Setelah anak berusia 2 tahun, ini bukan lagi termasuk masa 1000 hari pertama kehidupan. Tidak lagi menjadi masa kritis untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, periode ini tetap perlu diperhatikan karena masih terjadi pertumbuhan dan perkembangan penting anak, terutama pada perkembangan otaknya.

Tumbuh kembang anak setelah berusia 2 tahun

Perkembangan otak anak masih berjalan pada saat ini sampai anak berusia 8 tahun. Ini masih merupakan periode kritis dari berbagai perkembangan keterampilan kognitif, motorik, dan emosional anak, serta pertumbuhan fisik anak. Walaupun ada beberapa pertumbuhan dan perkembangan anak yang berjalan lebih lambat setelah usia 2 tahun.

Saat memasuki usia dua tahun, pertambahan berat badan anak menurun menjadi sekitar 0,2 kg/bulan, sampai usianya menginjak lima tahun. Sedangkan, tinggi badan anak saat usia dua tahun baru mencapai 75% dari panjang badannya saat lahir. Tinggi badan anak akan menjadi dua kali panjang badannya saat lahir pada usia sekitar empat tahun.

Dari segi keterampilan, anak usia lebih dari dua tahun sudah banyak memiliki keterampilan, seperti berjalan, berlari, menggunakan toilet sendiri, makan sendiri, minum sendiri menggunakan gelas, dan lainnya. Pada usia ini, anak juga akan lebih banyak bertanya. Hal ini karena ia ingin lebih banyak tahu tentang lingkungan sekitarnya, dari sini ia akan belajar banyak hal. Tentu, hal ini juga mendukung perkembangan otaknya.

Kebutuhan gizi setelah anak berusia 2 tahun

Setelah anak berusia 2 tahun, pada umumnya semua anak sudah lepas dari ASI, serta digantikan dengan susu formula. Anak pun sudah lebih banyak mengonsumsi makanan padat, didukung oleh gigi anak yang sudah banyak dan kemampuan makan anak yang makin berkembang.

Walaupun laju pertumbuhan anak melambat setelah usia dua tahun, namun kebutuhan nutrisi anak tetap harus dipenuhi. Nutrisi tetap menjadi nomor satu yang harus diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dilansir dari Kids Health, balita pada umumnya membutuhkan sekitar 1000-1400 kalori per hari. Kalori ini bisa diperoleh dari makanan sumber karbohidrat (nasi, mie, roti, pasta, kentang), protein hewani (ikan, ayam, daging), protein nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan), sayuran, dan buah-buahan. Kelima jenis makanan ini sebaiknya selalu ada di piring anak setiap makan.

Tak ketinggalan, susu juga menjadi salah satu bagian penting dari kebutuhan nutrisi anak. Mengapa? Hal ini karena susu mengandung kalsium dan vitamin D yang baik untuk membantu perkembangan tulang anak yang sehat. Namun begitu, susu juga mengandung lemak dan gula yang tinggi. Sehingga, bagi anak yang kelebihan berat badan, Anda mungkin bisa menawarkan susu rendah lemak atau bebas lemak untuk anak.

Selain itu, susu umumnya mengandung zat besi yang rendah. Terlalu banyak konsumsi susu tanpa diimbangi dengan makanan padat lainnya dapat menempatkan anak pada risiko kekurangan zat besi. Untuk mencegah hal ini, ada baiknya konsumsi susu dibatasi, cukup 2-3 botol saja per hari. Tidak lupa juga untuk memberi anak berbagai macam makanan sehat dan bergizi.

Baca Juga:

Sumber
Arinda Veratamala, S.Gz Gizi Ibu dan Anak

Arinda Veratamala adalah ahli gizi lulusan program studi Ilmu Gizi dari Universitas Indonesia. Bakatnya di bidang penulisan mendorongnya untuk menelurkan buku berjudul “Gizi Anak dan Remaja” bersama dengan kedua dosennya di 2017.

Kecintaannya pada dunia gizi, terutama gizi untuk ibu, bayi, anak, sampai remaja, membuatnya ingin terus menghasilkan karya tulisan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Hal ini karena ia sadar bahwa fase ibu dan anak adalah fondasi awal untuk menciptakan generasi yang hebat.

Selengkapnya