Seberapa Efektif Terapi Applied Behaviour Analysis (ABA) untuk Anak Autisme?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 2 April 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sudah ada banyak terapi yang dapat digunakan untuk membantu anak dengan autisme. Salah satunya adalah terapi ABA (Applied Behaviour Analysis). Seberapa efektifkah terapi autisme ABA ini?

Apa itu terapi ABA?

Autisme adalah kelainan perkembangan otak anak yang menyebabkan gangguan dalam interaksi sosial, gangguan fokus, hingga gangguan kemampuan bahasa dan berkomunikasi. Tingkat keparahan autisme bisa bervariasi, mulai dari yang paling ringan sampai berat, sehingga anak memerlukan perhatian khusus.

Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) adalah program terapi terstruktur yang berfokus mengajarkan seperangkat keterampilan khusus untuk anak-anak dengan autisme. Terapi ini mengajarkan anak autisme untuk memahami dan mengikuti instruksi verbal, merespon perkataan orang lain, mendeskripsikan sebuah benda, meniru ucapan dan gerakan orang lain, hingga mengajarkan baca tulis.

Penelitian menunjukan bahwa terapi ABA dapat memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan kemampuan sosial dan akademik anak autisme. Selain itu, terapi autisme ini juga bertujuan untuk:

  • Meningkatkan keterampilan perawatan diri
  • Meningkatkan keterampilan bermain
  • Meningkatkan kemampuan anak untuk mengelola perilaku mereka sendiri

Seperti apa cara melakukan terapi ABA?

Terapis anak Anda pertama-tama akan mengamati anak untuk melihat sejauh apa kemampuan yang dimilikinya dan kesulitan yang dimilikinya. Kemudian ia akan menentukan tujuan spesifiknya, misalnya tujuan obyektif terapi ABA anak Anda adalah agar bisa menatap mata orang yang mengajaknya bicara. Terapis juga akan menentukan ukuran obyektifnya, seperti seberapa banyak jumlah tatapan mata anak dalam 10 menit mengobrol.

Untuk mencapai tujuan ini, terapis akan merancang rencana teknis serinci mungkin terkait aktivitas anak selama terapi. Misalnya untuk membuat anak sukses membangun kontak mata, ia akan:

  • Duduk berhadapan sejajar dengan anak, bersama dengan asisten terapis yang biasanya ada di belakang anak.
  • Sepanjang terapi memanggil nama anak sambil memegang benda yang menarik (pancingan). Benda itu akan diletakkan sejajar dengan mata terapis bertujuan memancing anak untuk melihat ke arah mata terapis.
  • Terapis akan memanggil nama anak sambil mengatakan kalimat perintah sederhana. Contohnya, “Mira, lihat” sambil tangannya mengarahkan pancingan sejajar dengan mata. Tujuannya agar anak melihat ke arah mata terapis.
  • Terapis akan terus mengatakan “Mira lihat” hingga sang anak membangun kontak mata dengan terapis secara spontan.
  • Setiap respon tidak sesuai yang dilakukan oleh anak akan direspon dengan terapis dengan menjawab “tidak” atau dengan menyebut nama anak “Mira, tidak”.
  • Jika anak sudah bisa membangun kontak mata, maka terapis akan memberikan pujian-pujian pada anak. Misalnya “ Mira hebat, Mira pintar sekali”. Terapis akan mengulang ulang berbagai macam pujian ketika anak berhasil melakukan apa yang ditargetkan.

Tatapan mata anak yang dilihat terapis akan dijadikan sebagai pengukuran objektif; sudah seberapa jauh perubahan yang ditampilkan oleh anak dalam melakukan kontak mata.

Jika anak sudah berhasil membangun kontak mata, terapis akan melanjutkan terapi dengan tujuan yang baru. Misalnya untuk membuat si anak membalas dengan “ya” ketika namanya dipanggil atau melatih kemampuan motoriknya untuk menangkap bola atau minum dengan gelas. Semakin banyak yang dipelajari, maka akan semakin kompleks tugas yang diberikan terapis untuk anak.

Dari hal-hal kecil ini nantinya akan terkumpul perilaku yang utuh. Semakin banyak kemampuan baru yang dipelajari, maka akan semakin lengkap kemampuannya untuk berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

Di akhir sesi terapi, terapis anak Anda akan mengevaluasi kelancaran program tersebut dan membuat perubahan jika dibutuhkan.

Siapa yang berhak memberikan terapi autisme ABA?

Terapi autisme ABA bukanlah program sembarangan. Program ini harus dilakukan oleh orang yang memang sudah bersertifikasi sebagai terapis perilaku dan memiliki pengalaman luas bekerja sama dengan anak pengidap autisme. Guru, orangtua, dan tenaga profesional kesehatan lainnya juga sebenarnya dapat melakukan pengajaran langsung terhadap anak ASD, namun diperlukan pelatihan terlebih dahulu sebelumnya.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Bahan Kimia Kosmetik Tingkatkan Risiko Autisme pada Janin?

Studi temukan bahwa bahan kimia tertentu dalam kosmetik bisa meningkatkan risiko autisme. Namun, benarkah demikian? Yuk, baca di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Tips Membantu Anak dengan Autisme Menghadapi Karantina COVID-19

Karantina selama pandemi COVID-19 dapat menimbulkan stres dan rasa cemas, terutama pada anak dengan autisme. Ini cara membantu mereka.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu Lestari
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 April 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Ciri dan Gejala Autisme pada Bayi yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Autis (autisme) pada bayi sulit untuk didiagnosis karena ciri-ciri yang timbul nampak samar. Memang, seperti apa saja gejala autis pada bayi? Simak di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Perkembangan dan Perilaku, Kesehatan Anak, Parenting 8 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Jenis Terapi Perilaku untuk Anak dengan Autisme

Terapi perilaku anak autis sudah digunakan sejak lama untuk membuat anak menguasai keterampilan baru. Apa saja jenis terapi perilaku tersebut?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Gangguan Perkembangan dan Perilaku, Kesehatan Anak, Parenting 9 Desember 2019 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sensory processing disorder

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
mencegah autisme saat hamil

Bisakah Mencegah Autisme Sejak Anak dalam Kandungan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
down syndrome sindrom down

Down Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Anak Penyandang Autisme Lebih Riskan Mengalami Gangguan Makan, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 6 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit