Panduan Seputar Kebutuhan Protein untuk Balita Usia 2-5 Tahun

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Makanan yang mengandung karbohidrat seringkali lebih disukai anak-anak karena membuat lebih cepat kenyang dibanding protein. Padahal, protein memiliki peran untuk pertumbuhan sel di dalam tubuh. Kebutuhan protein balita bisa didapat dari berbagai produk hewani dan nabati. Berikut penjelasan lengkap seputar kebutuhan protein pada anak.

Mengapa kebutuhan protein sangat penting untuk balita?

Dikutip dari laman Food Insight, protein berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Protein berperan sebagai pembentuk sel dalam tubuh, hormon, perkembangan otak, sistem kekebalan tubuh, sampai pertumbuhan struktur pendukung tubuh seperti otot, kolagen, dan rambut.

Selain itu, protein dan asam amino sebagai salah satu komponen di dalamnya berfungsi menjaga keseimbangan hormon, enzim dan ‘kendaraan pengangkut’ untuk nutrisi lainnya.

Inilah yang membuat protein sangat dibutuhkan untuk balita demi perkembangan yang tetap sehat sampai dewasa nanti. 

Seberapa banyak kebutuhan protein untuk balita usia 2-5 tahun?

Melihat penjelasan betapa pentingnya kebutuhan protein untuk balita, perlukah orangtua memberi banyak makanan tinggi protein? Tunggu dulu. Pasalnya, jumlah protein yang dikonsumsi oleh balita harus disesuaikan dengan berat badan si kecil.

Memang seiring bertambahnya usia, pertumbuhan anak tidak secepat dulu dan jumlah protein yang dibutuhkan juga berkurang. 

Namun, melihat tinggi dan berat badan balita yang semakin bertambah, kebutuhan total kalori dan protein anak juga lebih tinggi.

Ini sebagai bekal penting untuk membantu produksi hormon yang penting untuk perkembangan anak ketika remaja nanti. Berikut tabel kebutuhan protein balita yang bisa menjadi acuan berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) 2013:

  • Balita usia 1-3 tahun: 26 gram
  • Balita usia 4-6 tahun 35 gram

Untuk meningkatkan konsumsi protein si kecil, jangan lupa untuk meningkatkan kualitasnya dari sumber makanan yang dipilih. Protein digunakan tubuh untuk menambah energi, memelihara massa otot, dan produksi hormon. 

Hal yang penting untuk diingat yaitu tetap memberikan menu makanan tinggi protein yang sehat dan sesuai kebutuhan gizi balita. Menu makan si kecil harus rendah lemak jahat, kolesterol, gula, dan garam. 

American Heart Association mengingatkan orangtua untuk menghindari memberi makan berlebihan pada balita. 

Jenis protein yang bisa memenuhi kebutuhan gizi balita

Kebutuhan protein balita bisa dipenuhi dari beberapa jenis makanan, yaitu produk hewani dan nabati dengan kadar yang berbeda.

Kandungan protein di dalam produk hewani lebih tinggi, beberapa jenisnya seperti susu, telur, daging, ayam, dan makanan laut.

Sementara untuk produk nabati, seperti kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian, kandungan proteinnya lebih rendah. Berikut penjelasan seputar jenis protein yang bisa memenuhi kebutuhan gizi balita.

Susu dan produk olahannya

Sumber protein pertama yang bisa memenuhi kebutuhan gizi balita adalah susu dan berbagai produk olahannya. Susu merupakan sumber protein yang sangat baik untuk anak. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan anak usia di atas 2 tahun mengonsumsi susu murni yang sudah melalui proses pasteurisasi. 

Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, dalam satu gelas susu 100 ml terkandung protein 3.2 gram dan 61 kalori. Tidak hanya itu, susu juga tinggi kalsium sebanyak 143 miligram dan lemak sebesar 3,5 gram.

Selain susu, makanan seperti keju juga mengandung protein yang cukup tinggi dan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi balita. Dalam 100 gram keju mengandung 22,8 protein, 326 kalori, dan 20,3 gram lemak.

Meski susu baik untuk kesehatan si kecil, tidak sedikit anak yang kurang menyukainya. Anda bisa berkreasi dengan mengolah atau memberikan produk olahan susu menjadi kudapan yang menggugah selera.

Anda bisa mencampurkan makaroni dan keju sehingga menjadi makaroni skotel atau mac and cheese. Pada menu tersebut terdapat susu dan keju yang mengandung protein tinggi untuk kebutuhan tumbuh kembang balita. 

Menu lainnya yang bisa dicoba yaitu menjadikan susu sebagai bahan membuat puding cokelat (atau yang sesuai kesukaan si kecil) ditambahkan fla sebagai pemanis.

Telur

Protein yang satu ini cukup mudah ditemui dan didapatkan karena bisa dibeli di warung terdekat. Telur merupakan makanan tinggi protein dan sangat bermanfaat untuk kesehatan anak-anak sampai orang dewasa.

Satu butir telur mengandung vitamin, mineral, lemak sehat, antioksidan, dan nutrisi lain untuk otak anak yang sangat dibutuhkan tubuh.

Sebenarnya satu butir telur memang tinggi protein, tapi paling tinggi terkandung dari putih telur. Satu butir telur ayam kampung mengandung 10,8 gram protein. Sementara telur ayam ras mengandung 16,3 gram protein dan 31,9 gram lemak. 

Ikan

Beberapa jenis makanan laut memang berisiko terkontaminasi merkuri. Namun, banyak juga jenis ikan yang baik untuk kesehatan balita.

Jenis ikan ini misalnya nila, salmon, kembung, lele, bawal, dan tuna. Anda bisa membuat menu makanan dengan memanggang selama 10 menit dengan suhu 205 derajat celsius atau sampai lapisan ikan kering. 

Sementara itu, 100 gram ikan tuna mengandung 39 gram protein dan hanya mengandung 179 kalori. Ikan tuna mengandung lemak omega 3 yang sangat baik untuk perkembangan otak balita dan mencukupi kebutuhan protein yang diperlukan.

Ikan tuna termasuk jenis ikan yang sangat populer di Indonesia dan mudah ditemukan. Oleh karenanya, ikan tuna bisa didapat dengan mudah di pasar tradisional terdekat.

Udang

Makanan laut seperti udang dan cumi-cumi juga termasuk dalam sumber protein yang baik untuk balita. Udang merupakan makanan laut yang rendah kalori tapi tinggi nutrisi.

Berbagai nutrisi yang terkandung di daalam udang misalnya vitamin B12 dan selenium. Selenium merupakan jenis mineral yang baik untuk fungsi kognitif (perkembangan otak) dan membantu sistem kekebalan tubuh. Dalam 100 gram udang, biasanya mengandung 21 gram protein, 0,2 gram lemak, dan 91 kalori.

Brokoli

Sayuran hijau ini tinggi vitamin C, vitamin K, serat, dan protein. Dalam 96 gram brokoli mengandung 3 gram protein dengan 31 kalori.

Brokoli juga tinggi nutrisi bioaktif yang bisa melawan kanker. Dibanding sayuran lain, brokoli untuk anak termasuk jenis sayuran yang dengan kandungan protein yang sangat tinggi untuk kebutuhan balita dan orang dewasa.

Membuat si kecil menyantap sayuran memang tidak mudah. Anda perlu membuat kreasi menu agar brokoli menarik dan lezat di mata anak.

Anda bisa membuat tumis brokoli jamur dengan campuran daging cincang. Tambahkan wortel untuk menambah nutrisi si kecil dan membuat penampilan menu makanan lebih menarik.

Dada ayam

Tekstur dagingnya mungkin kurang menarik dan sangat berserat. Akan tetapi, dada ayam mengandung protein yang lebih tinggi dibanding bagian lain. Dalam 100 gram dada ayam mengandung 34,2 gram protein, 298 kalori, dan hanya 16,8 gram lemak.

Agar tidak terlalu berserat dan sulit dikunyah, Anda bisa memasak dada ayam menjadi sop, ayam suwir bumbu kecap, atau ayam panggang.

Pastikan Anda mendampingi si kecil agar ia tidak tersedak ketika makan dan kebutuhan protein balita tetap terpenuhi dengan baik.

Kacang

Meski termasuk dalam kelompok protein nabati yang kadarnya lebih rendah dibanding hewani, kacang juga penting dalam asupan kebutuhan nutrisi balita.

Kacang mengandung serat, magnesium, dan protein yang bagus untuk kesehatan anak dan membuatnya lebih cepat kenyang. Dalam 28 gram kacang, terkandung 7 gram protein dengan 159 kalori.

Bila Anda tidak ingin memberi kacang dalam kondisi utuh pada si kecil, bisa menyajikannya dalam bentuk selai kacang atau makanan seperti gado-gado.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal ASI: Jenis, Warna, Kandungan, dan Kebutuhan Harian untuk Bayi

Ada beberapa jenis ASI dengan warna, kandungan, hingga tekstur kental dan cair yang berbeda. Sudah tahukah apa perbedaan dan berapa kebutuhan ASI bayi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 16 Oktober 2020 . Waktu baca 14 menit

Mengenal Ferritin, Protein Penentu Kadar Zat Besi dalam Tubuh

Tes ferritin menjadi salah satu pemeriksaan anemia untuk mengetahui kadar zat besi dalam tubuh. Apa yang harus dilakukan bila hasilnya abnormal?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Anemia, Penyakit Kelainan Darah 2 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Peran Penting Nutrisi dalam Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Nutrisi memiliki peran penting membantu pertumbuhan tinggi badan anak. Simak selengkapnya dan cari tahu standar tinggi badan anak Indonesia di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
asupan nutrisi yang baik membantu pertumbuhan tinggi badan anak
Parenting, Nutrisi Anak 1 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Kwashiorkor, Masalah Gizi yang Ditandai dengan Rambut Berwarna Kuning Seperti Jagung

Kwashiorkor adalah kondisi kurang gizi pada anak yang bisa mengakibatkan kematian bila tidak segera ditangani. Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 29 September 2020 . Waktu baca 14 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat tempe

5 Manfaat Makan Tempe Bagi Kesehatan

Ditulis oleh: Gadis Rima Astari
Dipublikasikan tanggal: 29 November 2020 . Waktu baca 3 menit
vitamin untuk anak

Agar Tidak Keliru, Ketahui Aturan Pemberian Vitamin untuk Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 November 2020 . Waktu baca 10 menit
antibodi bayi dari sang ibu

Pentingnya Persiapkan Daya Tahan si Kecil Sebelum dan Sesudah Lahir

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit