Apa yang Terjadi Jika Anak Dibesarkan Tanpa Ayah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 04/06/2020 . 9 menit baca
Bagikan sekarang

Memiliki sosok orangtua yang lengkap sudah pasti menjadi dambaan dan kebutuhan semua anak. Faktanya, tidak semua anak bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang dari kedua orangtua. Ada sebagian anak yang harus dibesarkan tanpa ayah. Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi psikologis anak tanpa ayah, dan bagaimana cara mengatasinya?

Kondisi yang mungkin terjadi pada anak dibesarkan tanpa ayah

Idealnya, anak memang dibesarkan oleh dua orangtua, ibu dan ayah. Terdapat perbedaan fungsi peran ibu dan ayah dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak. Maka itu, tak heran jika seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah mungkin mengalami kesulitan dalam proses pertumbuhannya. Beberapa masalah yang mungkin dihadapi anak adalah:

  • Merasa tidak aman

Dilansir dari Psychology Today, seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah berpotensi merasa ditinggal, tidak diharapkan, dan perasaan-perasan sejenis lainnya. Bahkan, anak yang tumbuh dengan kasih sayang seorang ayah sering kali merasa khawatir dengan dirinya sendiri.

Belum lagi, anak mungkin tidak bisa mengontrol emosi yang dimiliki, khususnya terhadap diri sendiri. Tak jarang, anak merasa bahwa diri mereka alasan mengapa sang ayah meninggalkannya. Dengan kata lain, anak yang dibesarkan tanpa ayah sering kali menyalahkan diri sendiri dari kondisi yang dialaminya.

  • Sulit menyesuaikan diri

Selain itu, anak yang dibesarkan tanpa ayah sering kali memiliki masalah dalam sikap dan perilaku. Anak kerap sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bahkan, tak jarang anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah melakukan bullying kepada teman.

Mengapa? Bullying atau perilaku intimidatif digunakan oleh anak yang dibesarkan tanpa ayah untuk menyembunyikan perasaan takut, gugup, dan tidak bahagia karena dibesarkan tanpa sosok ayah.

Parahnya, seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah memiliki kemungkinan untuk melakukan tindak kriminalitas saat usianya dewasa. Sebagai contoh, penyalahgunaan obat, penyalahgunaan alkohol, dan tindak kriminal lainnya.

  • Gangguan kemampuan akademis

Rupanya, dampak dari seorang anak yang dibesarkan tanpa sosok ayah juga bisa memengaruhi kemampuan akademisnya. Anak memiliki kecenderungan untuk putus sekolah saat SMA jika dibesarkan tanpa ayah.

Sementara itu, efek lain terhadap kemampuan akademis anak juga terlihat dari masalah yang dihadapi anak dalam kegiatan belajar. Sebagai contoh, anak kesulitan berhitung dan membaca saat masih duduk di bangku SD. Bahkan, ada kecenderungan bagi anak untuk tidak dapat memenuhi tuntutan akademis dan kualifikasi profesional ketika beranjak dewasa.

  • Masalah kesehatan seksual

Seorang anak, khususnya perempuan, yang dibesarkan tanpa sosok ayah, memiliki potensi untuk mengalami masalah kesehatan seksual. Hal ini termasuk kemungkinan anak melakukan hubungan seksual sebelum berusia 16 tahun.

Bahkan, anak perempuan yang dibesarkan tanpa sosok ayah mungkin terlalu berani untuk melakukan hubungan seks tanpa pengaman. Dengan begitu, anak memiliki potensi lebih besar untuk tertular penyakit kelamin.

Tidak hanya itu, anak perempuan yang dibesarkan tanpa sosok ayah berpotensi untuk menjadi orangtua saat masih remaja, hingga bahan eksploitasi bagi laki-laki di kemudian hari.

  • Rentan eksploitasi dan pelecehan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anak yang dibesarkan tanpa ayah memang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita masalah pelecehan. Tidak hanya pelecehan fisik, anak mungkin mengalami pelecehan emosional maupun seksual.

Dibandingkan anak yang dibesarkan oleh kedua orangtua, anak yang tumbuh tanpa sosok seorang ayah mungkin mengalami masalah psikologis. Hal ini berdampak pada risiko yang lima kali lebih besar untuk mengalami kekerasan fisik dan emosional.

Bahkan, anak pada usia 3-5 tahun yang tidak tinggal dengan orangtua kandung memiliki kemungkinan untuk mengalami kekerasan seksual 40 kali lebih besar dibanding dengan anak yang tinggal dengan kedua orangtuanya.

  • Kemungkinan gangguan kesehatan fisik dan mental

Absennya sosok seorang ayah dalam tumbuh kembang seorang anak rupanya memiliki pengaruh terhadap kesehatan anak. Tidak hanya kesehatan fisik, anak yang dibesarkan tanpa ayah mungkin mengalami gangguan psikologis.

Kesehatan fisik yang mungkin dialami anak adalah asma, sakit kepala, hingga sakit pada bagian perut. Bahkan, ada kemungkinan anak mengalami rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Kondisi ini berhubungan dengan gangguan psikosomatik, di mana beberapa penyakit muncul karena kondisi fisik dan mental.

Sementara itu, gangguan psikologis yang mungkin dialami oleh seorang anak yang tumbuh tanpa seorang ayah termasuk gangguan kecemasan, depresi, dan kecenderungan untuk bunuh diri.

  • Bermasalah dengan tanggung jawab

Saat dewasa, anak yang dibesarkan tanpa ayah cenderung menjadi pengangguran, memiliki pendapatan rendah, bahkan tidak memiliki tempat tinggal atau homeless.

Bahkan, 90% anak yang lari dari rumah dan tinggal di jalan atau penampungan biasanya tidak memiliki ayah. Hubungan dengan lawan jenis juga terganggu, cenderung lebih besar kemungkinan untuk bercerai atau memiliki anak di luar pernikahan.

Hal ini menekankan pentingnya sosok ayah terutama selama masa pertumbuhan sel dan saraf di otak anak. Pasalnya, ketidakhadiran ayah dapat memicu terjadinya gangguan dalam perilaku sosial dan kondisi ini dapat bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Cara membesarkan anak dengan baik tanpa sosok ayah

Membesarkan seorang anak tanpa sosok ayah mungkin bukan kondisi yang ideal. Namun, jika kondisi ini harus Anda jalani sebagai orangtua, bukan berarti tak mungkin Anda bisa “sukses” membesarkannya seorang diri. Ya, ada beberapa cara yang harus Anda perhatikan sebagai kunci sukses membesarkan seorang anak tanpa sosok ayah.

1. Cari pengganti sosok ayah untuk anak Anda

Seorang anak, khususnya anak perempuan, membutuhkan sosok laki-laki yang dilihatnya sebagai seorang ayah di dalam hidupnya. Sosok ini diharapkan adalah laki-laki yang baik dan bisa memberikan contoh untuknya. Jika ayah biologis atau ayah kandungnya tidak bisa memberikan sosok positif untuk anak, Anda bisa mencari sosok lain.

Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan ayah Anda, atau kakek dari anak, untuk menjadi pengganti sosok ayah. Hal yang terpenting adalah sosok ini bisa menjadi teladan bagi Anda dan anak.

2. Ciptakan lingkungan yang baik untuk anak

Meski anak dibesarkan tanpa sosok ayah, bukan berarti anak Anda harus mengalami gangguan psikologis atau gangguan perilaku. Salah satu hal yang bisa Anda lakukan untuk membuatnya tumbuh sebagai anak yang baik adalah membesarkannya di lingkungan yang juga baik.

Kelilingi anak yang tumbuh tanpa ayah dengan orang-orang yang baik, misalnya anggota keluarga yang sayang dengan anak Anda, atau teman-teman Anda yang juga bisa menjadi teladan untuk anak. Jika Anda berteman dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk dan tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk anak, Anda mungkin harus berpikir dua kali mengenai pertemanan itu.

Hal ini tentu penting demi tumbuh kembang anak Anda. Apalagi jika kehadiran teman-teman Anda memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap diri Anda sendiri. Anak tentu memandang Anda sebagai satu-satunya contoh, sehingga pilihlah teman-teman yang juga bisa memberikan pengaruh baik pada hidup Anda.

3. Kenali teman-teman anak

Sebagai satu-satunya orangtua bagi anak, Anda juga perlu mencari tahu siapa saja teman-teman anak. Apalagi, saat berada di sekolah atau di luar pengawasan orangtua, anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman. Tak heran jika sedikit besar kehadiran teman-teman anak memiliki pengaruh terhadap tumbuh kembangnya.

Teman yang baik tentu bisa memberikan contoh yang baik dan batasan dalam bergaul. Maka itu, anak yang dibesarkan tanpa sosok ayah juga perlu tahu bahwa batasan-batasan tersebut juga penting untuk dimiliki antara dirinya dengan lawan jenis manapun, bukan hanya pada teman.

4. Bantu anak meningkatkan rasa percaya diri

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung memiliki masalah psikologis. Salah satunya adalah anak merasa tidak berarti, dan hal ini dapat mengancam rasa percaya diri yang dimilikinya.

Oleh sebab itu, bantu anak untuk meningkatkan rasa percaya diri. Perasaan ini penting untuk bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan. Justru, semakin anak tidak memiliki rasa percaya diri, ia akan semakin berusaha melakukan pembuktian-pembuktian tapi dengan cara yang salah.

Carikan aktivitas yang berpotensi meningkatkan rasa percaya diri anak yang dibesarkan tanpa ayah ini. Sebagai contoh, klub di sekolah, kegiatan olahraga bersama teman, atau aktivitas yang sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh anak.

5. Dengarkan anak setiap kali ia marah

Anda mungkin merasa kesal saat anak marah-marah dan tidak bersikap baik. Namun, salah satu hal yang perlu Anda lakukan adalah mendengarkan semua amarahnya. Pasalnya, saat itu anak sedang berusaha membuka dirinya terhadap Anda.

Saat anak yang dibesarkan tanpa ayah menuangkan emosinya di hadapan Anda, anak telah menganggap bahwa Anda adalah tempat yang aman untuk berbagi rasa yang dimilikinya. Maka itu, pastikan bahwa Anda dengan komunikasi yang baik yang terjadi dengan anak, absennya sosok seorang ayah dalam kehidupan anak bisa diatasi dengan baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Tips ini akan membantu Anda menerapkan kebiasaan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Yuk, cari tahu apa saja caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Parenting, Tips Parenting 16/06/2020 . 5 menit baca

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 menit baca

Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

Tak hanya wanita yang harus memerhatikan perubahan pada dirinya. Sebagai suami Anda juga harus peka melihat tanda istri hamil dan segera mempersiapkan diri.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat 13/06/2020 . 6 menit baca

Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

Kemarahakn yang muncul dari anak tanpa diketahui alasannya kerap membuat Anda jengah. Begini cara menghadapi ledakan amarah anak dengan baik.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Parenting, Tips Parenting 06/06/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 9 menit baca

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 7 menit baca
kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca