Setiap orang biasanya memiliki bintik hitam di bagian tubuh yang terlihat maupun tidak terlihat oleh mata. Lantas, jika Anda memiliki banyak tahi lalat, apakah perlu khawatir?
Setiap orang biasanya memiliki bintik hitam di bagian tubuh yang terlihat maupun tidak terlihat oleh mata. Lantas, jika Anda memiliki banyak tahi lalat, apakah perlu khawatir?

Banyak tahi lalat artinya seseorang memiliki sejumlah besar bintik pigmen di kulit yang terbentuk akibat penumpukan melanin.
Jumlah bintik ini bisa bervariasi pada setiap orang. Bahkan, ada orang yang memiliki banyak sekali tahi lalat, apa penyebabnya?
Salah satu fakta seputar tahi lalat atau bintik hitam yang tidak banyak diketahui orang adalah bahwa faktor genetik atau keturunan berkontribusi besar pada perkembangan bintik hitam ini di lapisan kulit.
Seseorang dengan orang tua yang punya banyak bintik biasanya juga memiliki banyak bintik hitam di lapisan kulit.
Selain itu, seseorang yang memiliki kulit terang cenderung memiliki nevus pigmentosus (bintik cokelat) lebih banyak dibandingkan dengan orang berkulit gelap.
Bintik ini biasanya sudah terlihat sedari lahir, tapi masih bisa muncul sampai umur 25 tahun.
Orang-orang yang tinggal di wilayah tropis umumnya memiliki tahi lalat. Hal ini disebabkan kulit mereka sering terpapar sinar UV dari matahari.
Ketika kulit terpapar sinar matahari, sel melanosit memproduksi lebih banyak melanin (pigmen) dan menghasilkan warna cokelat pada kulit. Semakin banyak jumlah melanin, kulit akan semakin gelap.
Jika melanin menumpuk dalam jumlah besar dan tidak tersebar secara merata, bintik hitam ini akan mudah terbentuk dan muncul.
Kemunculan bintik hitam ini, apalagi secara terus-menerus, bisa jadi dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu.
Menurut situs DermNetz, beberapa obat-obatan seperti obat kemoterapi, obat antimalaria, atau obat pereda nyeri dapat mengganggu produksi melanin di kulit.
Hal ini membuat melanosit memproduksi lebih banyak melanin sehingga muncul banyak bintik hitam pada kulit.
Perubahan hormon pada tubuh juga bisa menjadi penyebab munculnya bintik hitam di kulit tangan atau dada.
Kondisi ini umum terjadi pada perempuan, terutama selama masa kehamilan atau menjelang menopause.
Perubahan hormon ini menyebabkan munculnya banyak bintik yang warnanya terlihat lebih gelap dari warna kulit asli.

Memiliki banyak tahi lalat umumnya normal terjadi dan dapat terbentuk di berbagai area tubuh, tapi lebih sering tumbuh di bagian tubuh yang terkena paparan sinar matahari.
Meski normal terjadi, ada bintik hitam yang berbahaya dan ada juga yang tidak berbahaya. Bintik hitam yang berbahaya biasanya ditandai dengan adanya perubahan pada ukuran dan bentuknya.
Ketika bintik ini berubah atau baru muncul di usia dewasa, disertai dengan gejala berupa tahi lalat terasa gatal, berdarah, mengeluarkan cairan, atau nyeri, segera temui dokter.
Kondisi ini mungkin menunjukkan gejala melanoma atau kanker kulit. Penyakit kulit ini sering menyerang area kulit yang kerap terkena sinar matahari seperti wajah, kepala, dan leher.
Bintik hitam di kulit tidak selalu berbahaya dan umumnya normal sehingga Anda tidak perlu menghilangkannya.
Namun, jika bintik hitam menunjukkan perkembangan abnormal yang bisa menandakan tumor atau melanoma, segera lakukan langkah berikut.
Memiliki banyak tahi lalat sebenarnya hal yang umum dan tidak berbahaya. Namun, penting untuk selalu waspada terhadap perubahan tahi lalat yang Anda miliki.
Jika Anda ragu atau melihat tanda-tanda mencurigakan, konsultasikan kepada dokter. Pencegahan dan deteksi sangat penting untuk mencegah perkembangan kanker kulit yang berbahaya.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Plasmeijer, E. I., Nguyen, T. M., Olsen, C. M., Janda, M., Soyer, H. P., & Green, A. C. (2017). The Natural History of Common Melanocytic Nevi: A Systematic Review of Longitudinal Studies in the General Population. The Journal of Investigative Dermatology, 137(9), 2017–2018.
Roh, M. R., Eliades, P., Gupta, S., & Tsao, H. (2015). Genetics of melanocytic nevi. Pigment Cell & Melanoma Research, 28(6), 661–672. https://doi.org/10.1111/pcmr.12412
Webster, D. E., Suver, C., Doerr, M., Mounts, E., Domenico, L., Petrie, T., Leachman, S. A., Trister, A. D., & Bot, B. M. (2017). The Mole Mapper Study, mobile phone skin imaging and melanoma risk data collected using ResearchKit. Scientific Data, 4, 170005.
Are moles determined by genetics?. (n.d). MedlinePlus. Retrieved 18 July 2025, from https://medlineplus.gov/genetics/understanding/traits/moles/#:~:text=Heredity%20contributes%20to%20the%20development,of%20moles%20a%20person%20has.
MOLES: WHO GETS AND TYPES. (n.d). American Academy of Dermatology Association. Retrieved 18 July 2025, from https://www.aad.org/public/diseases/a-z/moles-types#overview
Melanoma. (2023). Mayo Clinic. Retrieved 18 July 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/melanoma/diagnosis-treatment/drc-20374888
Versi Terbaru
18/09/2025
Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Aggy