home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Anak Remaja Anda Mulai Pacaran? Berikut Cara Bijak Menghadapinya

Anak Remaja Anda Mulai Pacaran? Berikut Cara Bijak Menghadapinya

Sebagai orangtua, Anda mungkin khawatir ketika mengetahui anak sudah mulai berpacaran. Orangtua biasanya memikirkan dampak buruk yang muncul saat anak tertarik dengan lawan jenis. Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua saat anak mulai pacaran? Simak penjelasan lengkap soal pacaran pada anak remaja di bawah ini.

Sebenarnya, kapan anak sudah boleh pacaran?

Pada masa pubertas, yaitu usia 11 sampai 20 tahun, rasa suka atau tertarik dengan lawan jenis sudah mulai bisa dirasakan oleh remaja. Hal ini terjadi karena hormon seksual atau reproduksinya meningkat.

Jika anak Anda mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenisnya, hal tersebut sangatlah normal dan hampir pasti terjadi tahap perkembangan remaja.

Masa remaja adalah masa di mana anak memiliki rasa penasaran yang tinggi, terutama mengenai perasaan dan lawan jenis di sekitarnya.

Namun, usia anak sebenarnya tidak bisa menjadi tolak ukur yang tepat untuk menentukan kapan boleh mulai pacaran. Masalahnya, kadang usia tidak benar-benar menggambarkan kedewasaan anak.

Hal yang bisa dijadikan contoh adalah remaja berusia 15 tahun bisa saja jauh lebih dewasa daripada kakaknya yang berusia 18 tahun.

Sementara untuk mulai pacaran, perkembangan psikologis, kematangan mental, dan kedewasaan justru menjadi kunci untuk membangun hubungan romantis dengan orang lain secara sehat dan bertanggung jawab.

Lalu bagaimana cara menilai kedewasaan dan kematangan mental anak Anda? Anda bisa melihatnya dari perilaku dan kebiasaan anak sehari-hari.

Misalnya, apakah anak bisa diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanggung jawabnya?

Tanggung jawab tersebut bisa sesederhana membereskan kamarnya sendiri dan membantu adiknya belajar. Bisa juga dilihat dari hal-hal besar seperti mempertahankan nilai baiknya di sekolah serta absensi yang baik.

Anda juga bisa menilai kesiapan anak atau remaja untuk pacaran dengan melihat cara ia berkomunikasi, apakah sudah efektif atau belum. Salah satunya misal apakah anak sering berbohong atau tidak.

Jika anak kedapatan masih sering berbohong, artinya ia belum memahami betul bagaimana komunikasi antar dua orang itu dibangun.

Padahal dalam sebuah hubungan, komunikasi yang jujur dan terbuka sangatlah penting.

Menurut para ahli, ini usia yang tepat untuk anak pacaran

Meskipun usia sebenarnya tidak bisa dijadikan tolak ukur kesiapan pacaran, para ahli punya saran kapan kira-kira anak boleh pacaran.

Dikutip dari Healthy Children, ada perbedaan umur yag bisa terlihat ketika anak atau remaja ingin mulai pacaran. Anak perempuan biasanya di usia 12,5 tahun sedangkan anak laki-laki berada di usia 13 tahun.

Namun, hal ini tidak seperti yang dipikirkan orangtua. Pada usia ini, remaja lebih suka pergi berkelompok karena merasa lebih aman dan tidak canggung.

Tidak hanya itu saja, mereka juga menikmati waktu kebersamaan satu sama lain.

Menurut dokter anak dari Denver Health Medical Center di Amerika Serikat (AS), dr. Ron Eagar, biasanya perkembangan psikologi remaja dan kedewasaannya sudah cukup baik pada usia 16 tahun.

Angka tersebut tentu bukanlah patokan yang harus diberlakukan pada setiap anak remaja untuk mulai pacaran.

Namun, menurut Dr. Ron Eagar, usia ini tergolong paling ideal bagi remaja untuk mulai jalan berduaan dengan pasangan.

Hal ini karena ia telah memiliki keberanian juga rasa aman yang sebelumnya belum dirasakan.

Pesan yang serupa juga disampaikan oleh seorang psikolog klinis asal AS Leslie Beth Wish. Leslie percaya bahwa anak berusia 15 sampai 16 tahun biasanya sudah mulai dekat dengan lawan jenis dan hal ini lumrah saja.

Akan tetapi, anak remaja mungkin baru benar-benar siap untuk menjalin hubungan romantis atau pacaran setelah menginjak usia 16 tahun.

Namun, ini semua kembali lagi pada keputusan dan penilaian Anda sendiri sebagai orangtua.

Apa yang harus dilakukan orangtua saat anak mulai pacaran?

Saat anak remaja Anda mulai pacaran, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:

Mendampingi, bukan melarang

Penting untuk diingat bahwa anak remaja yang mulai pacaran jangan dilarang, tetapi justru didampingi dan diberi arahan yang benar. Ajak anak bicara dari hati ke hati untuk mengetahui konsep pacaran yang sehat.

Mengapa demikian? Terlalu mengekang justru membuat anak merasa asing dan semakin menjaga jarak dari Anda.

Lebih buruknya lagi, ada kemungkinan anak cenderung akan menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi, alias backstreet. Hal ini malah akan mempersulit Anda untuk memantau dan membimbingnya.

Arahan dari orangtua penting agar anak remaja Anda yang sudah mulai pacaran tetap bisa bertanggung jawab atas dirinya termasuk salah satunya prestasinya di sekolah.

Anda bisa memberi pengertian bahwa pacaran yang baik adalah yang bisa saling memberi motivasi.

Anda juga bisa memberi tahu anak bagaimana bersikap menghargai dan menghormati lawan jenisnya.

Oleh karenanya, jadilah orangtua yang bisa dijadikan tempat curhat anak. Jangan menghakimi atau justru memarahinya ketika ia justru bercerita bahwa ia sudah memiliki pacar.

Setelah mendengarkan ceritanya, beri tahu secara jujur mengenai pendapat dan apa yang Anda rasakan. Anda juga bisa memberi aturan dan batasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pacaran.

Ketika membangun suasana yang positif dan terbuka, anak akan menghargai kekhawatiran Anda. Lebih baiknya lagi, ada kemungkinan anak akan mempertimbangkan aturan dan batasan yang diberikan.

Sebagai contoh, “Kakak boleh aja dekat sama si A, tapi Bunda minta prestasi kakak di sekolah jangan sampai turun karena keasyikan pacaran ya.”

“Kalau sampai turun karena itu, Bunda akan tegas untuk tidak membolehkan Kakak pacaran dulu sampai Kakak bisa bertanggung jawab sama diri dan omongan Kakak, oke?”

Memberikan edukasi seks

Hal penting lain yang perlu dilakukan saat anak remaja Anda pacaran adalah memberikan pendidikan seksual.

Pendidikan seksual atau edukasi seks membantu anak mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan lawan jenis.

Pasalnya di usia remaja, rasa ingin tahunya sangat besar sehingga tak jarang ingin mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya, termasuk aktivitas seksual.

Paparan tontonan di media sosial bisa memperbesar keingintahuannya akan aktivitas seksual tertentu, seperti berpelukan, berciuman, hingga berhubungan badan.

Jelaskan padanya risiko yang bisa muncul saat ia melakukan aktivitas seksual dengan pacarnya, mulai dari tertular penyakit kelamin hingga hamil di luar nikah.

Oleh karena itu, edukasi seks penting diberikan sebagai panduan anak bersikap saat pacaran. Dengan begitu, diharapkan anak tidak terjerumus hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Menjelaskan konsekuensinya

Anak mungkin tidak mengetahui bahwa menjalin hubungan dengan orang lain adalah sesuatu yang kompleks. Wajar, ketika sedang kasmaran, yang ia tahu pacaran adalah hal yang menyenangkan.

Nah, tugas Anda sebagai orangtua adalah menjelaskan bahwa pacaran tak selamanya mulus. Ada kalanya pacaran bisa saja tidak berjalan dengan baik.

Selain perihal patah hati, Anda juga perlu memberitahu tanda-tanda apabila terjadi hubungan yang tidak sehat serta mengarah pada kekerasan.

Berikut beberapa hal yang bisa Anda jelaskan kepada anak remaja mengenai ciri pacaran yang tidak sehat:

  • Pasangan mengontrol kehidupannya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
  • Tidak menghormati serta keluar dari batasan.
  • Mengintimidasi juga mengendalikan pasangan.
  • Terlalu ketergantungan.
  • Tidak mempunyai sikap yang sopan terhadap orangtua.
  • Terlibat dalam kekerasan fisik maupun seksual

Selain itu, jelaskan juga bahwa ketika ia pacaran, ia tetap harus bisa membagi waktu, mana untuk keluarga, teman, dan belajar.

Dari berbagai hal yang sudah Anda jelaskan, biarkan anak mengambil keputusan apakah saat ini pacaran adalah pilihan yang tepat atau tidak.

Tugas Anda sebagai orang tua adalah dengan mengawasi serta membimbing anak remaja jika dia memang memutuskan untuk pacaran.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

When To Let Your Teenager Start Dating. (2020). Retrieved 13 July 2020, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/teen/dating-sex/Pages/When-To-Let-Your-Teenager-Start-Dating.aspx

When Should Your Teenager Start Dating?. (2017). Retrieved 13 July 2020, from https://www.lifehack.org/526968/when-should-your-teenager-start-dating

Teenage Dating and Romantic Relationships Risks. (2018). Retrieved 13 July 2020, from https://www.hhs.gov/ash/oah/adolescent-development/healthy-relationships/dating/teenage-dating/index.html

Teen Dating Violence: A Closer Look at Adolescent Romantic Relationships. (2020). Retrieved 13 July 2020, from https://nij.ojp.gov/topics/articles/teen-dating-violence-closer-look-adolescent-romantic-relationships

Setting Rules with Teens. (2020). Retrieved 13 July 2020, from https://www.childwelfare.gov/pubPDFs/ch_three_rules.pdf

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Tanggal diperbarui seminggu yang lalu
x