Sudah Pakai Metode Time-Out, Tapi Si Kecil Makin Berulah. Apa yang Salah?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum.

Mendisiplinkan anak tentu tidak mudah bagi sebagian besar orangtua. Bahkan, mencoba cara mendisiplinkan anak dengan metode time-out yang jauh dari “main tangan”. Namun, tetap juga tidak berhasil. Justru, anak malah semakin berulah bukannya jera atas kesalahannya. Kenapa demikian?

Kenapa ortu sering gagal saat pakai metode time out?

Menghukum anak dengan memberikan pukulan, bukanlah cara yang terbaik. Memukul anak dan berteriak kepadanya akan memperkeruh suasana dan akan berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

Anak yang sering dihukum dengan pukulan cenderung lebih agresif, memiliki depresi, merasa cemas dan tertekan. Itulah banyak orangtua yang memilih mendisiplinkan anak dengan metode time-out. Sebenarnya, apa itu metode time out?

Time-out adalah cara mendisiplinkan anak dengan waktu bagi anak untuk merenungkan kesalahannya sehingga tidak berbuat hal yang sama di kemudian hari. Contohnya, menyuruh anak untuk berdiam diri di kamar saat ia melakukan kesalahan.

Namun dalam mempraktikkannya, banyak orangtua yang tidak berhasil. Menurut sebuah penelitian dari Oregon Health and Science University di Portland menunjukkan 85 persen orangtua melakukan kesalahan dalam menerapkan metode time out sebagai cara mendisiplinkan anak.

Kesalahan orangtua dalam mendisiplinkan anak dengan metode time-out

Berikut beberapa kesalahan orangtua dalam menerapkan metode time-out untuk mendisiplinkan anak, seperti:

1. Terlalu sering menggunakan metode time-out

anak keras kepala

Jika Anda menerapkan metode ini tapi tidak berhasil, kemungkinan Anda terlalu sering menggunakan metode ini untuk menghukum anak. Perlu Anda ketahui bahwa metode ini jangan digunakan sesering mungkin karena akan hilang keefektifannya.

Pertimbangkan untuk menggunakan teknik mendisiplinkan anak yang berbeda-beda. Jadikan time-out sebagai pilihan terakhir untuk menghukum anak sekaligus mengatasi kemarahan Anda yang meluap-luap.

2. Memberi perhatian saat time-out berlangsung

anak tantrum manfaat

Saat Anda mendisiplinkan anak dengan metode time-out, wajar jika anak menangis atau merengek untuk dimaafkan. Ini adalah cara anak untuk mendapatkan hati orangtua yang kecewa atau marah padanya. Nah, pada momen ini orangtua sering kali luluh sehingga hukuman jadi tidak efektif.

Seharusnya Anda tidak goyah dengan hal tersebut. Jadi, biarkan anak merenungkan kesalahannya beberapa saat. Supaya memberi penekanan pada anak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama jika tidak ingin dihukum dengan cara yang sama.

3. Menggunakan tempat yang tidak sesuai saat time-out

posisi duduk W pada anak

Menggunakan tempat yang tidak sesuai saat time-out, sering jadi kesalahan orangtua sehingga time-out jadi tidak efektif. Saat Anda menghukum akan di dalam kamar, anak bisa menghabiskan waktu dengan mainan yang ada di kamarnya.

Akibatnya, metode time-out bukan jadi teknik menghukum melainkan waktu bermain bagi anak. Pastikan Anda mencari tempat yang tidak memungkinkan anak untuk bermain, atau ambil mainan yang ada di dalam kamarnya. Buat time-out jadi waktu yang membosankan bagi anak sehingga ia menyesali perbuatannya.

4. Terus menasehatinya setelah time-out

omelan orangtua

Terkadang banyak orangtua yang terus memberikan ‘ceramah’ pada anak setelah menghukumnya. Memberikan nasehat yang tegas setelah boleh saja, tapi sebatas untuk memberi masukan anak sekaligus menunjukkan kembali perhatian Anda.

Jika Anda terus memberi ceramah tanpa henti, suasana akan jadi semakin buruk. Kemungkinan besar anak jadi tidak menyukai sikap Anda ini dan semakin tidak mendengarkan perkataan Anda. Jadi, setelah time-out selesai, biarkan akan kembali beraktivitas kembali seperti biasanya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca