home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sang Kakak dan Adik Bertengkar? Ini yang Harus Orangtua Lakukan

Sang Kakak dan Adik Bertengkar? Ini yang Harus Orangtua Lakukan

Semua orangtua tentu mengharapkan buah hatinya dapat hidup dengan rukun. Namun, kenyataannya banyak orangtua yang kewalahan menghadapi anak-anaknya yang sering berantem. Agar kakak adik tidak bertengkar lagi, apa yang harus dilakukan orangtua? Haruskah mereka dimarahi dan dihukum supaya akur lagi? Cari tahu jawabannya berikut ini.

Kenapa adik kakak sering bertengkar?

Sungguh senang bukan melihat kakak adik yang hidup rukun? Mereka bermain bersama, makan bersama, dan mengerjakan pekerjaan rumah juga bersama. Meskipun dibesarkan dalam lingkungan yang sama, tidak semua anak dan saudaranya dapat hidup dengan rukun.

Anda mungkin sering memergoki mereka saling pukul atau salah satu di antaranya sudah menangis kencang karena berkelahi berebut mainan. Namun, tahukah Anda apa yang membuat anak dan saudaranya berantem?

Melansir dari laman Kids Health, ada beberapa alasan kenapa kakak adik bertengkar, di antaranya:

  • Bagian dari tumbuh berkembang. Seiring bertumbuh besarnya anak, ia semakin memiliki insting untuk melindung apa yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga sedang belajar untuk menegaskan keinginan mereka sehingga cenderung menjadi agresif.
  • Tingkat emosi anak. Suasana hati dan kemampuan beradaptasi memainkan peran besar pada perilaku anak. Contohnya, sang kakak yang merasa iri dengan adiknya yang terlihat lebih disayang. Biasanya, ini rentan dialami kakak adik yang selisih usianya tidak berbeda jauh.
  • Mencontoh orang di lingkungannya. Orangtua yang sering bertengkar membuat anak melakukan hal yang sama untuk menyelesaikan masalah dan perselisihan.

Tips menghadapi anak-anak yang berantem

Hubungan dengan saudara memberi peluang bagi anak untuk membela diri, mengasah kemampuan dan potensi dalam diri, serta bergaul dengan orang lain. Namun, hubungan ini tidak akan selalu berjalan mulus, ada kalanya mereka bersaing dan bertengkar.

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa cara Anda menghadapi anak-anak yang berantem di rumah rupanya bisa memicu mereka bertengkar lebih sering jika keliru? Contohnya, anak yang kurang perhatian orangtua akan menggunakan perkelahian sebagai cara mendapatkan perhatian orangtua.

Bila orangtua tidak mengubah sikapnya, anak akan semakin terpacu untuk membuat masalah. Tidak hanya bertengkar dengan saudaranya, tapi juga dengan teman lainnya di rumah maupun di sekolah.

Supaya tidak salah langkah dalam menghadapi anak-anak yang berantem, ikuti beberapa tipsnya berikut ini.

1. Lihat situasinya, jangan langsung terlibat

anak kurang vitamin kekurangan vitamin pada anak

Saat anak berantem, jangan langsung bergegas melerai anak. Tidak semua pertengkaran berakhir dengan aksi saling pukul, jambak, atau gigit. Ada kalanya, Anda perlu memberi waktu bagi anak untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Namun, bila salah satunya mulai terlihat agresif, keberadaan Anda sangat dibutuhkan sebagai pemisah supaya pertengkaran tidak bertambah parah.

2. Jangan biarkan anak saling berkata kasar

penyebab anak nakal

Saat bertengkar, si kecil mungkin akan beradu mulut, ia bahkan bisa saja mengejek satu sama lain, dengan kata-kata yang kasar.

Keluarnya perkataan yang tidak baik ini bisa memperkeruh suasana dan membuat amarah anak semakin bergejolak.

Ketika hal ini terjadi, fokuslah pada perasaan yang mungkin anak Anda rasakan dibandingkan memarahinya karena menggunakan kata-kata yang kasar. Misalkan Anda mendengar sang adik mengejek sang kakak “jahat” karena tak meminjamkan mainannya. Anda bisa berkata, “Adek bosan ya main sendirian?” dibandingkan memarahinya karena menggunakan kata “jahat”.

Membantu anak mengekspresikan apa yang ia rasakan juga bisa membantu saudaranya untuk mengerti satu sama lain lebih baik. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memang masih sulit untuk memahami sesuatu yang dirasakan oleh orang lain sehingga perlu dibantu dalam menyampaikannya.

Tak hanya itu, menunjukkan bahwa Anda memahami apa yang mereka rasakan juga dapat membuat mereka merasa lebih baik dan tenang.

3. Pisahkan jika anak sudah mulai “main” fisik

Sumber: Freepik

Saat Anda mendapati anak-anak yang berantem mulai melakukan penyerangan fisik, inilah saatnya Anda memisahkan salah satunya dari ruangan tersebut. Biarkan mereka berada di ruangan berbeda hingga mereka tenang.

Setelah suasananya mereda, jangan fokus mencari tahu kesalahan apa yang dilakukan anak. Justru, mintalah sang anak untuk saling memaafkan satu sama lain.

Terapkan metode “win-win solution” sehingga anak harus bekerja sama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tidak mudah memang menghadapi anak-anak yang bertengkar. Namun, cara Anda menghadapinya ternyata berimbas pada perilaku anak di masa depan. Pasalnya, tindakan Anda akan memberi mereka contoh dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Children’s Hospital of Pitsburg. What to Do When Children Fight.  Accessed on September 3rd, 2019.

Kids Health. Sibling Rivalry.  Accessed on September 3rd, 2019.

Very Well Family. How To Cope With Fighting Kids. Accessed on September 3rd, 2019.

 


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 08/10/2019
x