Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apa yang Terjadi Jika Anak Dibesarkan Tanpa Ayah?

Apa yang Terjadi Jika Anak Dibesarkan Tanpa Ayah?

Memiliki sosok orangtua yang lengkap sudah pasti menjadi dambaan dan kebutuhan semua anak. Faktanya, tidak semua anak bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang dari kedua orangtua. Ada sebagian anak yang harus dibesarkan tanpa ayah. Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi psikologis anak tanpa ayah, dan bagaimana cara mengatasinya?

Kondisi yang mungkin terjadi pada anak dibesarkan tanpa ayah

Idealnya, anak memang dibesarkan oleh dua orangtua, ibu dan ayah. Terdapat perbedaan fungsi peran ibu dan ayah dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak. Maka itu, tak heran jika seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah mungkin mengalami kesulitan dalam proses pertumbuhannya. Beberapa masalah yang mungkin dihadapi anak adalah:

  • Merasa tidak aman

Dilansir dari Psychology Today, seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah berpotensi merasa ditinggal, tidak diharapkan, dan perasaan-perasan sejenis lainnya. Bahkan, anak yang tumbuh dengan kasih sayang seorang ayah sering kali merasa khawatir dengan dirinya sendiri.

Belum lagi, anak mungkin tidak bisa mengontrol emosi yang dimiliki, khususnya terhadap diri sendiri. Tak jarang, anak merasa bahwa diri mereka alasan mengapa sang ayah meninggalkannya. Dengan kata lain, anak yang dibesarkan tanpa ayah sering kali menyalahkan diri sendiri dari kondisi yang dialaminya.

  • Sulit menyesuaikan diri

Selain itu, anak yang dibesarkan tanpa ayah sering kali memiliki masalah dalam sikap dan perilaku. Anak kerap sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bahkan, tak jarang anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah melakukan bullying kepada teman.

Mengapa? Bullying atau perilaku intimidatif digunakan oleh anak yang dibesarkan tanpa ayah untuk menyembunyikan perasaan takut, gugup, dan tidak bahagia karena dibesarkan tanpa sosok ayah.

Parahnya, seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah memiliki kemungkinan untuk melakukan tindak kriminalitas saat usianya dewasa. Sebagai contoh, penyalahgunaan obat, penyalahgunaan alkohol, dan tindak kriminal lainnya.

  • Gangguan kemampuan akademis

Rupanya, dampak dari seorang anak yang dibesarkan tanpa sosok ayah juga bisa memengaruhi kemampuan akademisnya. Anak memiliki kecenderungan untuk putus sekolah saat SMA jika dibesarkan tanpa ayah.

Sementara itu, efek lain terhadap kemampuan akademis anak juga terlihat dari masalah yang dihadapi anak dalam kegiatan belajar. Sebagai contoh, anak kesulitan berhitung dan membaca saat masih duduk di bangku SD. Bahkan, ada kecenderungan bagi anak untuk tidak dapat memenuhi tuntutan akademis dan kualifikasi profesional ketika beranjak dewasa.

  • Masalah kesehatan seksual

Seorang anak, khususnya perempuan, yang dibesarkan tanpa sosok ayah, memiliki potensi untuk mengalami masalah kesehatan seksual. Hal ini termasuk kemungkinan anak melakukan hubungan seksual sebelum berusia 16 tahun.

Bahkan, anak perempuan yang dibesarkan tanpa sosok ayah mungkin terlalu berani untuk melakukan hubungan seks tanpa pengaman. Dengan begitu, anak memiliki potensi lebih besar untuk tertular penyakit kelamin.

Tidak hanya itu, anak perempuan yang dibesarkan tanpa sosok ayah berpotensi untuk menjadi orangtua saat masih remaja, hingga bahan eksploitasi bagi laki-laki di kemudian hari.

  • Rentan eksploitasi dan pelecehan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anak yang dibesarkan tanpa ayah memang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita masalah pelecehan. Tidak hanya pelecehan fisik, anak mungkin mengalami pelecehan emosional maupun seksual.

Dibandingkan anak yang dibesarkan oleh kedua orangtua, anak yang tumbuh tanpa sosok seorang ayah mungkin mengalami masalah psikologis. Hal ini berdampak pada risiko yang lima kali lebih besar untuk mengalami kekerasan fisik dan emosional.

Bahkan, anak pada usia 3-5 tahun yang tidak tinggal dengan orangtua kandung memiliki kemungkinan untuk mengalami kekerasan seksual 40 kali lebih besar dibanding dengan anak yang tinggal dengan kedua orangtuanya.

  • Kemungkinan gangguan kesehatan fisik dan mental

Absennya sosok seorang ayah dalam tumbuh kembang seorang anak rupanya memiliki pengaruh terhadap kesehatan anak. Tidak hanya kesehatan fisik, anak yang dibesarkan tanpa ayah mungkin mengalami gangguan psikologis.

Kesehatan fisik yang mungkin dialami anak adalah asma, sakit kepala, hingga sakit pada bagian perut. Bahkan, ada kemungkinan anak mengalami rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Kondisi ini berhubungan dengan gangguan psikosomatik, di mana beberapa penyakit muncul karena kondisi fisik dan mental.

Sementara itu, gangguan psikologis yang mungkin dialami oleh seorang anak yang tumbuh tanpa seorang ayah termasuk gangguan kecemasan, depresi, dan kecenderungan untuk bunuh diri.

  • Bermasalah dengan tanggung jawab

Saat dewasa, anak yang dibesarkan tanpa ayah cenderung menjadi pengangguran, memiliki pendapatan rendah, bahkan tidak memiliki tempat tinggal atau homeless.

Bahkan, 90% anak yang lari dari rumah dan tinggal di jalan atau penampungan biasanya tidak memiliki ayah. Hubungan dengan lawan jenis juga terganggu, cenderung lebih besar kemungkinan untuk bercerai atau memiliki anak di luar pernikahan.

Hal ini menekankan pentingnya sosok ayah terutama selama masa pertumbuhan sel dan saraf di otak anak. Pasalnya, ketidakhadiran ayah dapat memicu terjadinya gangguan dalam perilaku sosial dan kondisi ini dapat bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Cara membesarkan anak dengan baik tanpa sosok ayah

Membesarkan seorang anak tanpa sosok ayah mungkin bukan kondisi yang ideal. Namun, jika kondisi ini harus Anda jalani sebagai orangtua, bukan berarti tak mungkin Anda bisa “sukses” membesarkannya seorang diri. Ya, ada beberapa cara yang harus Anda perhatikan sebagai kunci sukses membesarkan seorang anak tanpa sosok ayah.

1. Cari pengganti sosok ayah untuk anak Anda

Seorang anak, khususnya anak perempuan, membutuhkan sosok laki-laki yang dilihatnya sebagai seorang ayah di dalam hidupnya. Sosok ini diharapkan adalah laki-laki yang baik dan bisa memberikan contoh untuknya. Jika ayah biologis atau ayah kandungnya tidak bisa memberikan sosok positif untuk anak, Anda bisa mencari sosok lain.

Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan ayah Anda, atau kakek dari anak, untuk menjadi pengganti sosok ayah. Hal yang terpenting adalah sosok ini bisa menjadi teladan bagi Anda dan anak.

2. Ciptakan lingkungan yang baik untuk anak

Meski anak dibesarkan tanpa sosok ayah, bukan berarti anak Anda harus mengalami gangguan psikologis atau gangguan perilaku. Salah satu hal yang bisa Anda lakukan untuk membuatnya tumbuh sebagai anak yang baik adalah membesarkannya di lingkungan yang juga baik.

Kelilingi anak yang tumbuh tanpa ayah dengan orang-orang yang baik, misalnya anggota keluarga yang sayang dengan anak Anda, atau teman-teman Anda yang juga bisa menjadi teladan untuk anak. Jika Anda berteman dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk dan tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk anak, Anda mungkin harus berpikir dua kali mengenai pertemanan itu.

Hal ini tentu penting demi tumbuh kembang anak Anda. Apalagi jika kehadiran teman-teman Anda memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap diri Anda sendiri. Anak tentu memandang Anda sebagai satu-satunya contoh, sehingga pilihlah teman-teman yang juga bisa memberikan pengaruh baik pada hidup Anda.

3. Kenali teman-teman anak

Sebagai satu-satunya orangtua bagi anak, Anda juga perlu mencari tahu siapa saja teman-teman anak. Apalagi, saat berada di sekolah atau di luar pengawasan orangtua, anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman. Tak heran jika sedikit besar kehadiran teman-teman anak memiliki pengaruh terhadap tumbuh kembangnya.

Teman yang baik tentu bisa memberikan contoh yang baik dan batasan dalam bergaul. Maka itu, anak yang dibesarkan tanpa sosok ayah juga perlu tahu bahwa batasan-batasan tersebut juga penting untuk dimiliki antara dirinya dengan lawan jenis manapun, bukan hanya pada teman.

4. Bantu anak meningkatkan rasa percaya diri

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung memiliki masalah psikologis. Salah satunya adalah anak merasa tidak berarti, dan hal ini dapat mengancam rasa percaya diri yang dimilikinya.

Oleh sebab itu, bantu anak untuk meningkatkan rasa percaya diri. Perasaan ini penting untuk bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan. Justru, semakin anak tidak memiliki rasa percaya diri, ia akan semakin berusaha melakukan pembuktian-pembuktian tapi dengan cara yang salah.

Carikan aktivitas yang berpotensi meningkatkan rasa percaya diri anak yang dibesarkan tanpa ayah ini. Sebagai contoh, klub di sekolah, kegiatan olahraga bersama teman, atau aktivitas yang sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh anak.

5. Dengarkan anak setiap kali ia marah

Anda mungkin merasa kesal saat anak marah-marah dan tidak bersikap baik. Namun, salah satu hal yang perlu Anda lakukan adalah mendengarkan semua amarahnya. Pasalnya, saat itu anak sedang berusaha membuka dirinya terhadap Anda.

Saat anak yang dibesarkan tanpa ayah menuangkan emosinya di hadapan Anda, anak telah menganggap bahwa Anda adalah tempat yang aman untuk berbagi rasa yang dimilikinya. Maka itu, pastikan bahwa Anda dengan komunikasi yang baik yang terjadi dengan anak, absennya sosok seorang ayah dalam kehidupan anak bisa diatasi dengan baik.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kruk, E. (2012). Father Absence, Father Deficit, Father Hunger; The Vital Importance of Paternal Presence in Children’s Lives. Retrieved 16 April 2020, from https://www.psychologytoday.com/blog/co-parenting-after-divorce/201205/father-absence-father-deficit-father-hunger

Spencer, B. (2013). Growing up without a father can permanently alter the BRAIN: Fatherless children are more likely to grow up angry and turn to drugs. Retrieved 16 April 2020, from http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2518247/Growing-father-permanently-alter-BRAIN-Fatherless-children-likely-grow-angry-turn-drugs.html

Parker, W. (2020). 10 Keys of Raising a Girl Without a Father in Her Life. Retrieved 16 April 2020, from https://www.verywellfamily.com/tips-for-raising-a-girl-without-a-father-in-her-life-4126769

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 13/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan