Hindari Bertengkar di Depan Anak, Ini Dampak Buruk yang Bisa Terjadi

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Adanya beda pendapat sampai bertengkar di antara ibu dan ayah memang umum. Terkadang, pertengkaran sekecil apa pun tidak bisa disembunyikan di depan buah hati. Namun, orangtua harus tahu bahwa bertengkar di depan anak harus dihindari sama sekali.

Ini karena dapat membawa pengaruh negatif bagi kesehatan mental, bahkan menimbulkan trauma pada buah hati. Trauma apa yang bisa muncul dari pertengkaran orangtua dan bagaimana cara mengatasinya?

Tanda anak trauma setelah melihat pertengkaran orangtua

anak pendiam

Orangtua sebenarnya bisa mengetahui adanya perubahan perilaku pada anak.

Setiap anak memiliki reaksi berbeda, tapi umumnya Anda bisa melihat perbedaan perilaku anak setelah melihat pertengkaran orangtua tersebut. 

Begini misalnya, sehabis anak melihat pertengkaran kedua orangtua, sikapnya jadi takut pada Anda dan pasangan.

Bahkan, si kecil bisa juga berusaha menghindar dari kedua orangtuanya.

Tak hanya itu, anak yang trauma akibat melihat orangtuanya bertengkar di depan dirinya juga akan sering murung, banyak menyendiri, atau suka menangis. 

Terlebih di masa perkembangan anak 6-9 tahun ia dapat dengan mudah belajar dan merekam semua hal yang ia lihat, termasuk karena melihat pertengkaran orangtua.

Atas dasar itulah, sebisa mungkin bertengkar di depan anak harus dihindari. 

Pasalnya, ternyata bukan jumlah pertengkaran orangtua yang paling berdampak bagi diri anak.

Faktor yang paling berpengaruh pada anak yakni apakah pertengkaran kedua orangtua bertambah parah atau justru semakin baik dengan saling berdamai.

Pertengkaran orangtua bukanlah masalah bila Anda dan pasangan berusaha menyelesaikan masalah.

Sebaliknya, ketika konflik di antara orangtua ini tetap ada, tanpa sadar anak dapat merespons dengan berbagai hal.

Respons yang mungkin dialami anak yakini dalam bentuk gejala depresi, kecemasan, masalah perilaku, maupun stres pada anak.

Sayangnya, tidak semua orangtua menyadari bahwa anak-anak sangat sensitif terhadap konflik atau pertengkaran ayah dan ibunya.

Padahal, usia anak-anak merupakan masa di mana tumbuh kembangnya sedang berjalan dengan pesat.

Anda perlu menumbuhkan rasa empati, menerapkan cara mendisiplinkan anak, hingga membiasakan anak jujur.

Cara menjelaskan arti bertengkar di depan anak

cara mengatasi anak tidak mau mendengarkan orangtua

Jika pertengkaran tidak bisa dihindarkan hingga terlihat oleh si kecil, sebaiknya Anda dan pasangan segera memberikan ia pengertian.

Jelaskan pada anak apa yang baru saja terjadi agar ia tidak merasa tertekan bahkan sedih. 

Penjelasan  tentang apa itu bertengkar perlu disesuaikan dengan usia anak.

Ketika ia masih kecil, Anda bisa menjelaskan dengan kalimat seperti, “Adik, tadi Ibu dan Ayah cuma marahan sebentar kayak kamu dan teman di sekolah, tapi kita udah baikan, kok”.

Jelaskan juga bahwa dengan bertengkar ibu dan ayah jadi paham apa yang disukai dan tidak disukai, seperti si kecil dan temannya di sekolah.

Setelahnya, sampaikan bahwa ibu dan ayah akan belajar agar bersikap lebih baik lagi nantinya. 

Sementara bila bertengkar di depan anak usianya sudah semakin dewasa, orangtua bisa menjelaskan dengan lebih jujur. 

Jelaskan bahwa setiap orang punya perbedaan pendapat, termasuk ibu dan ayah. 

Tak lupa, jelaskan juga bahwa meskipun bertengkar, Anda dan pasangan sedang berusaha atau sudah menyelesaikan masalah beda pendapat tersebut.

Arti bertengkar di depan anak remaja bisa dijelaskan sebagai proses belajar mengenal antara ayah dan ibu sembari memperbaiki diri.

Penjelasan yang jujur pada anak usia remaja ke atas penting dilakukan.

Hal ini perlu dilakukan agar anak paham kondisi orang tua dan merasa dipercaya dan dilibatkan dalam keluarga. 

Cara mengatasi trauma setelah bertengkar di depan anak

Di usia 6-9 tahun, ada juga perkembangan kognitif anak, perkembangan sosial anak, dan perkembangan fisik anak di samping perkembangan emosinya.

Apabila pertengkaran di depan anak betul-betul tidak dapat dihindari, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua.

Berikut cara untuk mengatasi trauma usai bertengkar di depan anak:

1. Tanyakan apa yang anak rasakan

mengatasi stres Anak

Pertama, tanyakan apa yang dipikirkan dan apa perasaan anak setelah melihat Ibu dan Ayahnya bertengkar.

Dengarkan penjelasan anak baik-baik, kemudian pahami persepsi dan perasaan mereka. 

Bila anak terlihat sedih dan kecewa, beri ia waktu untuk menenangkan diri sembari tetap menemaninya.

Ini bertujuan agar anak merasa bahwa ia masih mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Hindari melakukan kekerasan pada anak sebagai bentuk pelampiasan dari pertengkaran Anda dengan pasangan.

2. Berikan penjelasan kepada anak

mengajari anak tanpa memaksa

Orangtua bisa melakukan edukasi usai bertengkar di depan anak.

Edukasi di sini maksudnya dengan memberikan penjelasan kepada anak tentang pertengkaran yang terjadi di antara orangtua.

Setidaknya, katakan pada anak, bahwa pertengkaran ini hanya sesaat, ibu dan ayah juga sudah berbaikan setelahnya. 

Ibu dan ayah bisa melihat bagaimana reaksi dan dampak ke anak beberapa hari atau minggu kemudian.

Beri keyakinan kepada anak bahwa hubungan kedua orangtua alias Anda dan pasangan masih akan baik-baik saja setelah pertengkaran tersebut.

Sampaikan juga bahwa Anda dan pasangan tetap saling percaya dan mencintai satu sama lain, tetapi hal ini bukan berarti suatu hubungan akan selalu berjalan sempurna.

Sebab terkadang, anak mungkin berpikir bahwa pertengkaran berarti kedua orangtuanya tidak saling mencintai, melansir dari Kids Health.

Semua orangtua, termasuk ayah dan ibu, yang saling sangat mencintai sekali pun pernah punya masalah yang perlu diselesaikan.

Jika sikap anak tidak berubah, masih ceria seperti biasa, orangtua sebisa mungkin jangan menunjukkan lagi pertengkaran tersebut.

Dampak bila trauma anak dibiarkan begitu saja

Bertengkar di depan anak bisa menyebabkan trauma pada anak yang mendalam dan efeknya ini akan berbahaya.

Ibaratnya seperti luka kecil yang kalau dibiarkan lama-lama bisa menjadi infeksi dan membesar.

Berikut beberapa dampak saat anak mengalami trauma akibat melihat kedua orangtua bertengkar di depan dirinya:

1. Bertengkar di depan anak membuatnya merasa takut dan cemas

menghukum anak berbohong

Trauma dapat menyebabkan anak dipenuhi rasa takut dan cemas akibat sering melihat orangtuanya bertengkar.

Rasa takut dan cemas ini dapat mengganggu belajarnya di sekolah, pertemanan atau kehidupan sosialnya, hingga memengaruhi aktivitasnya sehari-hari.

Anak juga dapat menilai hubungan pernikahan sebagai hal yang negatif atau tidak menyenangkan.

Bahkan anak dapat merasa tidak nyaman di rumah dan mengalihkan rasa trauma tersebut ke pergaulan atau hal negatif seperti minum-minuman beralkohol.

Menurut Aleteia, membiarkan trauma anak dapat membuat perasaan anak jadi tertekan, lalu mengarah ke depresi, dan sampai bisa melukai dirinya sendiri. 

Anak juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang susah diatur sehingga Anda perlu menerapkan cara mendidik anak yang keras kepala.

2. Perkembangan emosi anak terhambat

menjelaskan mimpi basah anak

Di sisi lain, bertengkar di depan anak dapat berpengaruh pada keterbatasan perkembangan emosi anak.

Ketika perkembangan emosi anak terganggu, biasanya ia menunjukkan tanda atau gejala seperti depresi dan kecemasan.

Dampak dari bertengkar di depan anak membuat si kecil menunjukkan perubahan sikap yang tidak biasa.

Perubahan sikap akibat melihat pertengkaran kedua orangtua dapat membuat anak menarik diri dari lingkungan sosial dan sering terlihat murung.

Bukan hanya itu, dalam beberapa kasus, anak mungkin bertindak yang tidak seharusnya dan menjadi sulit untuk ditangani.

Sebagai contoh, anak melampiaskan kekecewaan dan rasa sedihnya dengan memarahi saudara kandungnya maupun teman bermainnya.

Anak juga bisa berulah dengan bersikap nakal untuk mengalihkan perhatian kedua orangtuanya.

Jika upaya ini berhasil, anak mungkin akan melakukannya lagi dan lagi.

Berbagai perubahan tersebut yang dialami anak perlu Anda sadari dan perhatikan.

Hal lain yang perlu Anda ketahui bahwa pertengkaran orangtua secara fisik, verbal atau perkataan, dan saling mendiamkan dapat berdampak buruk bagi anak.

Bila anak mengalami keluhan, misalnya anak jadi murung terus menerus dan masih takut kepada ayah dan ibu, sebaiknya segera dibawa ke profesional, misalnya psikolog.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Artikel dari ahli Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog

Bagaimana Cara Mengatasi Anak Bosan di Rumah saat Pandemi Corona?

Social distancing selama pandemi corona membuat anak harus di rumah. Namun bagaimana cara mengatasi anak yang bosan di rumah di tengah pandemi?

Ditulis oleh: Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog
cara mengatasi anak bosan di rumah

Bagaimana Cara Menghadapi Anak Korban Bullying?

Menghadapi anak korban bullying butuh perhatian khusus. Tidak sedikit dari mereka yang merasa trauma. Berikut langkah-langkahnya.

Ditulis oleh: Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog
menghadapi anak korban bullying
Parenting, Tips Parenting 29 Februari 2020

Mengenal Penyebab dan Gejala Trauma PTSD Pada Anak

Trauma anak yang tidak segera diatasi dapat menjadi PTSD. Apa itu trauma PTSD pada anak? Adakah cara mengetahui gejala dan pengobatannya?

Ditulis oleh: Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog
mengurung anak saat berbuat kesalahan
Kesehatan Anak, Parenting 3 Januari 2020

Direkomendasikan untuk Anda

menghukum anak berbohong

5 Tips Mengatasi Trauma Anak Akibat Kematian Orang Terdekat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 8 Februari 2020 . Waktu baca 6 menit
kasus kdrt ortu memicu risiko psikopat pada anak

Anak yang Melihat KDRT Orangtuanya Bisa Jadi Psikopat Saat Dewasa

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2017 . Waktu baca 6 menit

Bagaimana Mengatasi Trauma pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2016 . Waktu baca 5 menit