Penyakit Morgellons, Sebabkan Munculnya Benang di Kulit

Penyakit Morgellons, Sebabkan Munculnya Benang di Kulit

Ada berbagai penyakit langka yang bisa ditemukan pada kulit. Memang, ada beberapa kondisi ini muncul akibat kelainan genetik, tetapi ada pula yang penyebabnya tidak diketahui. Salah satu penyakit kulit misterius, yaitu Morgellons.

Apa itu penyakit Morgellons?

Penyakit morgellons atau dikenal juga sebagai sindrom Morgellons adalah masalah kulit yang relatif baru dan kurang dipahami.

Pasien akan mengalami sensasi tidak nyaman di dalam dan/atau di bawah kulit, seperti ada yang “menggigit,” “menyengat” atau “mencakar.”

Sensasi ini sering kali disertai dengan munculnya butiran kecil berwarna hitam atau benang kecil pada kulit.

Tempat timbulnya benang kecil ini biasanya disertai dengan koreng yang sulit disembuhkan. Ada dugaan bahwa koreng ini muncul akibat mencungkil benang terus-menerus.

Hingga saat ini, Morgellons masih belum terlalu dipahami. Hal ini membuat dokter terkadang mendiagnosis pasien dengan gejala Morgellons mengalami penyakit kulit lain atau gangguan psikologis.

Gejala Morgellons

morgellons

Orang yang memiliki penyakit ini melaporkan adanya tanda-tanda dan gejala berikut.

  • Ruam kulit atau koreng yang dapat menyebabkan rasa gatal yang intens.
  • Sensasi merayap pada dan di bawah kulit, sering kali dikira adanya serangga yang bergerak, menyengat, atau menggigit.
  • Serat, benang, atau serabut hitam di dalam dan pada kulit.
  • Kelelahan yang parah.
  • Nyeri sendi.
  • Gangguan saraf yang serius.
  • Kesulitan konsentrasi.
  • Kehilangan ingatan jangka pendek.

Beberapa pasien juga mengeluhkan adanya gangguan irama jantung (aritmia) dan kelebihan kalsium di dalam darah (hiperkalsemia)

Gejala penyakit Morgellons dapat sangat mengganggu kualitas hidup seseorang. Beberapa pasien bahkan mengalami masalah finansial hingga kehilangan mata pencahariannya.

Penyebab pembentukan benang pada Morgellons

Meski hingga saat ini tidak dapat dijelaskan, ada beberapa dugaan asal pembentukan benang pada kulit pasien. Apa saja?

1. Serat pakaian

Studi terbitan PLoS One (2012) yang bekerja sama dengan Centers for Disease Control and Prevention menemukan bahwa benang pada kulit pasien ternyata berasal dari serat katun pada pakaian.

Studi ini bahkan menemukan bahwa warna yang timbul juga berasal dari pewarna kain.

2. Aktivitas kulit

Sementara itu, peneliti dalam studi terbitan BMC Dermatology (2015) menyatakan bahwa benang ini muncul akibat adanya aktivitas dan perbanyakan sel kulit bernama keratinosit dan fibroblas.

Benang ini berasal dari selubung akar rambut dan sel epitel pada permukaan kulit terluar.

Bahan penyusun helai benang Morgellons adalah kolagen dan keratin. Warna yang timbul berasal dari pigmen melanin pada kulit.

3. Lingkungan luar

Penelitian terbitan Ultrastructural Pathology (2016) menemukan bahwa benang yang ada pada pasien Morgellons berasal dari lingkungan tempat tinggal.

Peneliti menjumpai adanya persamaan bahan benang dari tubuh dengan:

  • serat plastik dari penyaring mesin cuci,
  • bulu anjing, dan
  • rambut rontok yang ditemukan di rumah.

4. Kombinasi

Studi kasus yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Dermatology (2018) menemukan adanya benang pada Morgellons berasal dari kombinasi keratin dan bahan anorganik.

Bahan anorganik adalah bahan yang berasal dari luar tubuh. Meski demikian, studi ini tidak menjelaskan lebih detail asal muasal bahan anorganik ini.

Penyebab penyakit Morgellons

dugaan penyebab morgellons

Meski belum diketahui sepenuhnya, para ahli memiliki beberapa dugaan penyebab penyakit kulit yang satu ini. Apa saja?

1. Penyakit Lyme

Para ahli menduga bahwa salah satu pemicu Morgellons adalah penyakit Lyme. Ini adalah infeksi bakteri Borrelia burgdorferi dan Borrelia mayonii. Bakteri ini didapat dari gigitan kutu jenis Ixodes.

Namun, hingga saat ini belum diketahui bagaimana hubungan Lyme dengan penyakit ini.

Selain itu, para ahli dari Morgellons Research Foundation menduga bahwa infeksi bakteri Babesia microti dan Chlamydia pneumonia memicu terjadinya penyakit kulit ini.

Namun, jumlah kasus yang berkaitan dengan infeksi sangat sedikit. Hingga saat ini, peneliti bahkan belum menemukan infeksi bakteri bisa langsung menyebabkan penyakit morgellons.

2. Masalah kejiwaan

Para pasien merasa adanya cacing atau rambut yang menonjol dan merambat, bahkan percaya bila tubuh terinfeksi oleh parasit.

Fenomena tersebut membuat para ahli di masa lampau kerap mendiagnosis parasitosis delusional.

Hingga pada tahun 2002, ditemukan anak memiliki kondisi kulit yang menyerupai gejala Morgellons. Hal ini membuat para ahli membedakannya dari parasitosis delusional.

Penelitian terbitan Journal of the American Academy of Dermatology (2012) menemukan bahwa dari 147 orang yang memiliki masalah delusi atau waham, 20 persen di antaranya mengeluhkan adanya serat atau benang di kulit mereka.

Selain itu, studi lain juga menemukan bahwa pasien dengan gejala serupa memiliki riwayat kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan obat-obatan.

Diagnosis

Beberapa diagnosis yang bisa dilakukan dengan cara berikut.

  • Mengupas kulit untuk mengecek infeksi bakteri atau jamur.
  • Biopsi kulit.
  • Tes darah untuk mengetahui penyebab gatal dan lenting lainnya.
  • Tes riwayat penyalahgunaan kokain, amfetamin, dan metilfenidat.

Pengobatan Morgellons

Sampai saat ini, pengobatan untuk penyakit ini masih belum jelas.

Jika ditemukan beberapa bakteri Chlamydia pneumonia, Babesia, atau Borrelia, dokter dapat memberikan obat antibiotik.

Bila dokter juga menemukan masalah depresi, kecemasan, atau masalah delusi, Anda mungkin mendapatkan konseling sekaligus obat psikotik atau obat masalah mental lainnya.

Kapan harus ke dokter?

Jika mengalami tanda atau gejala yang disebutkan di atas, atau memiliki pertanyaan apa pun, konsultasikanlah pada dokter.

Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah memburuknya Morgellons dan mencegah keadaan darurat medis lainnya.

Tubuh setiap orang bereaksi dengan cara berbeda. Lebih baik untuk mendiskusikan apa yang terbaik untuk keadaan Anda dengan dokter.

Morgellons adalah penyakit kulit yang menyebabkan sensasi menjalar, menyengat dan gatal sangat intens. Pasien juga melihat adanya benang yang muncul dari kulit.

Meski begitu, penyebab dan pengobatannya belum diketahui pasti.

Rangkuman

  • Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, diduga berkaitan dengan infeksi dan masalah mental.
  • Benang diduga berasal dari lingkungan luar maupun sel kulit.
  • Koreng yang muncul biasanya berasal dari menggaruk dan mencungkil benang berkali-kali.
  • Selain masalah kulit, gejala juga diikuti dengan nyeri sendi, kelelahan, dan susah fokus.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Middelveen, M., Bandoski, C., Burke, J., Sapi, E., Filush, K., & Wang, Y. et al. (2015). Exploring the association between Morgellons disease and Lyme disease: identification of Borrelia burgdorferi in Morgellons disease patients. BMC Dermatology, 15(1). doi: 10.1186/s12895-015-0023-0

Frequently Asked Questions – Morgellons Disease ?. (2014). Retrieved 12 July 2022, from https://www.morgellons.org/faq-home-htm/

Morgellons disease | DermNet NZ. (2022). Retrieved 12 July 2022, from https://dermnetnz.org/topics/morgellons-disease

Pearson, M., Selby, J., Katz, K., Cantrell, V., Braden, C., & Parise, M. et al. (2012). Clinical, Epidemiologic, Histopathologic and Molecular Features of an Unexplained Dermopathy. Plos ONE, 7(1), e29908. doi: 10.1371/journal.pone.0029908

Roncati, L., Gatti, A. M., Pusiol, T., Piscioli, F., Barbolini, G., & Maiorana, A. (2016). The first investigative science-based evidence of Morgellons psychogenesis. Ultrastructural pathology, 40(5), 249-253.

Yu, D., Ohn, J., & Kim, K. (2018). Morgellons Disease: a Manifestation of Psychiatric Disorder. Annals of Dermatology, 30(3), 362. doi: 10.5021/ad.2018.30.3.362

Harvey, W., Bransfield, R., Mercer, D., Wright, A., Ricchi, R., & Leitao, M. (2009). Morgellons disease, illuminating an undefined illness: a case series. Journal of Medical Case Reports, 3(1), 8243. doi: 10.4076/1752-1947-3-8243

Centers for Disease Control and Prevention. (2022, January 19). Lyme disease. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved July 12, 2022, from https://www.cdc.gov/lyme/index.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Jul 29
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan