai Penyebab Jamur pada Kuku yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Jamur kuku (tinea unguium) adalah infeksi jamur pada kuku yang dapat terjadi baik pada tangan maupun kaki. Kondisi ini dapat menyebabkan kuku berwarna putih hingga kehitaman dan menjadi mudah terlepas. Lantas, apa penyebab dari jamur kuku ini? Berikut penjelasannya. 

Penyebab jamur kuku

jamur kuku kaki (onychomycosis adalah)

Pada dasarnya, infeksi jamur pada kuku disebabkan oleh pertumbuhan jamur berlebih di bawah kuku. Jamur biasanya akan tumbuh subur di lingkungan yang hangat dan lembab, sehingga patogen ini dapat berkembang biak dengan cepat dan banyak. 

Ada beragam jenis jamur yang menjadi penyebab jamur kuku, mulai dari dermatofita, jamur Candida, dan jamur non-dermatofita. Ketiga kelompok jamur ini mungkin sudah ada di tubuh dan berpotensi menyebabkan infeksi di kuku. 

Bahkan, tidak menutup kemungkinan Anda tertular penyakit kuku ini ketika orang lain memiliki infeksi jamur dan akhirnya menyebar di tubuh. Berikut ini penjelasan mengenai jenis jamur yang dapat menyebabkan infeksi pada kuku. 

Dermatofita

Salah satu jamur penyebab infeksi jamur pada kuku adalah dermatofita. Ada beragam jenis dermatofita yang mungkin menyebabkan onikomikosis, yakni sebagai berikut.

  • Trichophyton rubrum
  • Trichophyton interdigitale
  • Epidermophyton floccosum
  • Trichophyton violaceum
  • Microsporum gypseum
  • Trichophyton tonsurans
  • Trichophyton soudanese

Umumnya, jenis dermatofita yang paling sering menyebabkan infeksi pada kuku adalah Trichophyton rubrum. Perlu diketahui bahwa patogen yang satu ini dapat ditularkan melalui tikus dan kotorannya. Namun, cara penularan ini biasanya lebih berdampak pada kulit ketimbang kesehatan kuku. 

Candida albicans

Selain dermatofita, penyebab jamur pada kuku lainnya adalah Candida albicans. Jamur ini umumnya menyerang orang melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan air, seperti perenang dan penyelam.

Infeksi Candida albicans akan diawali dengan menyerang jaringan lunak yang mengelilingi kuku. Kemudian, infeksi akan menyebar hingga pada lempeng kuku setelah jamur berkembang biak. Akibatnya, kuku menjadi berwarna hitam atau putih.

Kuku Lepas atau Patah, Begini Cara Mengatasinya

Jamur non-dermatofita

Pada negara dengan iklim tropis dan subtropis, jamur Skyalidium ternyata menjadi penyebab jamur kuku pada kebanyakan orang. Selain itu, infeksi jamur kuku ini juga bisa bertahan tanpa pengobatan. 

Bahkan, infeksi jamur tetap akan ada ketika Anda pindah ke negara beriklim sedang. Selain Skyalidium, jenis jamur non-dermatofita lainnya yang membuat kuku jamuran adalah Neoscytalidium, Scopulariopsis, dan Aspergillus. 

Jenis jamur yang satu ini lebih sering menginfeksi orang berusia di atas 60 tahun alias lansia. Pasalnya, lansia memiliki kesehatan kuku yang lemah untuk melawan infeksi jamur, sehingga menjadi lebih berisiko. 

Kebiasaan penyebab jamur kuku

Ketiga kelompok jamur yang telah disebutkan ternyata lebih sering menyerang kuku kaki. Hal ini mungkin dikarenakan kuku kaki jarang terekspos matahari dan posisinya tertutup oleh sepatu. 

Itu sebabnya, tidak jarang area kuku kaki menjadi lingkungan yang hangat dan lembap untuk jamur berkembang biak. 

Selain itu, infeksi jamur pada kuku juga berisiko terjadi pada orang yang sering melakukan manicure dan pedicure. Begini, peralatan kuku seperti papan amplas dan gunting kuku dapat menjadi sarana penyebaran infeksi jamur pada kuku. 

Bila Anda merasa khawatir, sebaiknya selalu tanyakan kepada pegawai salon bahwa alat pedikur dan manikur yang akan dipakai bersih dan steril.

Faktor risiko yang jadi penyebab infeksi jamur pada kuku

obat jamur kuku alami

Kuku jamuran adalah kondisi yang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kuku ini. Simak daftarnya di bawah ini.

Usia

Salah satu faktor yang jadi penyebab seseorang lebih berisiko terkena jamur kuku adalah usia. Seiring bertambahnya usia, kesehatan kuku juga semakin menurun dan sirkulasi darah pun melambat, sehingga kuku akan semakin lemah untuk melawan infeksi jamur.

Itu sebabnya, jamur kuku lebih rentan terjadi pada lansia. Sementara itu, kelompok usia yang paling jarang mengalami masalah kuku ini adalah anak-anak. 

Iklim 

Selain usia, faktor lainnya adalah iklim tempat tinggal Anda. Pasalnya, hidup di negara dengan iklim yang panas dan lembap membuat Anda lebih sering berkeringat. Alhasil, kulit di sekitar kuku pun menjadi lebih lembap dan menjadi sarang untuk tempat pertumbuhan jamur.

Kondisi kesehatan tertentu

Sayangnya, bagi para penderita masalah kesehatan tertentu ternyata berisiko mengembangkan infeksi jamur pada kuku, meliputi:

  • kutu air atau Athlete’s foot,
  • kanker atau tengah menjalani kemoterapi,
  • diabetes,
  • pernah mengalami infeksi kuku, 
  • cedera pada kuku,
  • psoriasis,
  • menerima transplantasi organ, serta
  • penyakit yang menurunkan sistem imun, seperti HIV.

Kebiasaan tertentu

Menjaga kebersihan kuku adalah satu cara mencegah terjadinya kuku jamuran. Nah, sejumlah kebiasaan di bawah ini ternyata bisa meningkatkan risiko Anda mengalami masalah kuku ini, seperti: 

  • sering membasuh kaki atau tangan sepanjang hari, 
  • merokok, 
  • menghabiskan banyak waktu di air,
  • berjalan tanpa alas kaki di tempat yang panas dan lembap, seperti kolam renang, 
  • memakai sepatu yang terlalu ketat, terutama saat kaki berkeringat, dan 
  • menggunakan sarung tangan selama berjam-jam setiap hari.

Selain itu, infeksi jamur pada kuku juga lebih sering terjadi pada pria dan wanita dewasa. Bahkan, memiliki anggota keluarga yang sering mengalami kondisi ini juga memungkinkan Anda terkena infeksi. 

Oleh sebab itu, ketika Anda menyadari bahwa ada masalah pada kuku, seperti perubahan warna atau terasa sakit, segera temui dokter. Berkonsultasilah dengan dokter agar dapat mengobati kuku berjamur dengan cepat agar infeksi tidak menyebar.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Semua Hal yang Penting Diperhatikan Pasca Operasi Usus Buntu

Pasca operasi usus buntu Anda tidak dianjurkan kembali beraktivitas. Anda juga perlu menghindari beberapa pantangan setelah operasi usus buntu.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Pencernaan, Radang Usus Buntu 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

5 Manfaat Propolis, Getah Lebah yang Penuh Khasiat (Tidak Kalah dari Madu!)

Propolis disebut-sebut berkhasiat sebagai obat herbal untuk mengatasi gejala herpes, mengobati luka kulit, dan meredakan maag. Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Manfaat Buah Stroberi yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

Tahukah Anda, buah stroberi dapat membantu mencegah katarak dan menurunkan tekanan darah? Apalagi manfaat buah merah asam ini untuk kesehatan tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Fakta Gizi, Nutrisi 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit



Direkomendasikan untuk Anda

hidung meler

7 Penyebab Hidung Meler serta Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
urat menonjol pada orang muda

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
pertolongan pertama keracunan makanan

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
fungsi testis

Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit