Anak Remaja Anda Mulai Pacaran? Berikut Cara Bijak Menghadapinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Sebagai orangtua, Anda mungkin khawatir ketika mengetahui anak sudah mulai berpacaran. Orangtua biasanya memikirkan dampak buruk yang muncul saat anak tertarik dengan lawan jenis. Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua saat anak mulai pacaran? Simak penjelasan lengkap soal pacaran pada anak remaja di bawah ini.

Sebenarnya, kapan anak sudah boleh pacaran?

Pada masa pubertas, yaitu usia 11 sampai 20 tahun, rasa suka atau tertarik dengan lawan jenis sudah mulai bisa dirasakan oleh remaja. Hal ini terjadi karena hormon seksual atau reproduksinya meningkat.

Jika anak Anda mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenisnya, hal tersebut sangatlah normal dan hampir pasti terjadi tahap perkembangan remaja.

Masa remaja adalah masa di mana anak memiliki rasa penasaran yang tinggi, terutama mengenai perasaan dan lawan jenis di sekitarnya.

Namun, usia anak sebenarnya tidak bisa menjadi tolak ukur yang tepat untuk menentukan kapan boleh mulai pacaran. Masalahnya, kadang usia tidak benar-benar menggambarkan kedewasaan anak.

Hal yang bisa dijadikan contoh adalah remaja berusia 15 tahun bisa saja jauh lebih dewasa daripada kakaknya yang berusia 18 tahun.

Sementara untuk mulai pacaran, perkembangan psikologis, kematangan mental, dan kedewasaan justru menjadi kunci untuk membangun hubungan romantis dengan orang lain secara sehat dan bertanggung jawab.

Lalu bagaimana cara menilai kedewasaan dan kematangan mental anak Anda? Anda bisa melihatnya dari perilaku dan kebiasaan anak sehari-hari.

Misalnya, apakah anak bisa diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanggung jawabnya?

Tanggung jawab tersebut bisa sesederhana membereskan kamarnya sendiri dan membantu adiknya belajar. Bisa juga dilihat dari hal-hal besar seperti mempertahankan nilai baiknya di sekolah serta absensi yang baik.

Anda juga bisa menilai kesiapan anak atau remaja untuk pacaran dengan melihat cara ia berkomunikasi, apakah sudah efektif atau belum. Salah satunya misal apakah anak sering berbohong atau tidak.

Jika anak kedapatan masih sering berbohong, artinya ia belum memahami betul bagaimana komunikasi antar dua orang itu dibangun.

Padahal dalam sebuah hubungan, komunikasi yang jujur dan terbuka sangatlah penting.

Menurut para ahli, ini usia yang tepat untuk anak pacaran

Meskipun usia sebenarnya tidak bisa dijadikan tolak ukur kesiapan pacaran, para ahli punya saran kapan kira-kira anak boleh pacaran.

Dikutip dari Healthy Children, ada perbedaan umur yag bisa terlihat ketika anak atau remaja ingin mulai pacaran. Anak perempuan biasanya di usia 12,5 tahun sedangkan anak laki-laki berada di usia 13 tahun.

Namun, hal ini tidak seperti yang dipikirkan orangtua. Pada usia ini, remaja lebih suka pergi berkelompok karena merasa lebih aman dan tidak canggung.

Tidak hanya itu saja, mereka juga menikmati waktu kebersamaan satu sama lain.

Menurut dokter anak dari Denver Health Medical Center di Amerika Serikat (AS), dr. Ron Eagar, biasanya perkembangan psikologi remaja dan kedewasaannya sudah cukup baik pada usia 16 tahun.

Angka tersebut tentu bukanlah patokan yang harus diberlakukan pada setiap anak remaja untuk mulai pacaran.

Namun, menurut Dr. Ron Eagar, usia ini tergolong paling ideal bagi remaja untuk mulai jalan berduaan dengan pasangan.

Hal ini karena ia telah memiliki keberanian juga rasa aman yang sebelumnya belum dirasakan.

Pesan yang serupa juga disampaikan oleh seorang psikolog klinis asal AS Leslie Beth Wish. Leslie percaya bahwa anak berusia 15 sampai 16 tahun biasanya sudah mulai dekat dengan lawan jenis dan hal ini lumrah saja.

Akan tetapi, anak remaja mungkin baru benar-benar siap untuk menjalin hubungan romantis atau pacaran setelah menginjak usia 16 tahun.

Namun, ini semua kembali lagi pada keputusan dan penilaian Anda sendiri sebagai orangtua.

Apa yang harus dilakukan orangtua saat anak mulai pacaran?

Saat anak remaja Anda mulai pacaran, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:

Mendampingi, bukan melarang

Penting untuk diingat bahwa anak remaja yang mulai pacaran jangan dilarang, tetapi justru didampingi dan diberi arahan yang benar. Ajak anak bicara dari hati ke hati untuk mengetahui konsep pacaran yang sehat.

Mengapa demikian? Terlalu mengekang justru membuat anak merasa asing dan semakin menjaga jarak dari Anda.

Lebih buruknya lagi, ada kemungkinan anak cenderung akan menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi, alias backstreet. Hal ini malah akan mempersulit Anda untuk memantau dan membimbingnya.

Arahan dari orangtua penting agar anak remaja Anda yang sudah mulai pacaran tetap bisa bertanggung jawab atas dirinya termasuk salah satunya prestasinya di sekolah.

Anda bisa memberi pengertian bahwa pacaran yang baik adalah yang bisa saling memberi motivasi.

Anda juga bisa memberi tahu anak bagaimana bersikap menghargai dan menghormati lawan jenisnya.

Oleh karenanya, jadilah orangtua yang bisa dijadikan tempat curhat anak. Jangan menghakimi atau justru memarahinya ketika ia justru bercerita bahwa ia sudah memiliki pacar.

Setelah mendengarkan ceritanya, beri tahu secara jujur mengenai pendapat dan apa yang Anda rasakan. Anda juga bisa memberi aturan dan batasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pacaran.

Ketika membangun suasana yang positif dan terbuka, anak akan menghargai kekhawatiran Anda. Lebih baiknya lagi, ada kemungkinan anak akan mempertimbangkan aturan dan batasan yang diberikan.

Sebagai contoh, “Kakak boleh aja dekat sama si A, tapi Bunda minta prestasi kakak di sekolah jangan sampai turun karena keasyikan pacaran ya.”

“Kalau sampai turun karena itu, Bunda akan tegas untuk tidak membolehkan Kakak pacaran dulu sampai Kakak bisa bertanggung jawab sama diri dan omongan Kakak, oke?”

Memberikan edukasi seks

Hal penting lain yang perlu dilakukan saat anak remaja Anda pacaran adalah memberikan pendidikan seksual.

Pendidikan seksual atau edukasi seks membantu anak mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan lawan jenis.

Pasalnya di usia remaja, rasa ingin tahunya sangat besar sehingga tak jarang ingin mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya, termasuk aktivitas seksual.

Paparan tontonan di media sosial bisa memperbesar keingintahuannya akan aktivitas seksual tertentu, seperti berpelukan, berciuman, hingga berhubungan badan.

Jelaskan padanya risiko yang bisa muncul saat ia melakukan aktivitas seksual dengan pacarnya, mulai dari tertular penyakit kelamin hingga hamil di luar nikah.

Oleh karena itu, edukasi seks penting diberikan sebagai panduan anak bersikap saat pacaran. Dengan begitu, diharapkan anak tidak terjerumus hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Menjelaskan konsekuensinya

Anak mungkin tidak mengetahui bahwa menjalin hubungan dengan orang lain adalah sesuatu yang kompleks. Wajar, ketika sedang kasmaran, yang ia tahu pacaran adalah hal yang menyenangkan.

Nah, tugas Anda sebagai orangtua adalah menjelaskan bahwa pacaran tak selamanya mulus. Ada kalanya pacaran bisa saja tidak berjalan dengan baik.

Selain perihal patah hati, Anda juga perlu memberitahu tanda-tanda apabila terjadi hubungan yang tidak sehat serta mengarah pada kekerasan.

Berikut beberapa hal yang bisa Anda jelaskan kepada anak remaja mengenai ciri pacaran yang tidak sehat:

  • Pasangan mengontrol kehidupannya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
  • Tidak menghormati serta keluar dari batasan.
  • Mengintimidasi juga mengendalikan pasangan.
  • Terlalu ketergantungan.
  • Tidak mempunyai sikap yang sopan terhadap orangtua.
  • Terlibat dalam kekerasan fisik maupun seksual

Selain itu, jelaskan juga bahwa ketika ia pacaran, ia tetap harus bisa membagi waktu, mana untuk keluarga, teman, dan belajar.

Dari berbagai hal yang sudah Anda jelaskan, biarkan anak mengambil keputusan apakah saat ini pacaran adalah pilihan yang tepat atau tidak.

Tugas Anda sebagai orang tua adalah dengan mengawasi serta membimbing anak remaja jika dia memang memutuskan untuk pacaran.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Cara Diet Tanpa Sayur yang Aman untuk Tubuh

Di semua anjuran makanan sehat, selalu saja ada sayur di dalamnya. Bagaimana jika Anda tak suka makan sayur? Berikut ini diet tanpa sayur tapi tetap sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Nutrisi, Hidup Sehat, Tips Sehat 25 November 2020 . Waktu baca 3 menit

6 Khasiat Teh Chamomile yang Baik Bagi Tubuh

Pernahkan Anda mencicipi teh chamomile? Ternyata salah satu teh herbal ini banyak manfaatnya, lho! Simak manfaat teh chamomile bagi kesehatan tubuh.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 25 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Pasangan Anda belum cukup luwes dan percaya diri saat berhubungan intim? Tenang, ini dia berbagai cara merangsang istri yang ampuh dan penuh kehangatan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

6 Penyebab Tubuh Anda Mengeluarkan Kentut

Kentut adalah hal yang normal terjadi. Tapi apa yang jadi penyebab tubuh mengeluarkan kentut? Lalu, kenapa kentut bau dan berbunyi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Fakta Unik 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

akibat sering main hp

4 Jenis Gangguan Kesehatan Akibat Terlalu Sering Bermain Smartphone

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
makanan terbaik untuk kesehatan jiwa

5 Makanan Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Jiwa

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
gingsul, salah satu jenis maloklusi

Fakta Seputar Gigi Gingsul yang Harus Anda Tahu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 6 menit
manfaat bengkoang

Tak Hanya Memutihkan Kulit, Ini 6 Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit