Ini Pendapat Para Ahli Tentang Pola Asuh Orangtua Overprotektif

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 11/10/2017 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Keinginan untuk melindungi anak dari segala bahaya merupakan naluri alamiah orangtua. Namun, perlindungan yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak. Pola asuh ini dikenal dengan istilah overprotektif atau helicopter parenting. Melarang anak bermain di taman karena takut kotor dan terluka, tidak mau mengajari anak naik sepeda karena takut anak jatuh, serta selalu ingin memantau gerak-gerik anak merupakan beberapa tanda pengasuhan yang berlebihan.

Dampak buruk pada anak karena pengasuhan overprotektif

Segala sesuatu yang berlebihan (over) tentu tidaklah baik. Begitu juga dengan pengasuhan orangtua, meskipun niat dan maksudnya baik. Maka, pengasuhan overprotektif sebenarnya lebih banyak dampak negatifnya daripada dampak yang positif. Apa saja dampak buruk yang mungkin timbul bila orangtua bersikap terlalu melindungi? 

1. Menjadi penakut dan tidak percaya diri

Ketakutan orangtua yang berlebihan menyebabkan anak memiliki ketakutan yang sama pula. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam segala hal yang dilakukan anak menjadikan anak hidup dalam bayang-bayang orangtua. Akibatnya, anak takut untuk melakukan hal-hal di luar pengawasan orang tua.

Hal ini tidak cuma berdampak waktu anak masih kecil. Pola asuhan yang Anda pilih akan terus terbawa dan membentuk kepribadian anak hingga dewasa kelak. Jadi, anak yang dulunya dibesarkan oleh orangtua yang selalu mengekang dan melarang akan tumbuh jadi pribadi yang berkecil hati, takut mengambil risiko, dan tidak punya inisiatif.

2. Hidup ketergantungan dan tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri

Lauren Feiden, seorang psikolog dengan spesialisasi bidang hubungan orangtua dan anak dari Amerika Serikat (AS) menyatakan dalam Psychcentral bahwa overprotective parenting merupakan suatu masalah yang dapat membuat anak menjadi ketergantungan dan tidak dapat menghadapi masalahnya sendiri.

Hal ini dikarenakan orangtua selalu ikut campur dalam setiap tantangan yang dihadapi sang anak sehingga keputusan yang diambil pun bergantung kepada orangtua. Anak akan selalu mengandalkan orangtua dalam menentukan atau menyelesaikan sesuatu.

3. Mudah berbohong

Orangtua yang terlalu mengekang bisa mendorong anak untuk berbohong. Masalahnya, orangtua juga harus realistis dan menyadari bahwa anak juga butuh ruang gerak yang cukup untuk mengembangkan diri. Tanpa ruang gerak tersebut, anak pun akan mencari celah dan akhirnya berbohong supaya bisa lolos dari kekangan orangtua. 

Di samping itu, apabila hal yang dilakukan anak tidak sesuai dengan keinginan orangtua, maka anak (secara sadar maupun tidak sadar) memilih untuk berbohong sebagai upaya untuk menghindari hukuman. 

4. Stres dan mudah cemas

Survei yang dilakukan oleh Center for Collegiate Mental Health Pennsylvania State University di AS, dilansir dalam The Mercury News menunjukan bahwa ganguan cemas atau ansietas merupakan masalah kesehatan jiwa utama yang dialami oleh mahasiswa. Dari survei yang dilakukan terhadap seratus ribu mahasiswa, 55 persen mahasiswa menginginkan konseling tentang gejala kecemasan, 45 persen soal depresi, dan 43 persen soal stres.

Ternyata, salah satu faktor penyebabnya adalah pola asuh orangtua berupa pengawasan yang berlebihan terhadap kegiatan akademis dan non-akademis anak. Meskipun anak tidak melakukan kesalahan apa pun, diawasi tanpa henti memang bisa membuat anak jadi cemas karena jadi takut melakukan kesalahan. 

Pedoman Sukses Membesarkan Anak dengan Autisme

Bagaimana cara menyeimbangkan batasan dan kebebasan untuk anak?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, pada dasarnya melindungi anak adalah hal yang baik. Namun, terlalu berlebihan dalam melindunginya terbukti memiliki cukup banyak dampak buruk. Maka dari itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak di atas. Orangtua bisa menetapkan batasan-batasan untuk anak sekaligus memberikan kebebasan dalam porsi yang seimbang melalui tips-tips berikut ini.

  • Mendorong anak yang sudah cukup besar untuk lebih mandiri, misalnya pergi ke warung atau sekolah sendiri (tapi Anda diam-diam harus mengikuti dan mengawasinya dari belakang). 
  • Membantu menenangkan anak dalam berbagai situasi negatif.
  • Memberikan kesempatan kepada anak untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
  • Mendorong potensi dan kemampuan anak dengan mendukung anak melakukan hal-hal positif yang disukainya, meskipun itu berarti anak harus pulang lebih sore karena ikut kursus.
  • Memberikan pengertian bahwa kegagalan merupakan hal yang harus dihadapi dan dijadikan pelajaran.
  • Membangun komunikasi yang baik, salah satunya dengan cara mendengarkan cerita anak.
  • Bersikap tegas ketika anak melewati batas-batas yang sudah ditetapkan, misalnya pulang larut malam tanpa mengabari terlebih dulu.
  • Percaya kepada anak. Anda sendiri harus belajar menenangkan diri dan lebih percaya pada kedewasaan anak supaya ia bisa berkembang dengan baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22/06/2020 . 8 menit baca

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/06/2020 . 6 menit baca

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . 5 menit baca

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 7 menit baca
ruam susu bayi

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 4 menit baca
pelukan bayi perkembangan bayi 14 minggu perkembangan bayi 3 bulan 2 minggu

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 4 menit baca