Berapa Lama Aktivitas Fisik yang Dibutuhkan Anak dan Remaja?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Tak seperti zaman Anda masih kecil dahulu, generasi anak-anak dan remaja pada zaman sekarang lebih dekat dengan teknologi. Hal tersebut tentunya baik karena teknologi membuka akses terhadap pengetahuan dan kreativitas. Akan tetapi, ada efek samping dari perkembangan teknologi yang mengintai putra dan putri Anda. Anak dan remaja lebih memilih untuk menghabiskan waktu di depan layar gadget daripada harus bergerak melakukan sesuatu.

BACA JUGA: 5 Pengaruh Buruk Media Elektronik yang Mungkin Terjadi Pada Anak

Jika sewaktu kecil Anda selalu bermain kejar-kejaran atau petak umpet bersama teman-teman di sore hari, saat ini anak dan remaja justru sibuk kejar-kejaran jumlah pengikut (follower) di media sosial atau bermain video game di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas aktivitas fisik anak dan remaja sudah jauh berkurang. Padahal, anak dan remaja harus memenuhi kebutuhan aktivitas fisik tertentu setiap harinya.

Frekuensi aktivitas fisik yang dibutuhkan anak dan remaja

Yang dimaksud dengan aktivitas fisik adalah kegiatan yang membutuhkan energi untuk menggerakkan tubuh dan otot-otot kerangka. Aktivitas fisik tidak sama dengan berolahraga. Olahraga adalah kegiatan terencana, terstruktur, dan berulang dengan tujuan yang spesifik, yaitu untuk melatih aspek kebugaran tertentu. Sementara itu, aktivitas fisik bisa berupa kegiatan apa pun seperti berjalan kaki, bermain, atau membantu orangtua bersih-bersih rumah. Sesuai anjuran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), anak dan remaja yang berusia 5 sampai 17 tahun membutuhkan aktivitas fisik sebagai berikut.  

  • Setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga cukup berat setiap hari
  • Beraktivitas fisik lebih dari 60 menit bisa memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan
  • Melakukan aktivitas fisik yang melibatkan latihan penguatan tulang dan otot setidaknya 3 kali dalam seminggu

Risiko kurang aktivitas fisik

Bergerak dan beraktivitas fisik tentu menguntungkan bagi perkembangan fisik serta psikologi anak. Selain tubuh yang bugar dan pikiran yang segar, anak juga bisa melatih berbagai kemampuan yang bermanfaat dalam hidupnya seperti bersosialisasi, kedisiplinan, dan kepercayaan diri. Namun, jika aktivitas fisik anak Anda tidak cukup, Anda sebaiknya waspada terhadap beberapa risiko yang mungkin timbul berikut ini.

1. Obesitas

Baik anak-anak maupun orang dewasa bisa mengalami obesitas. Obesitas terjadi saat Anda mengonsumsi terlalu banyak kalori tetapi tidak cukup membakar kalori tersebut menjadi energi. Selain itu, terlalu banyak lemak dalam tubuh juga bisa memicu obesitas atau kelebihan berat badan. Dengan beraktivitas fisik, anak Anda bisa mengurangi risiko obesitas baik saat masih kecil maupun saat ia besar nanti. Pasalnya, penelitian membuktikan bahwa orang yang waktu kecil obesitas cenderung mengalami kondisi yang sama ketika beranjak dewasa.  

2. Diabetes tipe 2

Kurang bergerak dan beraktivitas fisik bisa meningkatkan risiko anak terhadap diabetes tipe 2 (kencing manis), terutama jika ada riwayat penyakit tersebut pada keluarga. Dengan beraktivitas fisik, sel otot akan menjadi lebih sensitif terhadap insulin yang bertugas untuk membantu mengendalikan kadar gula dalam tubuh. Di samping itu, aktivitas fisik juga mampu menyeimbangkan kadar glukosa dalam darah.

BACA JUGA: Suntikan dan Pengecekan Gula Darah untuk Penderita Diabetes

3. Pertumbuhan tulang terhambat

Beraktivitas fisik mampu mendorong pertumbuhan dan pembentukan tulang, apalagi di masa muda. Di usia 9 sampai 12 tahun, anak Anda sedang dalam masa emas pertumbuhan tulang. Jika pada saat-saat ini aktivitas fisik anak sangat terbatas, anak akan kehilangan kesempatan untuk menambah massa dan kepadatan tulang. Akibatnya, pertumbuhan tulang anak jadi tidak maksimal. Hati-hati, gangguan pertumbuhan tulang di masa muda berisiko menyebabkan osteopororis di kemudian hari.

4. Depresi dan gangguan kecemasan

Aktivitas fisik anak dan remaja bisa mencegah depresi atau gangguan kecemasan. Ketika bergerak dan beraktivitas, tubuh akan melepaskan berbagai hormon dan sinyal yang mampu menimbulkan rasa senang sekaligus mengurangi persepsi otak terhadap rasa sakit. Rutin beraktivitas fisik akan membiasakan pikiran untuk tetap positif dan tenang. Maka, kalau putra dan putri Anda tidak cukup bergerak, mereka akan jadi lebih rentan terserang depresi dan gangguan kecemasan.

Tips meningkatkan aktivitas fisik anak dan remaja

Meskipun penting, beraktivitas fisik sering dilewatkan begitu saja oleh anak dan remaja. Banyak juga yang salah menganggap bahwa mata pelajaran Penjaskes atau olahraga di sekolah saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan aktivitas fisik anak. Untuk mendorong aktivitas fisik anak dan remaja, orangtua bisa mengusahakan cara cerdas berikut ini.

1. Menjadi teladan bagi anak

Anak tidak akan terbiasa untuk beraktivitas fisik bila Anda sendiri tidak mencontohkannya. Maka, biasakan untuk lebih banyak bergerak daripada beraktivitas secara pasif. Misalnya mencuci kendaraan sendiri daripada minta bantuan asisten rumah tangga atau membawa kendaraan ke tempat pencucian mobil dan motor, beres-beres rumah, rutin berolahraga, atau jalan kaki ke toko di dekat rumah. Anak pun akan belajar bahwa tetap aktif bergerak adalah hal yang sangat penting.

BACA JUGA: 6 Tips Motivasi Diri Supaya Lebih Rajin Berolahraga

2. Merencanakan akhir pekan yang penuh aktivitas

Apabila Anda dan pasangan sibuk sepanjang hari kerja, rencanakan akhir pekan yang aktif bersama keluarga. Daripada selalu menghabiskan akhir pekan untuk menonton film atau bersantai di rumah, ajak anak untuk bergerak misalnya dengan berenang, bersepeda, atau jalan-jalan ke kebun binatang. Kalau anak merasakan sendiri serunya bergerak, ia pun akan semakin terdorong untuk beraktivitas fisik setiap harinya. Selain itu, anak akan merasakan aktivitas fisik sebagai sesuatu yang positif karena dilakukan bersama dengan keluarganya.

3. Memilih aktivitas fisik yang disukai anak

Supaya anak tidak malas atau beralasan saat diajak bergerak, pilih yang kira-kira disukai anak Anda. Ada anak yang tidak suka olahraga yang bersifat kompetitif seperti bulutangkis atau basket. Pasalnya, anak merasa tertekan harus menang. Cari alternatif lain supaya anak tetap beraktivitas tapi tidak terlalu kompetitif, misalnya menari atau memasak.   

4. Menyediakan alat atau sarana penunjang aktivitas fisik

Dorong anak untuk melakukan aktivitas fisik dengan menyediakan mainan dan alat yang mengharuskannya untuk bergerak misalnya sepeda, bola, atau tali skipping. Pada saat yang sama, usahakan untuk menentukan batasan waktu penggunaan gadget atau alat-alat elektronik lainnya seperti televisi dan komputer yang memicu anak untuk bersikap pasif. Anak Anda pun akan terlatih untuk menyeimbangkan kegiatan yang aktif dan pasif setiap hari.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Jenis Pendinginan yang Wajib Dilakukan Setelah Lari

Meluangkan waktu untuk melakukan pendinginan setelah lari bisa menghindari Anda dari risiko cedera. Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Olahraga Kardio, Kebugaran 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Bisa Sakit Kepala Setelah Cabut Gigi?

Apakah Anda mengalami sakit kepala setelah cabut gigi? Mungkin dua alasan ini penyebabnya. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Perawatan Gigi, Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Mengenal Jenis-Jenis Yoga dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Yoga adalah salah satu jenis olahraga yang diminati banyak orang. Tapi, apakah Anda tahu apa saja manfaat yoga untuk kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fitriana Deswika
Latihan Kelenturan, Kebugaran 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Hati-hati! Ini 6 Penyakit Berbahaya yang Disebabkan Oleh Tikus

Tikus terkenal sebagai hewan yang jorok karena bisa menyebabkan penyakit. Berikut adalah beberapa penyakit yang disebabkan oleh tikus yang perlu diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi 24 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

daun mimba

3 Manfaat Daun Mimba (Intaran), Tanaman Obat yang Serba Guna

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
bakteri asam laktat

5 Makanan dan Minuman Sehat yang Mengandung Bakteri Asam Laktat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
tidak tumbuh jenggot dan kumis

Penyebab Kumis dan Jenggot Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
obat sariawan

Benarkah Obat Kumur Bisa Mengobati Sariawan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit